MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 89


__ADS_3

"Tunggu dulu! Apa ini...?" Eza mencoba meraih, namun lengannya tak sampai.


"Ada apa, mas?"


"Turun dulu, sayang. Aku mau mengambil benda yang ada di bawah kursi ini"


Adira pun turun dari pangkuan sang suami, membiarkan Eza menjangkau benda yang entah apa itu.


Kepala Eza menempel di keramik lantai, sesuatu yang tidak asing kini terlihat dengan jelas, Eza segera mengambilnya.


Dan sebuah koper uang berhasil di dapat Eza dengan keadaan telah berdebu.


"Ini--" Eza terkesiap, benda yang tak asing ini merupakan koper yang dulu ia beri pada Adira ketika mengambil Elvis.


"Kenapa ditaruh disini?" Lanjutnya memandang sang istri yang juga tertegun melihat koper uang yang ada di bawah kursi tamunya selama ini.


"Aku tidak tau koper itu ada di bawah kursi, aku juga tidak merasa pernah menyimpannya disana"


"Lalu siapa yang menaruh benda ini?"

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak ingat. Aku juga lupa kalau mas pernah memberikan uang dalam koper tersebut" ungkap Adira.


"Jadi kau tidak pernah memakai uang ini?"


"Tidak" menggeleng cepat.


Eza tercengang, uang sebanyak ini bisa-bisanya dilupakan, orang yang lebih kaya dari Adira pun pasti tergiur dengan nominal uang tersebut.


"Walau aku ingat pun aku tidak mau memakainya" sambung Adira.


"Kenapa?" Heran Eza.


Seketika Eza merasa telah menjadi orang yang paling jahat di dunia, bayangan saat ia melempar koper ini hingga isinya berhamburan, meremehkan Adira bak orang rendah yang gila harta, merasa wanita itu akan senang bila semua jerih payahnya membesarkan Elvis dibayar dengan uang.


"Maaf..... Maafkan aku......" Lirih Eza menunduk sesal.


"Mas, jangan mengingat itu lagi. Aku sudah berusaha melupakannya" Adira segera mendekat, mengangkat wajah Eza serta meyakinkan sang suami jika itu hanyalah masa lalu.


"Lupakan, aku tidak mau bersedih lagi... Biarkan semua itu berlalu, masalah uang ini mas bisa ambil lagi, aku hanya akan menerima uang pemberian mas atas dasar nafkah lahir saja, tidak yang lain"

__ADS_1


"Aku menyesal Ra... Saat ini aku sadar jika semua yang telah kau lakukan untuk Elvis tak bisa dibayar dengan uang, bahkan nyawa ku sekalipun. Maaf telah merendahkan mu..." Imbuh Eza berkaca-kaca.


Adira tersenyum hangat, ia lantas memeluk suaminya yang tak berhenti mengatakan kata maaf sejak kemarin.


"Sudahlah mas, aku memaafkan semua kesalahan mas. Kita kan sudah janji mau memulainya dari awal, jadi lupakan yang sudah-sudah"


Adira mengurai lagi pelukan mereka, ia menghapus cairan disudut mata Eza, lelaki pemarah yang dulu sangat gila hormat kini terus merengek-rengek meminta maaf, Adira tak menyangka telah menjinakkan singa ganas ini.


Untuk melupakan semua kesedihan Eza, Adira mencium bibir pria itu duluan, melanjutkan kegiatan yang tertunda akibat sebuah koper yang ditemukan Eza.


Eza tentu tak menolak serangan sang istri, apalagi Adira dalam keadaan setengah te lan jang, mana mungkin Eza menghentikan aktivitas panas mereka.


"Mau lanjut di kamar?" Melepas ciuman sesaat.


"Tidak, disini saja" jawab Eza, mengangkat tubuh Adira dan membaringkannya di atas sofa.


Melepas semua sisa pakaian yang masih melekat, hingga suara jeritan kecil pun terdengar kembali.


Lagi-lagi nasib koper itu pun terabaikan untuk yang kedua kali.

__ADS_1


__ADS_2