MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 44


__ADS_3

Adira terperanjat manakala melihat Eza berdiri didalam kamar Elvis, satu jam lalu Adira sengaja diam di luar untuk menunggu Eza yang masih berada di kamar anak, Adira pikir pria itu tidak akan datang lagi setelah keluar dari ruangan ini.


Tapi rupanya dia tiba-tiba muncul kembali.


"Mau apa lagi dia?"


"Jangan bilang dia mau tidur disini juga?!!"


Adira panik, pikirannya jadi kacau melihat Eza disini. Mungkin saat di rumah sakit mereka memang terbiasa berada dalam satu ruangan seperti ini, tapi sekarang rasanya berbeda karena berada di kamar anak, dan lagi mereka bertiga kompak memakai piyama seperti keluarga Cemara yang hendak menidurkan anaknya.


"Nah, itu mama! Om bisa pergi sekarang" celetuk Elvis dengan polosnya.


"Siall! Aku dipermalukan lagi di depan wanita itu. Tidak! Aku tidak akan keluar semudah itu"


Tampak tak terima karena diusir oleh putranya sendiri, Eza mencari cara agar tidak terkesan terlalu rendah, Adira selalu menang darinya kalau menyangkut tentang Elvis, Eza berpikir pasti Adira tengah menertawakannya dalam hati.


"Sudah tidak apa-apa, papah akan tetap menemani El sampai tidur. El pasti kesulitan tidur kalau tidak ada papah, kan? Jadi...."


"Enggak kok! El kan udah biasa tidur sendiri disini"


Eza refleks mengerjap, bibirnya tersenyum namun hatinya komat-kamit tanpa ada yang tau.


"El jangan seperti itu, nak. Tidak sopan menerima kebaikan orang apalagi dari orang tua sendiri" tegur Adira menasihati, walaupun dirinya kurang nyaman dan tidak ingin berada dalam satu ruangan yang sama. Tetapi Adira tidak boleh membiarkan Elvis bersikap demikian.


Elvis langsung menunduk merasa bersalah, bukan maksudnya berbicara tidak sopan pada Eza, Elvis hanya merasa Eza tidak perlu menemaninya tidur malam ini.


"Maaf...." Lirih Elvis.


"Jangan bersedih begitu, nak. Papah mengerti kok" Eza buru-buru mendekat sembari mengusap-usap lembut kepala Elvis, tak tega melihat raut wajah yang mendadak murung, padahal tadi sangat ceria sampai tak henti meloncat di atas kasur.


Eza langsung menatap Adira dengan tatapan menghunus, tak terima dengan kata-kata Adira yang telah membuat putranya bersedih.


Sedangkan Adira merasa bingung dengan sorot tajam itu, ia hanya bergeming tanpa berani mendekat.

__ADS_1


"Maaf Om, Om boleh kok temenin El disini" cicit Elvis padahal akhirnya, mengizinkan Eza jika memang itu keinginannya.


"Tapi El belum mau tidur, El mau nunjukin mainan-mainan El dulu sama mama" imbuh Elvis tetap pada tujuan utamanya.


"Ya sudah boleh, tapi jangan lama-lama. Ini sudah jam delapan" peringatan Eza.


Akhirnya Elvis asyik dengan Adira, sedangkan Eza memilih berbaring di ranjang sambil memainkan gadget.


Elvis menunjukkan seluruh mainannya, dari mulai yang disimpan di lemari kaca sampai yang di taruh di rak mainan.


"Banyak sekali mainannya, pasti harganya juga mahal-mahal"


"El dibeliin mainan hampir setiap hari, ma. Kalau Opah sama Om Eza pulang kerja pasti bawain El mainan baru" ungkap Elvis memberitahu.


"Kadang kalau jalan-jalan ke luar Oma juga pasti bawa El ke tempat mainan, Tante Elen juga bawain El mainan kalau datang ke sini" tambahnya.


Kehidupan Elvis benar-benar berubah 180 derajat, kalau dulu pasti Adira harus menabung untuk membelikan Elvis mainan. Kalau sekarang, tidak diminta saja sudah banyak yang belikan.


***


"Tidur sayang, sudah malam" Adira memposisikan bantal serta guling untuk Elvis, menyuruh anak itu berbaring di tengah ranjang.


"Tapi El mau dengerin dongeng dulu" tagihnya pada Adira.


"Iya sayang, El nya berbaring dulu" titah Adira yang dituruti oleh Elvis.


"El mau mama ceritain tentang apa?" Adira menyandarkan punggung di kepala ranjang sambil mengusap surai lembut putranya.


Posisi Adira dan Eza kini berada di masing-masing sisi Elvis berada, tetapi Eza tetap dalam posisi berbaring dan memainkan ponselnya.


"Emm.... El pingin cerita tentang...... Aa! Kurcaci yang dikutuk ibu peri"


"Kurcaci yang pernah mama ceritain waktu itu?" Ingatnya.

__ADS_1


"Iya, El belum tau akhir ceritanya soalnya keburu ketiduran.... Hehehe" Elvis membenarkan.


"Oke, mama mulai ya...."


"Pada suatu hari ibu peri dan kurcaci adalah sahabat yang saling menyayangi, mereka berteman baik layaknya saudara sendiri.... Kisah dimulai ketika....."


Adira menceritakan dongeng fiksi yang ia buat sendiri dalam otaknya, cerita mengalir begitu saja menjadikan dongeng sangat seru untuk didengar. Sempat kebingungan tetapi ide dengan cepat muncul di kepalanya.


"Jadi ibu peri itu jahat, ma?"


"Awalnya dia adalah ibu peri yang baik, tapi semakin hari ibu peri berubah jahat karena iri dengan kehidupan kurcaci, ibu peri menuduh kurcaci sampai para warga percaya kalau kurcaci telah melakukan kejahatan. Akhirnya para warga pun meminta ibu peri untuk mengutuk kurcaci menjadi buruk rupa dan mempunyai bau yang busuk..."


Tanpa mereka sadari, diam-diam Eza menyimak dengan seksama alur cerita tersebut. Pandangannya bisa saja fokus pada layar ponsel, akan tetapi gendang telinganya terus menangkap dongeng yang diceritakan oleh Adira.


Pria itu tanpa sadar seperti menyukai dan ikut penasaran dengan akhir dari cerita sang kurcaci, ekspresi wajahnya sesekali berubah mengikuti rangkaian peristiwa yang terjadi.


"Terus apa kurcaci itu mati?" Tanya Elvis.


"Karena kesabaran kurcaci lambat laun orang-orang sekitar mulai menyadari kejanggalan yang terjadi, ibu peri pun mulai bertingkah serakah, membuat kedamaian desa perlahan hancur tak seperti dulu"


"Hingga datanglah seorang pangeran dari negeri lain, dia datang membawa perdamaian dan membebaskan para tahanan yang terkurung, hingga tanpa sengaja sang pangeran bertemu dengan kurcaci yang tengah dilempari tanah lumpur oleh para warga. Sang pangeran berusaha menghentikannya, setelah tau alasan sang kurcaci diperlakukan buruk oleh orang-orang, pangeran tersebut pun memberikan air suci dari surga untuk kurcaci"


"Saat itu juga kurcaci berubah menjadi seorang wanita cantik bak putri dari istana, warga yang tadi membenci kurcaci sampai terpana melihat kecantikan kurcaci begitupun dengan pangeran. Hingga akhirnya pangeran jatuh cinta dan menikahi kurcaci, mereka kembali ke negeri tempat pangeran berasal dan hidup bahagia disana"


Heh! Mana ada yang seperti itu...


Eza berkomentar dalam hati, meskipun seru namun ia tidak menyukai cerita yang tidak realistis tersebut. Mana mungkin ada makhluk buruk rupa yang tiba-tiba berubah menarik hanya karena air suci dari surga, memangnya surga bisa didatangi seenaknya seperti itu?! Cerca Eza.


El perlahan memejamkan matanya seusai mengetahui akhir dari sang kurcaci, hatinya ikut tenang ketika mendengar akhir cerita yang bahagia. Suara dengkuran halus pun terdengar menandakan Elvis sudah terlelap ke alam mimpi.


Adira menyelimuti Elvis dan ikut berbaring di samping sang putra, tapi matanya tidak bisa terpejam karena masih ada Eza disana.


"Apa dia tidak berniat keluar dari sini?"

__ADS_1


__ADS_2