
"Lepas!! Lepasin Mama........”!'
"Om Eza! Lepas.....!!"
"Cepetan....! Lepas.... Lepas...."
Eza terguncang ketika tengah berkelana di alam mimpinya, ia dipaksa bangun entah oleh siapa. Dengan separuh nyawa yang belum terkumpul penuh, Eza berusaha membuka mata.
"A-ada apa ini?" Berusaha memaksimalkan Pandangannya yang masih tampak buram.
"Lepasin Mama!! Cepetaaannnnn.......!"
"Jangan peluk-peluk! Jauhin tangannya....!"
Adira pun sama terganggunya, ia mengerjapkan mata saat mendengar keributan, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Elvis yang tengah menarik-narik lengan Eza dari pinggang Adira.
"El? Ada apa sayang?" Masih linglung karena dipaksa bangun.
"Mama cepet bangun, jangan deket-deket sama Om Eza...." Titah Elvis pada Adira.
"El, papah masih ngantuk. Sebentar lagi papah bangun" menghiraukan perintah Elvis, tak peduli jika tangannya masih ditarik paksa oleh tenaga kecil sang putra.
"Gak boleh! Om tidur aja di kamar Om, jangan di sini...."
"Kenapa harus peluk-peluk Mama segala?!! Cepat lepasin...."
Sepertinya Elvis tidak akan berhenti sebelum permintaannya dituruti, pagi-pagi begini sudah terdengar teriakan, bisa-bisa semua orang salah paham dan mengira sesuatu yang buruk tengah terjadi.
"Mas, lepas dulu. Jangan buat El marah" Adira turun tangan, ia pun memerintahkan Eza untuk segera menjauh darinya.
"Tapi aku masih mengantuk...." Lirih Eza.
"Ini sudah pagi mas, sudah waktunya bangun" balas Adira.
"Tapi aku kurang tidur tadi malam"
"Kalau begitu lanjutkan istirahat mas di kamar atas, cepat"
Elvis nampak kesal melihat sang ayah yang tidak mau turun dari ranjang miliknya, apalagi lilitan tangan di pinggang Adira membuat El semakin terbakar
"Cepetannnnnnn.......!!!" Teriak Elvis dengan kesabaran setipis tisu.
"Ck, iya-iya.... " Eza mengalah, lalu beranjak dari kasur.
Ternyata menikah setelah punya anak bukanlah sesuatu yang bagus, berpelukan saja tidak boleh, bagaimana mau ada perkembangan jika mesra-mesraan saja selalu ada yang menganggu.
Setelah Eza pergi, Elvis langsung memeluk Adira, meluapkan rasa cemburu yang membuncah di dada.
"El sayang, lain kali tidak boleh seperti itu lagi ya. Papah kan juga mau tidur dengan kita, papah juga kangen sama El" tegur Adira, walaupun ia menuruti keinginan Elvis tetapi Adira tak lupa untuk selalu menasihati.
"Tapi gak usah peluk-peluk Mama kayak tadi, El gak suka!" Ketus El.
__ADS_1
"Kenapa? Kami kan sudah menikah, jadi tidak apa-apa sayang"
"Pokoknya jangan! Mama cuma boleh peluk El" bersikukuh.
Adira menarik nafas dalam, ia tau Elvis mungkin cemburu. Sejak bayi Adira menjadikan Elvis satu-satunya pangeran yang hanya ia beri perhatian. Kini, melihat Adira yang perhatian pada yang lain membuat Elvis tak rela.
"Tapi El tetep gak boleh kayak tadi, El harusnya minta secara baik-baik. El harus tetep sopan sama orang yang lebih tua, papah juga tadi bukannya gak mau untuk pindah kamar, tapi dibangunin paksa itu gak enak loh, nanti bikin orang pusing" Adira berceramah.
Elvis langsung cemberut, ia sadar jika kelakuannya tadi salah, namun tak membuat rasa marahnya menghilang sedikitpun.
"Janji gak akan seperti itu lagi?" Tuntut Adira.
"Hmm...." Bergumam.
"Hmm apa itu? Coba bicara ya benar"
"Iya!" Ketus Elvis dengan berat hati.
Adira tersenyum lucu, lalu memeluk erat putranya dengan tubuh yang bergoyang ke kanan dan ke kiri.
"Anak pintar, sekarang ayo siap-siap. El harus sekolah hari ini" mereka pun turun dari ranjang dan bersiap untuk memulai aktivitas.
***
Di meja makan.
"El, mana ibu mu?"
"Oh, baiklah. Kita tunggu mungkin sebentar lagi"
Diam-diam Elvis terus mendelik ke arah Eza, tatapan menghunus yang seolah akan memakannya hidup-hidup.
Ia masih kesal kalau mengingat kejadian di kamarnya tadi, Elvis merasa haknya selama ini sudah dicuri oleh lelaki di dewasa di depannya.
Eza yang menyadari itu menoleh ke belakang, tidak ada siapapun disana, mungkinkah tatapan tajam itu diperuntukkan untuknya?
"Ada apa El?" Eza bertanya.
"Cih!" Elvis berdecih manakala Eza tak menyadari letak kesalahannya sendiri.
Eza melongo, makin bingung saat Elvis tak menjawab pertanyaannya.
"Kenapa melihat papah sebegitunya?" Masih penasaran.
Arian dan Tari seketika teralihkan fokus pada sepasang anak dan ayah yang berada satu meja dengan mereka, mereka juga memerhatikan Elvis yang nampak tak bersahabat saat memandang ke arah Eza.
"Jangan deket-deket Mama!" Cetus Elvis pada akhirnya.
Eza terperangah mendengar sahutan sang putra, dia pikir Elvis sudah lupa dan hanya marah sesaat, tetapi ternyata masih berlanjut sampai di meja makan, bahkan tak segan-segan memperingatinya di hadapan Arian serta Tari.
"Apa? El bilang apa barusan?" Seru Tari, ia jadi ingin tahu apa maksud dari ucapan cucunya tersebut.
__ADS_1
"Om gak boleh deket-deket sama Mama! Apalagi peluk-peluk kayak tadi, El gak suka!" Ujar Elvis lebih jelas.
Arian dan Tari salin bersitatap, mereka yakin tidak salah dengar kali ini.
"Memang peluk-peluk seperti apa El?" Tari gencar menggali informasi.
"Ma!" Eza memotong, tak enak kalau sampai di dengar oleh orangtuanya sendiri.
"Ssstttt.... Kamu diam! Mama sedang bicara dengan Elvis" tak memberikan Eza akses berbicara.
"Tadi malem Om Eza pindah ke kamar El waktu El tidur, terus pagi tadi Om Eza tidur sambil peluk-peluk Mama. Padahal harusnya El yang dipeluk, bukan Om!" Cecar bocah tujuh tahun itu, menunjuk pada Eza.
Tari ternganga mendengar penuturan Elvis, namun kemudian ia tergelak ketika mengetahui kelakuan putranya.
"Jadi sudah ada kemajuan nih" Tari menyindir.
Eza memutar bola mata malas, kalau tau jadi begini Eza pasti akan memasang alarm agar bisa bangun lebih pagi dari Elvis, ia jadi merasa malu ketika ibu dan ayahnya tau.
Disaat bersamaan Adira datang, ia segera menghampiri meja makan.
"Maaf menunggu lama" sembari menarik kursi duduk.
"Tidak apa-apa, Ra. Kami sedang asyik menonton pertunjukan drama siara langsung" sahut ibu mertuanya.
"Pertunjukan? Apa itu?" Tak mengerti.
"Tuh, suami dan anakmu sepertinya tengah berselisih. Dan alasannya sangat lucu menurut kami"
"Oh ya? Apa memangnya?"
"Itu karena Elvis cemburu saat Eza memelukmu saat tidur" jelas Tari cekikikan.
Adira tampak syok, wajahnya merona saat para mertua tau kebiasaan Eza akhir-akhir ini. Mulut kecil Elvis memang tidak bisa dipercaya, fakta seperti ini saja mencuat sampai ke seluruh penghuni rumah.
"Aku lega mendengarnya, mungkin sebentar lagi cucu kedua kita akan hadir ke dunia" kata Arian menambahkan.
Apa ini? Mereka mengira terlalu jauh, aku bahkan belum siap untuk disentuh oleh suamiku sendiri.
"Cucu kedua?" Elvis terheran.
"Iya, El. Adik untuk kamu" jelas sang nenek.
"Adik?" El jadi teringat percakapan tempo lalu dengan Qia, wanita itu bilang ia harus menanyakan kapan orang tuanya akan memberi El seorang adik.
"El bakalan punya adik?" Sambung Elvis.
"Tentu, makanya El jangan galak-galak kalau papah deket-deket Mama"
El terlihat masih bingung, apa hubungan antara dekat-dekat dengan kehadiran adiknya kelak.
"Sekarang sudah dulu ribut-ributnya, kita mulai sarapan jangan sampai El terlambat masuk sekolah"
__ADS_1