MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 58


__ADS_3

Eza tercengang dengan kata-kata sarkas Adira, dari mana nyali wanita ini datang, tiba-tiba berbicara seperti itu, membuat Eza cemas.


"Apa maksud mu? Dia juga putra mu, kan?" Tak mau merasa tersudut.


"Tapi kan Anda sendiri yang bilang bahwa saya harus sadar dengan status saya jika diantara kami berdua tak ada ikatan darah sedikit pun" tak ingin kalah dari Eza.


Eza tercekat seolah tertampar dengan ucapan Adira yang mengingatkannya pada perkataan Eza sendiri tempo lalu.


"I-itu....." Eza kelabakan tak mampu membalas wanita di depannya.


"Sudahlah, kita lupakan perkataanku yang dulu-dulu, sekarang aku akan mulai memikirkan permintaan Elvis dan mencoba mendengarkan apa yang dia inginkan. Jadi anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun"


Huh! Gampang sekali dia berkata seperti itu, menyebalkan!


Adira menggerutu dalam hati, tak pernah ia bertemu orang se menyebalkan Eza, membuatnya selalu naik darah dalam sekejap.


"Minggu depan kita menikah!" Ucap Eza meneruskan.


"APA???" Adira tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, ia spontan berteriak kencang, untunglah suasana sekitar belum ramai kalau tidak Adira pasti malu sebab semua orang akan menoleh ke arahnya.


"Aku tak mau menunda-nundanya lagi, aku pikir Minggu depan adalah waktu yang pas untuk kita melangsungkan pernikahan" lanjut lelaki itu.


Adira paham kalau ia dan Eza pasti akan menikah, tapi Adira tidak berpikir bahwa pernikahan itu akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Minggu depan? Bahkan itu belum cukup untuk mengurusi segala persiapan yang bahkan sama sekali belum ditentukan.


"Tidakkah ini terlalu cepat? Setidaknya, butuh berbulan-bulan untuk menyiapkan itu semua"


"Kita akan menikah sederhana saja, tak ada lamaran, ataupun pesta yang mengundang banyak orang. Semua dilaksanakan di rumahku, aku hanya akan mengundang keluarga dan teman dekat, begitu juga denganmu, kau boleh mengundang orang terdekat mu di Malang"


Seketika Adira termenung, mendadak hatinya mendung bak awan yang akan menurunkan hujan. Adira lupa, bahwa pernikahan ini bukanlah seperti pernikahan pada umumnya, bukan pernikahan yang dilandaskan atas dasar cinta, mereka menikah karena keadaan yang memaksa keduanya untuk bersatu, membuat Adira harus selalu mengingat hal itu.


"Beritahu kerabatmu dengan segera, dan juga tentukan siapa yang akan menjadi wali mu di pernikahan nanti" imbuh Eza sedikit hati-hati, ia tak mau menyinggung perasaan Adira sebab Eza tau kalau calon istrinya ini adalah seorang yatim piatu.


Dan benar saja, mata Adira nampak langsung berkaca-kaca, ia menahan kesedihan yang menguasai dirinya, menikah tanpa didampingi oleh orang tuanya sangat menyiksa batin Adira.

__ADS_1


"Semua sudah diurus oleh ibuku, dia sudah menghubungi WO untuk mempersiapkan semuanya, kita hanya perlu mempersiapkan diri menjelang hari H"


Adira hanya menyimak tanpa membalas, ia masih menahan air mata yang menggenang, Adira tak ingin menangis dihadapan Eza, itu membuatnya nampak terlihat lemah, dan Adira benci itu.


"Aku rasa sudah cukup pembahasan kita kali ini, aku harus berangkat sekarang ke kantor. Jangan lupa hubungi nomor rumah kalau butuh apa-apa" sambil menatap arlojinya Eza bangkit dari kursi, sedangkan Adira masih duduk seraya memalingkan pandangan ke sembarang arah.


"Kau tidak mau kembali ke depan kelas Elvis?"


"Tidak, duluan saja" lirih Adira serak.


Eza mengerti, ia pun berlalu dari sana meninggalkan Adira yang ingin menyendiri meluapkan kesedihan yang tengah dirasa.


Begitu Eza tidak terlihat lagi tangis Adira pecah saat itu juga, kepalanya tertunduk bertumpu pada kedua tangan yang terlipat diatas meja.


Seluruh rasa sesaknya menyeruak di tempat itu, sesuatu yang ia takutkan terjadi juga, membuka kembali luka yang Adira lem rapat-rapat, tetapi kini kembali menganga.


***


Eza terus melangkah ke ruang Presdir diikuti sang asisten dibelakang.


"Tadinya memang tidak, tapi kondisi di rumah sudah membaik seperti semula, jadi aku memutuskan untuk datang ke perusahaan" jelas Eza seraya menjatuhkan bookongnya di atas kursi kebesaran.


"Oh ya? Apa Nona Adira sudah pulang ke Malang?" Ujar Rafa penasaran.


"Tidak, dia tidak akan pulang ke kota itu"


Eza berhenti sejenak, menarik nafas dalam, kemudian berkata.


"Aku memutuskan untuk menikahinya...."


"APAAAA?!!" Spontan kaget, Rafa langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"M-maaf, t-tapi.... Apa Tuan tidak salah? Tuan memutuskan untuk menikah lagi?" Ulang Rafa ingin mendengarnya sekali lagi untuk meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.

__ADS_1


"Aku sudah yakin seratus persen! Tidak ada cara lain untuk mencegahnya, menikah adalah jalan terakhir yang kami ambil dan kami sudah sepakat untuk menikah Minggu depan"


"MINGGU DEPAN?!!" kembali terkejut, Rasanya ia mau pingsan akibat serangan jantung yang mendadak.


"Benar, lebih cepat lebih baik, bukankah begitu saran darimu?"


Rafa gelagapan, rasanya ia menyesal sudah menyarankan Eza dengan kalimat tersebut. Bukannya tidak mau atasannya ini menikah lagi, tapi Rafa khawatir saran darinya tidak berjalan mulus bagi kehidupan rumah tangga Eza nantinya, ujung-ujungnya ia juga yang kena batunya.


"Tapi Tuan apa anda sudah mengenal sosok Nona Adira lebih dalam? Maksud saya, apa anda sudah mencari tahu latar belakang Nona Adira, bagaimana karakternya, dan seperti apa masa lalunya. Selama ini kan Anda tidak mau terlalu jauh mengenal sosok Nona Adira, jangan sampai anda menyesal Tuan" takut-takut Rafa berucap.


Eza menyandarkan punggung dengan kepala yang menengadah ke atas, ia bahkan tidak tau kapan tanggal lahir Adira.


"Aku tidak peduli bagaimana latar belakang dan masa lalunya, yang penting aku menikahi wanita yang tidak sedang jatuh cinta pada laki-laki lain!" Balas Eza tak mau ambil pusing.


"Apa Nona Adira benar-benar tidak mencintai siapapun? Apa Tuan yakin?"


Tidak!


Bahkan Eza belum bertanya, karena ia yakin Adira tak akan menjawabnya. Eza hanya menyimpulkan dari jawaban Adira kalau dia tak memiliki kekasih saat ini, lagipula seluruh cintanya telah diberikan pada Elvis, Eza yakin Adira tidak mencintai siapapun kecuali bocah tujuh tahun itu.


"Aku yakin!" Eza dengan lantang.


Kalau dipikir-pikir Adira juga sudah sangat matang untuk menikah mengingat umurnya sudah memasuki kepala tiga, mungkin itu salah satu sebab Adira menerima permintaan Eza yaitu karena ngebet nikah, pikir Rafa berlogika, tidak ada salahnya siapa tau berangsur-angsur keduanya bisa menumbuhkan rasa cinta.


"Kalau memang seperti itu, selamat Tuan, saya harap pernikahan anda berjalan dengan lancar"


"Hmm... Untuk saat ini jangan beritahu dulu siapa-siapa, sebelum status ku benar-benar berubah, aku tak ingin ada yang tau"


"Siap Tuan! Serahkan pada saya"


"Bagus, kau boleh kembali ke ruangan mu"


"Baik, saya permisi Tuan"

__ADS_1


__ADS_2