
Adira merasa plong setelah mengungkapkan perasaannya pada Rendy, bahwa ia tak bisa menjalin hubungan kini ataupun nanti dengan pria itu.
Walau Adira sendiri belum mengutarakan perasaan yang sesungguhnya kepada Eza, setidaknya ia sudah mengakui pada dirinya sendiri.
Adira menyandarkan kepala di bahu sang suami, perjalanan di atas awan membuat Adira mengantuk.
"Tidurlah, kau belum tidur sejak kemarin"
"Hemm... Gara-gara mas, buat aku bergadang"
Eza cekikikan mengingat kelakuannya sendiri, lagian mana bisa ia membiarkan Adira begitu saja, Eza tak akan menyia-nyiakan waktu ketika mereka hanya berdua.
"Malam ini kau bisa tidur lebih awal" seru Eza.
"Kenapa? Tumben" Adira heran.
"Aku tak yakin bisa mengajakmu begadang kalau ada Elvis, anak itu tak akan membiarkan aku leluasa bersama mu" ungkap Eza.
"Hihihi.... Kalian memang harus saling berbagi, mau bagaimana pun pernikahan kita sudah ada Elvis ditengah-tengahnya. Jadi ya... Terima saja"
Eza mengerucutkan bibirnya, nasib memang... Menjadi pengantin baru saja sudah banyak halangan nya.
"Sepertinya aku harus tambah istri lagi" seloroh Eza, membuat Adira melotot dan menjauhkan tubuhnya.
"Ya sudah, aku kembali saja pada mas Rendy kalau begitu" ancam Adira.
__ADS_1
Mendengar itu Eza pun panik, ia langsung mendekap Adira seolah wanita itu akan pergi detik itu juga.
"Enak saja, kau tidak akan bisa menjadi milik siapapun kecuali aku!" Eza mengecam.
"Cih, tadi bilangnya mau cari istri baru. Ya sudah sana kalau tidak butuh aku lagi" Adira merajuk, memalingkan muka ke jendela pesawat.
Tapi kali ini Eza tidak merasa takut, ucapan Adira terdengar seperti seseorang yang sedang cemburu, intonasinya pun sama seperti wanita yang marah ketika prianya menyebut nama wanita lain.
"Kau cemburu?" Mendongak untuk melihat ekspresi sang istri.
"Tidak!" Bantahnya kilat.
"Aku tau kau cemburu" tuding Eza.
"Sudah ku duga, kau cemburu artinya kau juga mencintaiku. Iya kan?"
Adira tak menjawab, dasar manusia ini amat sangat tidak peka, sudah tau pakai nanya segala. Huh!
"Tak mau menjawab?"
Hening.
Tak ada sahutan, Adira masih enggan menatap suaminya.
Tetapi sedetik kemudian Eza mengapit dagunya dan langsung mencium bibir Adira, memberi sihir yang akan membuat wanita itu luluh tanpa perlawanan.
__ADS_1
Sampai Eza melepas pangutan itu, Adira hanya diam dengan tatapan teduh tak seperti sebelumnya.
"Aku akan menunggu.... Sampai kau siap mengatakannya" Eza bersuara.
Adira lebih memilih menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, padahal tinggal mengakui saja tetapi rasanya sangat sulit. Adira ingin mengungkapkannya di tempat dan suasana yang berkesan.
Eza tak mau memaksa, ia juga tidak ingin terlalu kepedean, yang ada ia pasti merasa dibohongi, toh Adira juga tidak akan meninggalkannya.
"Aku merindukan Elvis" ujar Adira melompat dari topik pembahasan.
"Aku juga, dia pasti lebih merindukan mu" sahut Eza, mengelus serta rambut hitam wanitanya.
"Bukan aku, tapi kita" Adira mengoreksi.
"Aku ragu soal itu"
"Dia bahkan masih memanggil ku Om sampai sekarang"
Adira mengerti, sejauh ini Elvis belum terlalu dekat dengan Eza, hubungan mereka justru kian tak ada perkembangan. Apalagi akhir-akhir ini mereka seperti musuh bebuyutan yang sedang memperebutkan wanita yang sama.
"Habisnya mas sering membuat dia kesal, dia jadi ilfeel jadinya"
"Entahlah, akhir-akhir ini aku jadi lebih ingin berdekatan dengan ibunya dari pada anaknya sendiri" tutur Eza.
"Haisss... Mas ini"
__ADS_1