MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 72


__ADS_3

Eza merasa ada yang berbeda dari Adira, wanita itu terlihat lebih dingin, menjawab pun singkat, serta tak ada senyuman yang selalu tersemat seperti biasa.


Apa yang membuat istrinya ini berubah sikap? Sepertinya mood Adira sedikit buruk, atau mungkin karena sedang mengalami menstruasi bulan ini.


Yang pasti Adira lebih cuek tak seperti tadi pagi, selalu pura-pura tak melihat keberadaannya, hal itu sangat menonjol dari sudut pandang Eza.


Kini Adira tengah duduk di tepi ranjang sambil melipat pakaian yang ia terima dari hadiah pernikahan yang belum Adira buka.


"Tadi kau ke kantor ku?" Seru Eza mendahului pembicaraan.


"Ya, mas" sahut Adira.


Benar kan! Jawabannya sangat singkat bahkan tak menatap ke arah Eza sedikitpun.


"Kenapa tidak langsung menemui ku?" Sambung pria yang sedang berpakaian tersebut.


"Takut menganggu pekerjaan mas" masih tetap sibuk dengan aktivitas melipat baju.


"Bukankah sekertaris ku bilang jika aku sedang tidak sibuk?"


"Hanya mengembalikan ponsel saja, apa harus bertemu langsung?" Imbuh Adira.


"Y-ya tidak juga sih, tapi akan lebih sopan kalau kau mengembalikan ponsel ku secara langsung" kata Eza memberi saran.


Gerakan Adira terhenti, entah kenapa Eza malah memperpanjang urusan seperti ini. Apalagi membicarakan kejadian di perusahaan yang membuat Adira teringat akan kata-kata Eza tentang pernikahan mereka.


"Maaf.... Aku memang selalu salah dan teledor" lirih Adira termenung.


Eza jadi gelagapan, ia tak menyangka respon Adira akan ke arah sana, yang semakin membuat mood wanita ini memburuk akibat perkataannya.


"B-bukan begitu, m-maksud......"


"Maksudku......... Ah sudahlah, aku tidak bermaksud menyalahi mu" Eza frustasi, ia belum siap mengambil ancang-ancang dalam meluruskan ucapannya tadi.


Adira tak merespon, ia kembali melanjutkan kegiatan yang sedang dilakukan.


Eza belum beranjak, jujur ia tak nyaman dengan sikap Adira yang demikian, ia tak suka dianggap seperti tak ada, apalagi Eza membutuhkan perempuan tersebut.


"Terimakasih...." Cicit Eza hampir tak terdengar.


Seketika Adira memaku, ia tak salah dengar? Eza mengucapkan terimakasih, untuk apa?


"Kau mau pergi ke perusahaan ku untuk mengembalikan ponsel, aku.... Aku menghargai usaha mu" tambah Eza.


Eza melirik ke arah sang istri, tak ada tanggapan apapun, apa suaranya tidak terdengar oleh Adira? Kenapa dia tidak menjawab? Eza mulai tak karuan.


"Kau mendengar ucapan ku?" Tak sabaran.


"Ya, mas" jawab Adira, ia berdiri dan memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam lemari, mengacuhkan Eza yang masih berjejak disitu.


Setelah selesai Adira duduk di kursi sofa, bersantai sambil memainkan ponsel tanpa mempedulikan Eza yang memandanginya sedari tadi.


"Elvis tidak meminta mu untuk tidur bersama lagi kan?" Ingin memastikan.

__ADS_1


"Tidak, Mama membujuk dia untuk tidur sendiri"


"Baguslah kalau begitu...."


Tak ada obrolan lagi, suasana hening kembali, Eza mendongak untuk melihat jam dinding. Sudah pukul sembilan, kenapa Adira malah duduk di sofa?


"Kau tidak akan tidur sekarang?" Lagi-lagi Eza yang bertanya.


"Belum mengantuk, mas duluan saja" ujar Adira sembari asyik mengemil makanan yang tersedia di toples.


Kenapa dia jadi tidak peka seperti ini? Apa dia pura-pura? Tapi kenapa? Biasanya dia yang menawari terlebih dahulu. Aku sungguh tidak paham!


Akhirnya Eza naik ke atas ranjang, menjatuhkan badannya di kasur empuk tersebut, memandang langit-langit kosong yang membuat Eza semakin tak berselera untuk menjelajah alam mimpi.


Bunyi renyahan makanan yang dikunyah Adira menggema di kamar berukuran besar itu, Eza melirik kembali istrinya yang asyik bermain ponsel dengan satu tangan yang sibuk mengambil cemilan satu-persatu.


Tega sekali dia!


Eza berdecak karena tak bisa tidur, ia mengubah posisi menjadi duduk.


"Kapan kau akan tidur?" Ucap Eza pada Adira.


Adira menoleh sekilas, lalu menjawab "Aku mau bergadang malam ini"


"Bergadang??? Kenapa?"


"Aku sudah tidur siang lama"


Eza lantas mengambil remote dan menyalakan TV, ia memutuskan akan ikut bergadang malam ini, mencari sesuatu yang menarik di layar berukuran 55 inchi itu.


Tayangan berita menjadi salah satu pilihan bagi Eza.


Disisi lain, Adira juga rupanya bosan dengan apa yang ia mainkan melalui ponsel miliknya. Ia hanya menscroll video-video lucu yang pada ujungnya telah ia tonton, tetapi rasa kesal di lubuk hatinya pada Eza masih belum hilang, sehingga membuat Adira bertahan dengan benda tersebut.


Jika ia pindah ke ranjang, Eza pasti akan mendekati Adira.


Kebiasaan yang tak pernah Adira lakukan di malam hari yaitu mengemil justru dilakukan Adira pada malam ini, untuk menghilangkan rasa kantuk yang sebenarnya sudah menyerang beberapa menit lalu.


Tiga puluh menit terlewatkan.


Eza sudah menguap sebanyak dua kali, apa yang ia tonton pun sepertinya tidak masuk ke otak, tetapi matanya masih setia terjaga menunggu sang istri pindah ke atas ranjang.


Merasa tak kuat karena mengantuk, Adira pun memilih menyudahi kegiatannya. Ia menyimpan ponsel di atas nakas kemudian berbaring membelakangi Eza.


Adira tau sikapnya ini pasti akan membuat Eza bingung, dan benar saja seketika Eza memanggil Adira.


"Ra....."


"Kau tidur?"


Suara itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


"Hmm..." Adira bergumam.

__ADS_1


"Itu..... Jangan seperti itu posisinya" Eza terbata-bata, meminta Adira untuk berbalik secara tak langsung.


Beberapa detik tak ada sahutan, sampai Eza berbicara lagi.


"Ra kau tau kan kebiasaan tidurku, seharusnya...."


"Tidur mas, aku sudah sangat mengantuk" potong Adira membuat Eza tak melanjutkan kalimatnya.


Adira memang sengaja, ia tau apa yang akan di ucapkan Eza maka karena itulah Adira menyela.


Wajah Eza cemberut ketika Adira tak mau mendengar ucapannya, ia pun berbaring sambil menatap punggung Adira, berharap wanitanya berbalik agar bisa memeluk serta mengelus kepala Eza.


Lima menit...


Sepuluh menit...


Lima belas menit...


Dua puluh menit...


Eza bergerak terus mencari posisi nyaman, padahal sudah ada Adira disamping, namun itu tak cukup bagi Eza.


Adira pun jadi tak bisa tidur karena kasur yang terus bergoyang karena ulah Eza, ia juga agak kasihan pada pria itu, Adira mengumpat dirinya sendiri yang malah merasa iba pada sang suami.


Karena tak tega, Adira pun membalikkan badannya. Seketika Adira berhadap-hadapan dengan Eza yang berbaring ke arahnya. Mata mereka saling beradu di garis lurus 180 derajat.


"Mas boleh memeluk ku sekarang"


Tak menunggu lama, Eza langsung masuk ke dalam dekapan sang istri, memeluk erat Adira agar tak kembali membelakangi ia.


Eza mendongak, menatap Adira yang juga menatapnya.


"Kau tega sekali....." Ujarnya sendu.


Adira hanya memasang wajah datar, namun tangannya terangkat membelai wajah yang tengah memelas itu, apakah ekspresi ini bagian dari akting Eza? Ataukah sebuah kejujuran yang dirasa?


"Kau ada masalah?" Eza berucap.


Adira menggeleng kecil, "Tidak"


"Janji tidak akan seperti tadi lagi?" Tuntut pria dewasa tersebut.


"Mas seperti Elvis kalau bicara begitu"


"Jangan mengalihkan topik, janji tidak akan mengacuhkan ku saat tidur lagi?" Desak Eza bersikeras.


Adira membawa Eza ke dalam pelukannya, mengelus kepala sang suami dengan lembut.


"Akan aku usahakan"


"Kenapa? Apa itu memberatkan mu?"


Namun Adira memilih memejamkan mata dan tak menjawab pertanyaan Eza.

__ADS_1


__ADS_2