
"Mama ayo kita tidur!" Elvis sudah siap dengan piyama yang ia pakai. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan, Elvis harus segera beristirahat karena besok ia akan kembali bersekolah.
Namun karena beberapa hari lalu Elvis tidak ada di rumah, bocah itu tidak tau kalau sudah dua hari Adira tidur di kamar Eza.
Elvis masih mengira jika ibunya akan tetap tidur di kamar anak, sehingga saat ini pun Elvis mengajak Adira pergi ke kamarnya.
"El, mulai sekarang kamu tidur sendiri lagi ya" ujar Adira, ia tidak bisa lagi menuruti ajakan Elvis, bukan karena tak ingin memeluk putranya semalaman, tetapi ada seseorang yang harus ia temani di tiap malam.
Elvis terbengong, mungkin anak itu lupa kalau sang ibu kini telah menikah dengan Ayah kandungnya.
"Kenapa?"
Adira berjongkok guna mensejajarkan tinggi badan dengan Elvis, mengacak-acak rambut hitam pekat yang terasa lembut di kulit.
"Mama sudah menikah sekarang, jadi Mama tidak tidur di kamar El lagi, Mama tidur di kamar atas dengan Papah mu. El mengerti, kan?" Jelas Adira memberi pemahaman.
Barulah Elvis ingat, ia tahu kalau setelah menikah satu orang lelaki dan satu orang perempuan tidur di kamar yang sama.
Tapi meski demikian, malam ini Elvis benar-benar ingin ditemani oleh ibundanya.
"Tapi El masih mau tidur bareng mama! Kan kita sudah dua hari gak ketemu" tak terima Adira pindah kamar.
"El kan sudah biasa tidur sendiri dari dulu, kenapa sekarang tidak mau ditinggal?"
"El masih kangen Mama! Ayo, kita masuk ke kamar El" menarik lengan sang ibu, berusaha menyeret Adira menuju kamar miliknya.
"Tapi sayang...."
"Ada apa ini?" Eza muncul ketika mendengar keributan, ia pun segera menghampiri dan mencari tau apa penyebabnya.
"Ayo Ma, ayo!!!"
Adira berdiri, ia menjelaskan apa penyebab Elvis merengek seperti ini.
"Elvis ingin aku tidur di kamarnya, bagaimana mas?" Adira bingung, ia pun lantas meminta pendapat dari sang suami.
Setelah tau alasan keributan ini terjadi, Eza lantas beralih pada bocah kecil yang terus berceloteh memaksa Adira ikut bersama dengan dia.
"El.... El kan sudah besar, masa masih mau ditemani terus kalau tidur" berusaha memberi pengertian dengan cara baik-baik.
"Gak mau! El mau tidur sama Mama... Titik!" Tolak Elvis enggan, ia tak akan melepaskan Adira begitu saja.
Eza mendengus, sulit memang kalau berhubungan dengan Adira, Elvis akan keras kepala dan menempel terus pada perempuan yang satu ini.
"El, tidur sendiri ya sayang. Mama temani sampai El tidur"
"Gak! Mama juga harus tidur di kamar El"
Adira melirik sang suami, begitupun yang dilakukan oleh Eza.
"Ya sudah, untuk malam ini tidurlah di kamar El"
__ADS_1
"Mas mengizinkan?" Sedikit ragu, pasalnya Eza pasti tidak akan bisa tidur malam ini kalau Adira berada di kamar Elvis.
"Ya, kasihan dia. Sepertinya dia sedang merindukan mu setelah beberapa hari tidak bertemu" Eza mencoba mengerti.
Adira menunduk memandangi Elvis yang masih teguh pada keinginannya, Adira dilema, tapi ia tak tega meninggalkan Elvis, ia juga merindukan malaikat kecilnya tersebut.
"Baik, terimakasih mas"
Setelah mendapat izin jika ia boleh tidur dengan Elvis Adira pun lantas mengajak Elvis masuk.
"Ayo El, kita ke kamarmu"
***
Beberapa jam kemudian, Eza tampak bergulang-guling di atas kasur, mencari posisi nyaman untuknya agar bisa terlelap.
Tetapi selalu nihil, kelopak matanya berat untuk sekedar terpejam.
Eza menumpuk dua bantal sekaligus, berharap cara kali ini dapat berhasil.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Dan
"Arrrrgggghhhhhhh.....!!!!"
"Kenapa sangat sulit sih?! Aku bisa gila lama-lama!" desis Eza berkecamuk.
"Siall.... Siall... Siall....!" Menjambak rambutnya sendiri sampai berantakan.
Eza bersandar di kepala ranjang, mengatur nafas yang memburu karena emosi yang menggebu.
Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan angka sebelas, sebenarnya raga ini sudah lelah, tetapi kebiasaan Eza yang sudah terikat bertahun-tahun tak bisa lepas begitu saja. Depresi yang membuat Eza ketergantungan obat tidur, jika tidak mengkonsumsi pil itu, maka Eza tidak akan bisa menikmati waktu istirahatnya.
Eza menoleh ke arah pintu, seakan ada magnet yang menarik batinnya untuk keluar dari sini.
Eza mendesah, ia akui jika dirinya membutuhkan Adira.
Tak pernah terpikirkan jika wanita yang Eza pernah benci ternyata menjadi bagian penting sekarang, entah kekuatan atau sihir apa yang Adira pakai hingga bisa menghilangkan mimpi buruk seseorang, bahkan dokter psikiater pun tidak mempan dalam kesembuhan seorang Eza.
"Aku butuh dia, tapi......"
Eza bimbang, apakah dirinya perlu menyusul ke kamar Elvis? Tetapi sudah semalam ini, ia akan membangun penghuni ruangan itu.
Lama Eza menimang-nimang, akhirnya ia kalah pertahanan.
Eza bangkit lalu keluar menuju kamar Elvis, tempat istrinya berada.
__ADS_1
Disinilah Eza berada, di depan pintu kamar sang anak yang terkunci. Tangannya memaku untuk mengetuk.
Setidaknya ia sudah mencoba walaupun nanti hasilnya tidak memuaskan.
Tok Tok Tok!
"Ra....." Eza berteriak kecil, memanggil nama Adira yang belum menyahuti.
"Ra...... Sudah tidur?"
"Ra..... Buka pintunya....."
Eza hampir menyerah, khawatir jika ia terlalu lama berteriak yang bangun bukan hanya anak serta istrinya, tetapi juga seluruh penghuni rumah.
"Mungkin aku harus bergadang malam ini..." Lirih Eza lesu.
Clekkk!
Pintu terbuka dan menampakkan sosok wanita yang Eza cari, seketika raut wajah Eza berubah sumringah, ia tak jadi melangkah menuju tangga.
"Mas?" Mengernyit sembari mengucek-ucek sebelah mata.
"K-kau sudah tidur?"
"Iya mas, kenapa?" Dengan nada parau.
"Emm... A-aku...."
"Susah tidur?" Tebak Adira memotong.
"I-iya...." Aku Eza.
"Masuklah, mas. Tidur disini, Elvis bisa marah kalau aku yang pindah ke atas"
Eza lantas masuk tak lupa mengunci pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, dilihat Elvis sudah tertidur pulas.
Adira naik lagi ke atas ranjang, menggeser Elvis ke samping ranjang dengan begitu Adira yang tidur di tengah-tengah.
Eza melakukan hal yang sama, ia naik dan berbaring di samping Adira.
Setelah memastikan Elvis tidak terganggu, Adira membalikkan badan menghadap ke arah Eza.
"Ayo tidur mas, mas pasti sudah mengantuk dari tadi"
Eza segera masuk ke dalam dekapan Adira, mencari posisi ternyaman baginya. Kehangatan langsung menjalar begitu kulit mereka saling bersentuhan.
"Usap kepalaku" pinta Eza.
Tangan Adira pun terangkat dan membelai bagian tubuh paling atas itu secara lembut, memberikan efek yang besar untuk si pria.
Dan benar saja, mata Eza langsung terasa berat dalam sekejap, rasa kantuk menghampiri begitu cepat. Diperlakukan bak seorang anak kecil yang membutuhkan usapan penghantar tidur di setiap malam.
__ADS_1
Tangan Adira terus mengusap sampai tak sadar jika keduanya telah berada di alam mimpi.
Malam itu, Adira dihimpit oleh bayi kecil dan bayi besarnya secara bersamaan. Ia harus berbagi perhatian pada kedua lelaki tersebut, meski diawal Eza sempat mengalah, namun keadaan membuat dia akhirnya berada di tempat ini.