
"S-saya....... Saya tidak tau Tuan" dan hanya itulah yang keluar dari bibir sang asisten.
"Ck, kau ini. Aku ingin meminta pendapat mu" Eza berdecak.
Rafa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, menikah bukanlah perkara yang mudah, apalagi Rafa sangat tau bagaimana nasib pernikahan Eza sebelumnya, dan kalau Eza menikah kembali karena suatu paksaan atau desakan, ia tidak bisa menjamin kehidupan yang lebih baik kedepannya.
"Anu, Tuan...... Saya bukannya tidak mau berpendapat. Hanya saja...."
"Apa?" Tak sabaran.
"Pernikahan tanpa cinta bukan sesuatu yang bagus, bertepuk sebelah tangan saja rasanya sudah seperti neraka kalau terus dijalani. Apalagi.... kalau tidak ada cinta diantara keduanya. Anda, mengerti maksud saya kan?" Takut-takut Rafa menjawab.
Eza merenungkan ucapan Rafa dengan seksama, bukan tanpa alasan pria itu mengatakan demikian, Rafa jelas tau apa penyebab utama kandasnya pernikahan Eza yang dulu.
Cinta?
Haruskah semua dilakukan dengan cinta? Apa dampaknya kalau tidak dibarengi dengan yang satu ini? Akankah bernasib sama atau bisa lebih buruk lagi?
"Sebaiknya Anda bicarakan dengan Nona Adira dulu, mungkin saja beliau berpikiran sama dengan orang tua anda. Harus ada kesepakatan yang terjalin lebih dulu, tetapi kalau salah satu diantara kalian ada yang keberatan. Lebih baik jangan diteruskan, itu pendapat saya" tutur Rafa mengutarakan apa yang menurutnya yang terbaik.
"Tapi bagaimana kalau dia sudah punya kekasih?" Masih belum selesai kebimbangan di hatinya.
"Kekasih?"
"Aku tidak tau pasti, tapi anggap saja sekarang dia punya. Apa itu sama saja dengan merebut wanita orang?!" Gundahnya.
Rafa menarik nafas dalam sembari berpikir ulang tentang apa yang baru saja ditanyakan oleh Eza.
"Tuan, kalau memang kita sebagai laki-laki serius dalam meminang seorang wanita, tidak ada yang salah mau wanita itu sudah memiliki kekasih atau tidak. Asalkan jangan wanita yang sudah berstatus sebagai istri orang, itu yang salah. Tetapi kalau baru sebatas kekasih, boleh-boleh saja kalau mencoba untuk melamarnya, siapa cepat dia dapat, asal niat kita memang baik" ujar Rafa sedetail mungkin, memberi Eza sedikit pengetahuan seputar pernikahan meski dirinya sendiri belum memiliki pengalaman menikah.
Eza seketika duduk dengan tegap, menerawang jauh setelah mendengar penuturan asistennya. Hatinya dibuat tak karuan, namun yang pasti ada secercah cahaya yang muncul ditengah-tengah kegelapan yang melanda.
***
Malamnya, Eza sengaja terjaga menunggu orang-orang di rumah masuk ke dalam kamar masing-masing dan memastikan mereka tak akan keluar setelah ini.
Pukul sepuluh malam Eza terlihat masih duduk di sofa ruang tengah sembari menggosok-gosok kedua telapak tangan guna menghilangkan rasa gugup yang tengah dirasa.
Beberapa kali Eza menatap ke arah pintu kamar anak, seperti ada sesuatu yang mengganjal dan ingin ia selesaikan saat itu juga.
Sebab itulah Eza bangkit lalu menghampiri kamar tersebut.
Ia berdiri sambil memejamkan kedua mata, meyakinkan diri sebelum akhirnya Eza mengetuk pintu kamar.
Tok! Tok!
__ADS_1
Eza meremass celananya ketika pintu kamar tak kunjung dibuka, apakah dia sudah tidur? Pikir Eza.
Tak mau menyerah, Eza memutuskan untuk mengetuk pintu lagi.
Tetapi ketika tangannya baru saja terangkat pintu pun dibuka dari dalam.
Clekkk!
Adira dibuat terkesiap ketika mendapati Eza di depan kamar dengan lengan menggantung di udara, mau apa dia? Adira dalam hati. Tetapi perempuan itu tetap memasang wajah datar.
Eza seketika salah tingkah, ia mendadak hilang ingatan akan tujuannya.
"Elvis sudah tidur" seru Adira tanpa bertanya terlebih dahulu, lagipula apalagi kalau bukan untuk bertemu Elvis.
Eza pun tersadar kembali, jangan menyia-nyiakan waktu lagi, malam ini ia harus menyelesaikan semuanya!
"Biarkan saja, aku kemari.... Untuk berbicara denganmu" imbuhnya membuat Adira mengernyit.
"Bicara apa?" Tanpa basa-basi.
"Jangan bicara diambang pintu seperti ini, aku mau masuk" ujar Eza.
Adira tak bisa menolak, ia lantas minggir memberikan Eza jalan.
Adira ragu untuk itu, tapi si Tuan rumah sudah memberi perintah, lebih cepat lebih baik agar ia bisa segera ikut Elvis tidur.
Eza duduk di sofa tunggal yang berada disana, sedangkan Adira duduk di tepi ranjang yang menghadap langsung ke arah sofa.
Beberapa saat suasana hening namun begitu mencekam, Eza bingung harus memulai dari mana, Haruskah ia basa-basi dulu atau langsung ke inti pembicaraan?
"Soal kemarin......"
"Jangan diambil hati" sambung Eza, mengepalkan kedua tangannya. Hah! Kenapa ia malah bicara seperti itu.
Adira menatap malas, ia pikir ada hal yang lebih penting dari ini.
"Soal Elvis, terserah kau mau tetap disini atau tidak. Tapi satu hal, Elvis tidak akan mau jauh darimu" berharap Adira mengerti maksud ucapannya.
Tak ada sahutan apapun dari Adira, membuat Eza curiga kalau Adira tidak menganggap ucapannya serius.
"Kau mendengar ku?!"
"Ya, Tuan. Teruskan saja...." Adira dengan santai.
Eza manggut-manggut, kemudian mulai melanjutkan pembicaraan.
__ADS_1
"Satu lagi...."
"Apa kau..... Memiliki kekasih?"
Akhhhhhh....... Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku! Sialannn....
Adira memicingkan mata begitu mendengar pertanyaan Eza, tak bisa menutupi keterkejutan ketika tiba-tiba Eza menanyakan hal yang diluar dugaan.
"Apa pertanyaan anda ada hubungannya dengan Elvis?" Tak langsung menjawab secara blak-blakan.
"Apa yang aku pertanyaan sekarang bukan karena aku penasaran tentang kehidupan mu, semua ini ada kaitannya dengan Elvis, aku, bahkan kau!" Jelas Eza.
"Jadi jawab saja"
"Maaf Tuan, tapi saya harus tau dulu apa kaitannya? Tolong beritahu saya secara mendetail"
"Hufttt... Kau ini keras kepala juga ya! Tinggal jawab saja apa susahnya? Baiklah, aku ganti pertanyaannya" ketus Eza sebal.
"Apa di Malang, ada laki-laki yang sedang menunggu kepulangan mu?" Masih dalam arti yang sama.
Adira masih membisu meski pertanyaan ini sedikit menjebaknya. Pertanyaan Eza mengingatkan Adira pada seseorang yang terakhir kali bertukar pesan dengannya sewaktu masih di Malang. Tetapi ia sendiri tidak begitu menganggapnya serius.
Melihat ekspresi serta gelagat Adira, Eza pun bisa menyimpulkannya sendiri.
"Jadi memang ada ya" gumam Eza.
Adira menatap kembali pada lelaki di depannya.
"Jangan asal menebak!"
"Habisnya kau tak mau menjawab, lagipula itu memang benar kan?"
"Saya bahkan belum menjawab" tak mau terpancing.
Ternyata firasat ku benar, ada yang menunggunya disana. Jadi itu penyebab dia ingin kembali? Aku semakin tidak yakin dengan keputusan yang tadinya mau aku ambil.
Sangat kecil kemungkinan dia akan menerimanya, tau begini aku tidak perlu repot-repot memikirkannya dari kemarin, kini aku sudah tau jawabannya.
"Anda sedang merencanakan sesuatu?" Ujar Adira was-was, sebab Eza diam cukup lama.
Eza mendongak, ia menggeleng lalu bangkit dari sofa.
"Tidak, aku rasa pembicaraan kita sudah cukup. Tidurlah...." Eza pun berlalu dari sana meninggalkan Adira yang masih dikerumuni sejuta kebingungan.
"Ish... Apa coba maksudnya!"
__ADS_1