
Setelah satu jam lebih melepas dahaga yang menguras energi, Adira dan Eza kini saling berpelukan di atas sofa yang sama, nafas keduanya terengah-engah diiringi keringat yang bercucuran.
"Mas, sudah seharian aku tidak menelpon Elvis. Apa dia tau mas kemari?" Tanya Adira mendongak.
"Kemarin sih aku tidak berpamitan padanya, hanya pada Mama saja. Aku juga tidak tau apakah Mama memberitahu Elvis atau tidak" balas Eza, sambil membelai surai hitam milik Adira.
Adira menyandarkan kembali kepalanya di dada sang suami, Tari juga tak menelponnya, sepertinya Elvis anteng-anteng saja disana.
"Elvis juga tidak menghubungi ku, apa dia lupa padaku ya mas? Aku jadi sedih..." Lirih Adira sendu.
"Hey, mana mungkin. Dia kan sedang ujian, mungkin sedang fokus belajar, atau tidak mau mengganggu mu" elak Eza jauh-jauh.
"Hemm... Sepertinya begitu" tak mau berpikiran negatif, dia sendiri yang menyuruh Elvis untuk tetap di Jakarta, malah sekarang Adira yang merasa dilupakan.
Hening...
Hening...
Hening...
Kedua insan itu saling diam dengan pikirannya masing-masing, biasanya setelah berhubungan mereka akan tertidur, tapi berhubung ini masih tergolong siang mereka memilih untuk tidak terpejam.
"Mas..."
"Iya, kenapa panggil-panggil terus? Seperti jauh saja" Eza bergurau, dan ia pun mendapat pukulan kecil dari istrinya.
"Aku mau bertanya, tapi mas jangan marah ya. Kalau memang keberatan tidak usah dijawab, tidak perlu dibawa emosi" tutur Adira.
"Apa memangnya?" Penasaran.
"Janji dulu tidak akan marah" menuntut.
"Iya janji, mana bisa aku marah padamu"
"Emm... Sebenarnya, aku.... Ingin bertanya tentang...."
__ADS_1
Melirik terlebih dahulu pada Eza, dan kembali melanjutkan kalimatnya.
"Tentang ibu kandung Elvis" menggigit bibir bawahnya, takut-takut melihat ekspresi sang suami.
"Oh.... Itu" ber-oh ria.
"Apa yang ingin kau tanyakan tentangnya?" Bersikap santai.
"Aku mendengar dari Mama kalau.... Kalau ibu kandung Elvis sudah tidak ada.... Karena.... K-karena bunuh diri. A-apa itu betul?" Tanya Adira ragu-ragu.
"Ya, itu benar" sahut Eza.
Adira sedikit terbeliak, tak menyangka Eza menjawab secepat ini.
"Emm.... Bagaimana ceritanya? B-bagaimana awal mulanya, aku ingin tahu. Tolong ceritakan padaku" mohon Adira.
Eza mulai menerawang sambil menatap langit-langit kosong, sejujurnya ia berat untuk sekedar mengingat, apalagi untuk menceritakan. Namun Eza sadar, jika istrinya yang sekarang harus tau mengenai masa lalunya, apa penyebab ibu kandung dari anak yang dia angkat bisa memilih bunuh diri dan menelantarkan anaknya.
Dan sebab itulah, Eza mulai menceritakan.
"Dulu aku tidak tinggal disini, aku lahir di Amerika karena Papah mendirikan perusahaan disana. Delapan tahun yang lalu, kami bertemu di kota Washington. Sama-sama menempuh pendidikan kala itu, dia mendapat beasiswa dan itu membuatku kagum dan ingin berteman dengannya, kami sering menghabiskan waktu bersama hingga aku mulai merasakan jatuh cinta" tutur Eza, Adira mendengar tanpa mau menyela.
"Aku kira semuanya berjalan dengan lancar, tetapi tiga bulan kemudian, seorang lelaki datang dan menemui Farita, ternyata dia adalah mantan kekasihnya"
"Namun sayang, Farita telah menikah denganku. Pria itu pun pulang ke negara ini, dengan tangan kosong"
Eza menarik nafas dalam, melanjutkan ceritanya.
"Aku mulai merasakan perubahan sikap Farita, seperti ada penyesalan setelah bertemu dengan mantan kekasihnya. Dan benar saja, satu bulan kemudian Farita mengatakan padaku jika ia ingin bercerai, dia mengaku masih mencintai pria tersebut, dia bahkan ingin kembali kesini untuk menyusulnya"
"Aku yang amat sangat mencintai dia tentu saja menolak dan marah, aku mengurungnya sampai berhasil membuat dia hamil"
"Dua Minggu kemudian Farita berbadan dua, aku teramat bahagia. Tapi lain halnya dengan Farita..." Nafas Eza mulai memberat.
"Aku lebih posesif ketika dia hamil, aku tetap mengurungnya karena khawatir dia berbuat nekad jika jauh dari jangkauan ku"
__ADS_1
"Dan ketika usia kandungannya memasuki sembilan bulan, dia berhasil kabur tanpa sepengetahuan ku. Dia pergi, menyusul pria yang dia cintai" lanjut Eza.
"Aku sempat menghubungi keluarganya, tapi tak ada satupun dari mereka yang tahu. Farita tak memberitahu keluarganya"
"Aku pun tanpa pikir panjang terbang kesini, mencari istri serta anakku yang sebentar lagi akan lahir ke dunia"
"Tetapi nasib ku sedang tak beruntung, tiga Minggu aku tak menemukannya, dan seminggu kemudian aku mendapat kabar dari kepolisian jika Farita ditemukan di sebuah hotel dalam keadaan tak bernyawa"
Deg! Degup jantung Eza terasa lebih berdebar.
"Tapi bayi kecil itu tak ada disana, Farita pun tak menuliskan surat apapun. Tapi yang aku dengar dari hasil penyelidikan, Farita bunuh diri ketika mengetahui jika mantan kekasihnya itu telah menikah dengan wanita lain"
"Aku pun mencoba menemui pria tersebut, dia mengaku jika beberapa hari lalu mereka bertemu, Farita mengajaknya kembali, tetapi pria itu menolak karena dia pun sudah menikah. Dia sendiri terkejut mendengar kabar duka mengenai tewasnya Farita"
"Beberapa bulan aku dan keluarga ku mencari keberadaan bayi kami, sampai akhirnya aku berada di titik terendah dan stress berat sampai mengalami kecelakaan"
"Aku dibawa ke luar negeri untuk mendapat perawatan intensif, dan menghentikan dulu sementara pencarian terkait bayi yang hilang"
"Sampai ketika aku sembuh, kami memutuskan tinggal disini dan memindahkan perusahaan juga, diiringi dengan melanjutkan pencarian sampai bertahun-tahun, ditengah-tengah pencarian kita semua sempat berpikir jika anakku mungkin sudah mati sejak awal dilahirkan. Tapi aku tetap bersikeras kalau dia masih hidup, dan seorang penyelidik berhasil menemukan berita lama, mereka menelisik sampai ke lapangan, dan ternyata benar... Bayi yang diberitakan hilang adalah anakku yang lahir tujuh tahun silam"
"Dan aku menemukan anak laki-laki yang telah kau beri nama Elvis" ujar Eza menatap bangga pada Adira.
"Maka dari itu, aku trauma berhubungan dengan wanita yang masih terikat masa lalu"
"Perceraian yang telah aku rencanakan semata-mata agar kau bisa mendapatkan kebahagiaan mu, karena aku tau kau tidak mencintaiku..." Lanjut Eza, dengan mata sayu yang bersedih.
"Ketika menikah dengan mu dan datang seorang pria, aku merasa dejavu. Aku takut apa yang telah aku alami dulu kembali terulang"
"Tapi anehnya aku justru marah, padahal aku menentang memiliki perasaan padamu, bahkan sudah yakin tentang perpisahan itu. Hingga aku sadar kalau aku memang menyimpan hati padamu"
"Adira... Kau tidak mencintai pria itu kan?" Eza dengan raut cemas yang melekat.
"Kalau aku mencintainya mungkin sudah dari dulu kami menikah, tapi tidak tau kenapa aku sulit membuka hati, aku tidak bisa menyukainya meski dia begitu baik padaku dan Elvis" ujar Adira.
"Jadi kau akan tetap berada disamping ku, kan?"
__ADS_1
Mereka saling memandang, menatap masa depan yang telah mereka temukan, walau satu orang lagi belum mengungkapkan perasaannya.
"Tentu, aku akan selalu disisi mas"