
Adira kembali memasak makan malam tetapi kali ini khusus untuk suaminya, Eza masuk ke dapur setelah selesai mandi, ia duduk di meja makan berukuran kecil sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
Menatap Adira yang sedang membuat makanan, ia masih malu saat mendengar alasan Adira pergi yang sebenarnya.
"Apa?!! Jadi kau pergi untuk memperingati kematian orang tua mu? Bukan untuk kabur???" Eza sedikit berteriak ketika Adira menjelaskan semua.
"Iya, mas. Coba lihat ponsel mas Eza, aku sudah mencoba menghubungi tapi nomor mas tidak aktif. Makanya aku kirim pesan sebelum berangkat" ujar Adira.
"Ponselku... Tidak aku charger dari sore kemarin" baru ingat jika baterai handphone nya habis dan Eza lupa atau lebih tepatnya malas untuk mengisi daya.
Dan saat itu juga Eza mengutuk dirinya sendiri karena telah bertindak bodoh, jauh-jauh pergi ke Malang secara mendadak, dan yang paling parah ia menangis didepan sang istri sambil meraung-raung hal yang ternyata hanya sebuah kesalahpahaman belaka.
Saat membuka ponsel Eza tambah malu karena Adira memang sudah meminta izin lewat pesan, begitu teledornya Eza sampai tak ingat kalau zaman sekarang sudah ada alat canggih yang pastinya bisa memberi Eza informasi penting sebelum bertindak lebih jauh.
Adira mematikan kompor lalu menghidangkan sepiring nasi goreng buatannya, ia pun ikut duduk berhadap-hadapan.
"Bagaimana? Sudah liat isi pesan ku?" Tutur Adira memandang sang suami.
Eza mengangguk mengiyakan, dirinya bahkan tak mampu menatap wajah sang istri.
"Hahaha.... Jangan malu begitu, wajar mas panik, aku mengerti kok" tertawa lucu melihat ekspresi pria di depannya.
"Tapi itu sangat memalukan! Karena tadinya aku yakin kau pergi untuk kabur, sebab sudah beberapa hari ini kita tak ada komunikasi sedikit pun" sesal Eza lirih.
Adira memindahkan kursinya di samping Eza, ia duduk disana sambil menggenggam tangan sang suami.
"Tidak apa, justru karena itu mas jadi bisa menyusul ku kemari, aku jadi ada teman pergi ke makam besok, mas mau ikut kan?"
"Tentu, aku ingin mengenalkan diri pada mendiang ibu dan ayahmu. Mereka mertua ku, dan aku harus memperingati kematian mereka juga"
Adira tersenyum senang, akhirnya Eza yang dulu benar-benar berubah, tidak hanya mencintainya, tapi juga menghormati orang tua Adira.
"Terimakasih, mas. Sekarang makan lah, mas pasti belum mengkonsumsi apapun kan dari siang?"
"Heem... Aku lapar dan butuh asupan, sepertinya ini pertama kali aku mencoba makanan yang kau masak"
"Benarkah? Soalnya kalau di Jakarta aku tidak diperbolehkan masak oleh Mama, Mama bilang dia khawatir kalau aku beraktivitas berat"
"Ya, Mama sangat mempedulikan kondisimu. Kau tidak merasa di kekang kalau kita tinggal bersama kedua orang tua ku? Sepertinya kau ingin melakukan banyak hal, apa perlu kita mencari rumah sendiri?" Eza meminta saran, ia mengerti Adira bosan selama berada di rumah, apalagi Elvis sudah besar dan bisa melakukan apapun sendiri.
"Untuk sekarang tidak perlu, kasihan Mama dan Papa pasti ingin dekat dengan Elvis, dan Elvis pasti tidak bisa jauh dariku, aku juga nyaman kok karena aku jadi merasa punya orang tua lagi"
Eza mengelus pucuk kepala Adira, ia bersyukur mempunyai istri yang baik dan tidak memikirkan diri sendiri, adanya Adira membuat segala kegundahan pada Eza sirna.
__ADS_1
"Kau mempunyai segalanya sekarang, jangan takut lagi kehilangan"
Adira mengangguk sembari membenamkan kepalanya di dada sang suami, hari ini sungguh luar biasa, Adira akan selalu mengingatnya setiap waktu.
***
"Sudah kenyang?" Melihat Eza yang menghabiskan satu piring nasi goreng buatannya.
"Sudah, masakan buatanmu sungguh lezat" puji Eza.
"Sungguh? Besok akan aku buatkan makanan yang lain, mas pasti suka!" Adira bersemangat, apalagi kalau suaminya sendiri yang mencicipi.
"Aku jadi tidak sabar" sahut Eza.
Adira lantas membawa piring kotor itu dan mencucinya, membiarkan Eza rehat dulu seusai kenyang makan malam.
Dua menit kemudian Adira merasakan pinggangnya dililit oleh dua lengan besar, tentu saja Eza yang melakukan itu, Adira segera mengelap tangannya yang basah.
Adira berbalik seraya mengalungkan kedua lengan di leher Eza "Aku sudah beres, mau tidur sekarang?"
"Tidur? Tentu saja tidak"
"Hm? Kenapa? Sudah jam sepuluh, mas pasti lelah. Memangnya belum ngantuk?"
"Apa itu?"
Kali Eza tak menjawabnya dengan kata-kata, ia langsung mempraktekkan lewat sebuah ciuman yang mendarat tepat di bibir Adira.
Adira mengerjap, refleks tangannya sudah mau mendorong sang suami, akan tetapi Adira ingat akan tugasnya, ia wajib memberikan hak sang suami dalam hal seperti ini.
Otomatis Adira pun kembali mengalungkan lengannya, menikmati peraduan bibir yang mereka lakukan.
"Emmhh..... " Lenguh Adira merasa Eza semakin menggila.
Tangan Eza sudah menyusup ke dalam baju Adira, menyentuh kulit punggung mulus sang wanita, membuat Adira merasa tersengat.
Suara kecupan mewarnai seisi dapur, keduanya sudah larut dalam gairah yang membara, apalagi mereka menunda moment ini dari awal pernikahan.
Adira yang sudah kecanduan sentuhan Eza pun tak lagi tegang, meski ada segumpal kekhawatiran yang menyempil.
Tangan Eza sudah membuka kancing piyama Adira satu persatu hingga pakaian tersebut lolos dari tubuh istrinya, memperlihatkan bagian atas Adira yang masih dibaluti bra.
Ketika Adira sudah dalam keadaan setengah telan jang, kini giliran Adira yang menarik kaos Eza ke atas.
__ADS_1
Ia langsung disuguhi pemandangan roti sobek milik Eza yang sangat menggugah nafsu lainnya.
Adira memberanikan diri menyentuh enam kotak itu, terasa liat dan sedikit berkeringat, membuat air liur Adira memproduksi lebih banyak.
Ia mendongak menatap Eza, tanpa Adira sadari jika tatapannya sendiri telah berubah sayu, membuat yang dipandang tidak tahan lagi.
Eza lantas mengangkat tubuh Adira sambil terus berciuman, membawanya menaiki tangga hingga sampai di kamar atas.
Eza membaringkan Adira perlahan-lahan di atas kasur, tangannya sibuk membuka kain yang tersisa di tubuh sang istri.
Setelah berhasil mene lan ja ngi Adira, Eza langsung mengecup semua bagian tubuh indah itu, dari mulai telinga, leher, dan dua gunung kembar yang sudah menegang. Tak ada satu pun luput dari pandangan, termasuk kacang kecil dibawah sana.
"Ahh....! M-mas...." Adira tersentak dengan kelihaian lidah Eza, tetapi berbeda pula dengan apa yang dilakukan oleh tangannya yang justru menenggelamkan kepala sang suami lebih dalam.
Puas bermain dengan lidah, kini Eza ikut melepas celananya.
Ia lebih dulu memandang sang istri lekat-lekat, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Adira.
"Bolehkah aku.... Memintanya sekarang?" Ujarnya parau, tak mau melakukan jika Adira memang belum siap, meski Eza sangat mendamba.
Kepala Adira bergerak naik turun, menandakan bahwa dia sudah siap memberikan kesuciannya pada sang suami, Adira sudah ikhlas sekarang, ia sudah tak takut lagi menerima nafkah batin dari Eza, karena Adira tau ini yang terbaik.
"Lakukanlah.... Aku sudah siap" lirih Adira.
Dan saat itu juga Eza membuka boxernya, mengeluarkan batang pohon yang bersembunyi sedari tadi.
Adira memejamkan mata melihat benda besar tersebut, bagian intinya semakin berkedut saja.
Dan saat Eza mengarahkan miliknya, ia berseru kembali.
"Tahan sebentar, ini akan sedikit sakit, tapi aku janji setelahnya kita akan sama-sama terbang menuju nirwana"
Detik-detik menegangkan itu akhirnya terjadi, Adira menjerit kesakitan, merasakan selaput daranya robek dan mengeluarkan tetesan darah segar.
Eza sempat tak tega, ia hampir mengakhiri kegiatan panas mereka.
"Teruskan mas! Aku baik-baik saja" cegah Adira.
"Kau yakin?" Cemas Eza.
Adira mengangguk cepat, Eza pun kembali menggerakkan pinggulnya.
Dan sampai dini hari mereka masih asyik menggali surga dunia bersama-sama.
__ADS_1