
Entah kenapa siang ini Qia ingin berkunjung ke rumah Rendy, tadi malam ia sempat bertukar pesan dengan pria itu, dan ternyata Rendy akan berangkat bertugas lagi tepatnya hari ini Rendy akan pergi.
Awalnya ragu, tetapi pada akhirnya ia berdiri di depan pintu rumah Rendy. Sambil menjinjing paper bag berisikan roti buatannya.
Ting Tong!
Qia menekan bel rumah satu kali, hatinya dag-dig-dug sebab Qia tak memberitahu Rendy kalau ia akan kemari, apalagi jantungnya serasa hampir copot ketika Rendy membuka pintu.
"Qia???" Rendy terkejut, tak menyangka perempuan itu datang tidak tau ada apa.
"M-mas Rendy...." Qia tersenyum kikuk, ia bahkan bingung untuk sekedar basa-basi.
"Ada apa Qia? Oh ya, masuklah" Rendy membukakan pintu dengan lebar, membiarkan tamunya masuk ke dalam.
Qia menurut, rumah yang nampak sepi itu menyambutnya dengan hangat.
"Duduklah, aku ambilkan minum dulu. Kamu mau minum apa?" Tawar Rendy.
"Air putih saja, mas"
"Baiklah, tunggu sebentar"
Qia duduk sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang tamu. Dulu ia pernah kesini bersama dengan orangtuanya, untuk melayat mendiang istri Rendy saat meninggal. Kebetulan ibu Qia adalah teman sekelas ibu Rendy waktu SMA, maka dari itu mereka bisa saling mengenal.
Dilihat tak ada foto Rendy dengan mendiang sang istri, mungkin Rendy tak mau terlalu larut dalam kesedihan.
Rendy kembali dengan secangkir air putih dan Snack, ia menyodorkan Qia hidangan sederhana.
"Terimakasih, mas"
"Sama-sama, maaf dirumah ku cuma ada ini" berseru sambil duduk berhadapan.
"Tidak masalah, mas. Aku juga bawa roti buatan ku untuk mas. Mohon diterima" memberi paper bag itu pada tuan rumah.
"Ya ampun, kenapa repot-repot? Tapi terimakasih ya, aku terima ini" Rendy menyimpan benda itu di sampingnya.
Qia mengangguk, sambil merremas jari tangan, ia berpikir untuk menjawab pertanyaan yang akan Rendy ajukan.
"Jadi Qia, ada keperluan apa kamu kemari?" Rendy mulai membahas ke pembicaraan inti.
"Emm.... Aku.... Aku cuma ingin menengok mas Rendy saja kok" tiba-tiba pikiran Qia ngelag.
"Hah?" Rendy ternganga, ada angin apa sampai ingin menengoknya segala.
"M-maksudku... Aku... Ingin bertemu mas Rendy sebelum mas Rendy pergi bertugas, jadi... Jadi aku kemari. T-tidak apa-apa kan mas?" Ujar Qia gugup.
"O-oh... T-tentu saja. Aku jadi merasa tidak enak padamu" sahut Rendy, entah kenapa tiba-tiba saja suasana jadi canggung, tapi sebisa mungkin Rendy bersikap ramah dan terbuka.
"Mas Rendy berangkat jam berapa?"
"Jam tiga sore"
"Mas tugas dimana lagi sekarang?" Ingin tau.
"Di Ambon, aku dipindah tugaskan ke sana" balas Rendy.
__ADS_1
"Ternyata masih tetap jauh juga ya" lirih Qia, ia cukup sedih mendengarnya, sudah seperti wanita yang akan melakukan LDR dengan sang kekasih.
"Kapan kira-kira mas Rendy akan pulang?"
"Untuk itu aku belum tahu, biasanya sampai berbulan-bulan"
Qia termenung lagi, andai saja Rendy seorang polisi biasanya, pasti pekerjaannya bisa pulang pergi setiap hari, sayangnya Rendy punya pangkat yang lumayan tinggi.
"Lalu rumah ini kosong?"
"Ya begitulah, tidak ada siapapun selain aku" diiringi tawa kecil Rendy.
"Sepertinya mas Rendy harus punya pasangan lagi"
"Ya... Mungkin belum waktunya saja, aku... Sedang mencoba merelakan yang kemarin" ujarnya mengarah pada hubungan Rendy dan Adira.
"Mas Rendy sudah melupakan Adira?" Sontak Qia bertanya tanpa ragu.
"Masih mencoba" jelas Rendy.
Qia manggut-manggut, memang tak mudah bagi pria ini melupakan pujaan hatinya selama tiga tahun, tanpa hasil yang bisa dicapai.
"Tapi mas Rendy mau membuka hati untuk wanita lain, kan?" Tanya Qia penuh harap.
Rendy tertawa mendengarnya, entah kenapa pernyataan itu seperti suatu beban bagi Qia, padahal Rendy yang mengalami.
"Pastilah, aku ingin punya teman hidup dimasa tua. Ingin punya keturunan juga" Rendy jujur.
"Siapa wanitanya? Apa sudah ada?" Takut-takut mendengar jawaban Rendy.
"Aku bahkan masih mencoba move on dari Adira, mana mungkin sudah ada wanita pengganti secepat itu. Kecuali.... "
"Kecuali jika kau mau menjadi pasanganku"
Sontak Qia membelalakkan mata, tak pernah terbesit bahwa Rendy akan mengatakan hal demikian. Mungkinkah... Pria ini memiliki rasa terhadapnya?
"Mas Rendy.... Serius?"
"Tentu saja tidak, aku becanda! Hahahaha......" Rendy tergelak, ia merasa lucu ketika melihat ekspresi Qia yang terkejut barusan. Sungguh, baru kali ini ia bisa tertawa lagi.
Seketika Qia berubah kesal, padahal ia sudah dibuat melambung dengan kata-kata Rendy, bisa-bisanya hanya dijadikan bahan guyonan.
"Mas Rendy itu tidak lucu!" Qia mencebik, melipat kedua tangan di atas dada dan memasang wajah galak.
"Hahaha... Maaf maaf, habisnya aku tidak tau kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku" menghentikan aksi tawanya.
Mereka pun berbincang hampir dua jam, dilanjut dengan makan mie instan bersama di dapur, ini pertama kalinya Qia masuk ke rumah Rendy bagian belakang.
Tempatnya nyaman, tapi sayang penghuninya tidak bisa berada di tempat setiap waktu.
"Sini mas, biar Qia cucikan piringnya"
"Tidak usah, biar aku saja"
"Jangan mas, biar aku mas cukup diam"
__ADS_1
"Justru kamu yang cukup diam, kamu tamuku"
Karena tak ada yang mau mengalah ujung-ujungnya mereka mencuci piring berdua, saling berdempetan di depan wastafel tersebut.
"Mas geseran, sempit" menyenggol tubuh Rendy.
"Kamu yang geseran, tubuhmu kecil masa masih sempit"
"Sedikit saja" menyenggol Rendy lagi.
"Aku tidak bisa menjangkau wastafel kalau bergeser, kamu saja" Rendy pun turut menyenggol tubuh kecil Qia dengan badan besarnya, alhasil Qia hampir terjungkal ke pinggir.
"Aaaaa....!"
"Qia!"
Dengan segera Rendy menangkap Qia agar tak jatuh ke lantai.
Deg!
Keduanya tertegun ketika menyadari posisi mereka, Rendy menahan pinggang Qia sedangkan Qia mencengkram bahu pria itu.
Rendy merasa desiran halus tiba-tiba saja muncul menyertainya, tidak pernah ia melihat Qia dari jarak sedekat ini.
Sedangkan Qia jangan ditanya lagi, rasanya bagaikan orang yang menunggu detik-detik kematian.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Sampai sepuluh detik...
Qia membuka suara.
"Mas Rendy......" Tatapan Qia berubah semu.
"Bisakah..... Mas Rendy.... Membuka hati untuk ku?" Lirih Qia memandang bola mata hitam di depannya.
Rendy terperangah, ia segera menjauhkan diri dari Qia.
"A-apa yang kamu katakan Qia? Aku.... Aku bahkan sudah menganggap mu seperti adikku sendiri" Rendy kalang-kabut, ia tidak siap menerima pertanyaan seperti ini.
"Apa aku tidak layak untuk mas?" Bernada sendu.
"Qia, jangan membalas lelucon ku yang tadi. Kamu pasti sedang menggodaku kan?" Tak mau menganggap serius perkataan Qia.
"Bagaimana kalau aku memang serius?"
"Qia kamu... Sejak kapan? Maksudku... Bahkan kamu baik-baik saja ketika aku masih mengharapkan Adira, sahabatmu sendiri, kamu juga yang memperkenalkan kami berdua" belum mengerti dari kapan Qia mengharapkan dirinya.
"Dulu aku hanya sekedar mengagumi mas Rendy, tapi ketika mas Rendy datang ke toko ku Minggu lalu. Aku merasa..... Aku...."
"Mas Rendy pasti mengerti kan maksudku?"
__ADS_1
Rendy diam, cukup syok mendengar ungkapan dari wanita yang dia kenal dari orang tuanya ini. Jadi itu alasan Qia datang ke rumahnya? Lalu selajutnya apa yang harus Rendy katakan?
"Qia jujur aku bingung, aku tidak memiliki perasaan padamu sejak awal. Aku lebih menganggap mu sebagai adikku sendiri, aku sungguh ragu bila kau meminta hal demikian"