MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 37


__ADS_3

Adira tersentak ketika Eza berucap, ternyata Eza sedang bertanya padanya. Adira jadi malu sendiri karena kedapatan senyum-senyum tak jelas, mungkin pria itu menganggapnya gila dan aneh.


"T-tidak apa-apa, Tuan" tidak menjawab rinci pertanyaan Eza.


Eza jadi curiga melihat gelagat Adira, jangan-jangan wanita itu terbawa perasaan karena kejadian beberapa menit yang lalu.


"Hah, bagaimana ini?! Jangan sampai dia mengira aku menyukainya karena terciduk melihatnya tadi"


Eza merinding sendiri memikirkan hal itu, padahal hanya beberapa detik saja ia menatap perempuan tersebut, tapi Adira sudah senyum-senyum saja tanpa sebab.


"Dasar wanita sok kegeeran! Ditatap seperti itu saja sudah menghalu terlalu jauh" cibir Eza dalam hati.


Adira yang memang tak mengetahui isi hati Eza, tak memberikan respon apapun.


Adira memilih memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, kemudian naik lagi ke atas ranjang sambil memeluk Elvis dan mulai memejamkan mata.


"Pasti setelah tidur dia akan memimpikan aku di alam mimpinya" gumam Eza penuh percaya diri.


***


Mentari menyambut pagi dengan sinar hangatnya, menyilaukan bumi beserta penduduk untuk segera bangun dan melanjutkan aktivitas.


Sepertinya hal nya yang dilakukan oleh penghuni kamar inap nomor 3 di salah satu rumah sakit ternama.


Adira nampak terbangun lebih dulu, meskipun badannya masih terasa lelah tapi Adira tak mau leha-leha, ia segera turun dari brankar setelah melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Saat hendak menuju toilet, Adira melewati sofa panjang yang di tiduri oleh Eza, pria itu masih terlelap sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"Bahkan dia tidur dengan memakai kemeja..." Lirih Adira mengamati pria beranak satu itu.


"Padahal dia membawa pakaian ganti, kenapa tidak dipakai saja?" Adira terheran.


Sambil berpikir, Eza tampak terusik tetapi tidak membuat pria itu membuka mata dan justru kembali melanjutkan tidur yang entah pukul berapa pria itu terpejam.


Buru-buru Adira pergi dari situ dan masuk ke dalam toilet untuk membasuh wajah dan lainnya.


***


Lima belas menit berlalu, semalaman tidur dengan pulas membuat tubuh Elvis merespon untuk bangun lebih pagi.


Dengan mata yang setengah berat, ia mencoba memfokuskan penglihatannya. Bola matanya bergerak melingkar, menatap ruangan yang sepi di sekelilingnya.


Elvis merasa ada yang berbeda, kenapa ranjangnya terasa sangat luas?


Hening...


Hening...


Hening...

__ADS_1


Tunggu dulu!


Bukankah semalaman ia tidur berdua? Ya Elvis tidur dengan Adira disini? Tapi.... Kenapa sekarang hanya ia sendiri yang terbaring di ranjang itu?!!


Seketika kelopak mata Elvis membola dengan lebar, mendadak ia gusar dan tak berselang lama Elvis pun menangis histeris.


"MAMAAAAAAAAAA.......!!!"


"HIKSSS..... MAMAAAAAAAA......."


"MAMA DIMANA HIKSSSS....... MAMAAAAA....!!"


Teriakan Elvis tentu membuat orang yang tengah bermimpi di sofa sana terbangun karena terkejut, dengan setengah sadar Eza bangkit dan menghampiri putranya.


"El....."


"Ada apa, nak?"


"Kenapa kamu menangis?"


Rentetan pertanyaan diajukan Eza pada sang putra, ia juga panik mendengar Elvis berteriak, takut putranya merasakan sakit secara mendadak.


"HUWAAAAAAAA...... MAMA DIMANAAA...?!!!"


"HIKSSS.... MAMAAAAAAA...."


Mendengar itu sontak Eza teringat akan Adira, kepalanya memutar mencari sosok yang ditangis Elvis, namun tidak ada disana.


Tapi bukannya tentang, Elvis malah menuduh ayahnya sendiri sebagai dalang dari ketiadaan sang ibu.


"OM PASTI NGUSIR MAMA, KAN?!!!"


"POKOKNYA EL MAU MAMA SEKARANG!!"


"OM UDAH JANJI GAK BAKAL USIR MAMA DARI SINI..... HUWAAAAAAAA....."


"KENAPA OM MASIH JAHAT SAMA MAMAA...?!!!" Tuduhnya meledak-ledak, menghardik Eza dengan opini semata.


Eza jadi kelabakan karena tiba-tiba saja dituduh bertindak kejam, ia sendiri saja tidak tau kemana perginya Adira, tapi malah diduga sebagai pelaku penyebab Adira menghilang.


"Bukan, El! Papah kan sudah janji, mana mungkin papah mengusirnya" bantah Eza tidak tahu-menahu.


"BOHONG....!"


"Om kan selalu jahat sama mama! Om pasti suruh mama pergi waktu El tidur" ujarnya tak percaya.


Dan saat keributan itu masih berlangsung, pintu toilet pun terbuka dari dalam.


Clekkk.....!

__ADS_1


"El, ada apa ribut-ribut?" Adira muncul dari dalam sana sambil memegang perutnya seperti orang yang kesakitan.


Adira berjalan mendekat, diikuti tangisan Elvis yang semakin kencang.


"HUWAAAAA...... EL PIKIR MAMA PERGIII...... HIKSSS....!!!"


Dipeluknya sang ibu dengan sangat erat.


"Tidak, sayang. Mama sedari tadi ada di toilet" Adira menyangkal.


Eza malah menjadi penonton disana, pria itu sudah memasang wajah kusut sejak kemunculan Adira dari toilet. Kini ia merasa sangat terfitnahkan karena tuduhan dari putranya sendiri.


"Kenapa kau lama sekali dari toilet?! Kau pasti mendengar suara Elvis dari tadi kan!" Bisik Eza, tak mau sampai Elvis mendengar nada kekesalannya.


"Maaf, tadi tiba-tiba perut saya sakit. Makanya saya buang air besar dulu didalam, tidak mungkin kan saya memaksakan diri keluar" jawab Adira.


Eza mendengus sebal, hampir saja ia memanggil dokter tadi, kalau benar-benar terjadi mau ditaruh dimana mukanya ini???


"El kenapa sudah bangun? Ini masih jam enam" dengan posisi masih memeluk Elvis.


"El udah gak ngantuk lagi" ungkap Elvis yang kini sudah tidak menangis.


"Kalau gitu diam dulu sebentar disini ya, mama ingin ke toilet lagi. El tidak apa-apa kan?"


Adira merasa belum puas mengeluarkan isi perutnya yang terasa begah, ia masih ingin melakukan panggilan alam.


Dengan patuh Elvis mengangguk mengizinkan ibunya kembali ke toilet, ia juga merasa sedikit bersalah karena sudah mengganggu aktivitas Adira tadi.


Kini tinggallah sepasang anak dan ayah disana, Elvis hanya menunduk tak berani menatap wajah Eza.


"Dengarkan? Papah tidak mengusirnya" seru Eza yang sedari tadi ditahan.


"M-maaf..... El minta maaf, u-udah nuduh Om tadi" sesalnya merasa bersalah.


Eza menghela nafas berat, sabar, sabar, dan sabar. Itu harus menjadi stok penuh yang Eza perlukan, jangan sampai terpancing emosi apalagi hanya karena anak kecil.


Elvis pun mendadak takut pada sang Ayah, ia hanya bisa menunduk sambil mereemas jari-jarinya. Sambil mempersiapkan diri jika Eza memarahinya nanti.


Eza justru jadi tak tega, mana mungkin ia membiarkan malaikat kecilnya ini terus dihantui rasa bersalah.


Tangan Eza terangkat menyentuh rambut lembut sang putra, mengusapnya penuh kasih sayang. Tindakan Eza membuat Elvis memberanikan diri untuk mendongak.


"Kali ini papah maafkan, tapi lain kali jangan seperti itu lagi ya"


"Om enggak marah?"


Eza menggeleng sambil tersenyum.


Elvis jadi lega, ia pikir Eza akan memarahinya atau setidaknya menegurnya dengan tegas, karena Elvis juga mengakui jika ucapannya tadi memang kurang pantas. Elvis terlalu parno terhadap sikap Eza, sampai-sampai tanpa berpikir terlebih dahulu ia langsung menunjuk Eza sebagai pelaku utama.

__ADS_1


"Makasih, Om!"


__ADS_2