
Malam ini Elvis ingin ditemani tidur oleh ibunya, anak itu mengajak Adira menuju kamar Elvis, mereka berbaring sama-sama di ranjang tersebut.
Adira membacakan cerita tidur atas permintaan Elvis, sampai dongeng itu selesai, Adira meletakkan buku di atas nakas.
"Belum mengantuk?"
"Belum" menggeleng kepala.
"Ya sudah kita tunggu papah saja"
"Om Eza mau tidur disini juga?" Mendongak pada Adira yang berbaring miring sambil menekuk sikunya.
"Papah, El. Bukan Om" mengoreksi.
"Heem... Iya iya" disertai raut wajah malas.
"Kenapa El masih tidak mau memanggil papah? Kasihan lho, dia kan Ayah El" memberi nasihat dengan nada lembut.
"Males aja, Om Eza pernah maksa El pergi dari Mama" ujar Elvis membahas alasan ia tak pernah mau memanggil Eza dengan sebutan Papah.
"Itu kan dulu sayang, sekarang El dan mama bisa seterusnya bersama-sama karena Papah kamu sudah bersedia menikahi Mama" imbuh Adira memberi pengertian.
Elvis masih membisu, sulit rasanya menyebut seseorang yang belum setahun dikenal, ia panggil dengan sebutan Papah.
"El coba dulu, masa mau seterusnya manggil Om Eza? Nanti kalau orang-orang bingung gimana? El juga yang capek menjelaskan" tutur Adira membuat putranya berpikir.
Disaat bersamaan Eza masuk ke dalam kamar Elvis, bola mata kedua lelaki itu saling beradu, Elvis segera menarik selimutnya.
"El mau tidur, ngantuk" memilih menghindar dari pembicaraannya dengan sang ibu.
Adira tak mau menekan putranya, ia hanya menasihati dan memberi saran. Tetapi jika Elvis masih keberatan, Adira hanya mampu mengingatkan kembali.
"Elvis baru akan tidur?" Eza naik ke atas ranjang.
"Iya, tadi katanya belum mengantuk. Tapi tiba-tiba saja mau tidur" sahutnya.
Mereka menunggu sampai Elvis benar-benar tidur, barulah Adira bisa pindah ke tengah ranjang.
Memeluk bayi besar yang masih tidak bisa terlelap tanpa pelukan Adira, sedangkan bayi kecil mereka dengan mandirinya tidur dengan pulas tanpa memeluk guling yang Adira simpan di ujung kasur sebagai pembatas.
"Kita pindah ke kamar?" Eza berbisik pelan.
"Jangan, nanti El marah"
"Kita kembali lagi saja sebelum El bangun" masih mencoba.
"Untuk apa repot-repot? Kasur ini tidak terlalu sempit untuk kita bertiga"
"Bukan kasurnya"
"Lalu?"
"Memangnya kita tidak akan melakukan ritual dulu?"
__ADS_1
"Ishh, mas pikir dukun apa" pura-pura tidak mengerti.
"Hari ini libur dulu" tambah Adira.
"Sayanggggg.... Sebentar saja" ujarnya memelas.
"Tidak mau, mas. Aku tidak ingin Elvis mencium bau aneh ketika kita kembali" Adira bersikeras.
Eza cemberut sebab permintaannya tak dituruti oleh sang istri, padahal itu menjadi salah satu vitamin untuk Eza yang membuat ia mempunyai energi saat esok pagi.
Rasanya tak bersemangat kalau tidak dapat jatah harian.
"Kalau begitu ini saja" menyentuh buah da da Adira yang berhadapan langsung dengan wajahnya.
"Tapi.... Ini di kamar Elvis, mas" masih belum mengabulkan permintaan suaminya.
"Elvis tidak akan melihat, dia sudah tidur" sambil membuka satu persatu kancing piyama Adira bagian atas.
Adira ragu, ia menoleh ke belakang untuk melihat Elvis. Bocah itu tidur nyenyak, mungkinkah situasi seperti ini aman?
Dilihat Eza sudah mengeluarkan dua benda milik Adira, Adira pun tak bisa protes lagi, kalau belum dituruti Eza akan menagih terus, bisa-bisa Elvis bangun karena suara berisik pria ini.
Eza pun mulai menyesap pucuk merah muda itu bak bayi yang kehausan, sensasi geli langsung menyerang Adira, tangannya terangkat dan mere mas rambut Eza sebagai bahan pelampiasan.
"Ssshhh.... Jangan digigit" desis Adira merasa nyeri.
Namun Eza tetap melakukannya sampai tanpa sadar ia terlelap dengan sendirinya, dan sesapan itu pun terlepas dari mulutnya.
Adira mengancingkan lagi piyama yang tadi dibuka oleh Eza, akhirnya ia bisa tidur sekarang setelah mengabulkan permintaan aneh sang suami.
***
Pagi ini Adira dan Tari membuat roti di dapur, yang biasanya orang tua mengajarkan anak memasak, tapi ini justru sebaliknya. Adira mengajari Tari memasak roti spesial buatan tangannya, resep yang dulu sering Adira buat sebagai ide jualan di toko Qia.
Ting!
Bunyi open terdengar setelah kurang lebih tiga puluh menit menunggu.
Adira mengeluarkannya dengan hati-hati, lalu meletakkan di meja pantry.
Asap yang mengepul menimbulkan aroma sedap, terkesan seperti roti khas Eropa.
"Wahhh.... Wangi sekali, kamu ternyata sangat pintar Ra" puji Tari pada menantunya.
"Ini bukan apa-apa, Ma. Ada banyak yang suka Adira buat, ini salah satu roti yang sering Adira masak saat bekerja di toko roti" ujarnya.
"Oh ya? Mama mau coba dong rasanya"
"Boleh" Adira lantas memotong roti itu menjadi beberapa bagian.
Mereka mencicipi satu gigitan, seketika bola mata Tari melotot ketika makanan itu menyentuh lidahnya.
"Emm... Ini enak sekali!!!"
__ADS_1
"Ini... Ini salah satu roti terenak yang pernah Mama cicipi" lanjutnya.
Adira tertawa melihat respon sang mertua yang sangat heboh, sepertinya hampir semua orang seperti itu ketika pertama kali mencoba makanan yang ia buat.
Sebagai pecinta roti dan kue, Tari tentu sangat antusias ketika mendapat hidangan yang sangat lezat ini.
"Nanti Mama mau merasakan lagi roti buatan kamu yang lain, boleh kan?"
"Boleh dong, Ma. Kebetulan Adira juga sedang rindu memasak roti-roti yang dulu pernah Adira buat"
Ketika kedua wanita itu sedang asyik dengan aktivitasnya, tiba-tiba suara nyaring Elvis terdengar memanggil mereka.
"MAMAAAAAA...... OMAAAAAA..... AYO CEPETAN, EL UDAH LAPAR"
Akhirnya Adira serta Tari pun memutuskan untuk segera bergabung ke meja makan, kali ini semua orang sarapan dengan roti buatan Adira.
Arian juga memuji masakan menantunya ini, Adira jadi senang dan tak sabar ingin segera membuat resep yang lainnya.
"Oh iya, hari ini ada rapat orang tua di sekolah El. Apa wajib dua-duanya datang?" Seru Eza ditengah sarapan yang sedang berlangsung.
"Enggak, kata ibu guru boleh salah satu" jawab Elvis.
"Berarti Mama mu saja yang kesana?"
"Heem.. Iya, Pah" sahutnya lagi.
Sontak semua orang mendongak menatap Elvis, seperti ada yang salah dari ucapan bocah itu.
"El bilang apa? C-coba ucapakan sekali lagi" pinta Eza penuh harap, kali ini ia memasang telinganya lebar-lebar.
"El bilang.... Iya, Papah gak perlu ikut ke rapat orang tua" jelas Elvis mengulang.
"El bilang Papah?" Eza tak percaya, ia menatap keluarganya yang juga tersenyum senang mendengar ucapan Elvis.
"Coba bilang Papah lagi" titah Eza.
Dengan lirih Elvis berkata, "Papah...."
"Lebih keras"
"Papah!"
"Lagi"
"PAPAHHHHHHHHH"
Kesabaran Elvis yang menipis pun membuat anak itu akhirnya memilih berteriak.
"Hahaha.... Ini baru anak Papah" Eza bangkit menghampiri Elvis, mengangkat tubuh putra kecilnya ke atas.
"Aaaaaa.... Turunin El" memberontak ketika melayang di udara.
"Papah turunin El.....!"
__ADS_1
Eza mencium kening sang putra kemudian barulah ia kembali menduduki Elvis di kursi.
Semua orang tertawa melihat moment tersebut, mereka turut bahagia karena Elvis sudah luluh dan mulai memberi ruang untuk Eza masuk ke dalam kehidupan Elvis yang sebenar-benarnya.