MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 73


__ADS_3

Eza merasa tubuhnya kurang fit pagi ini, badannya menggigil seperti sedang berada di ruangan bersalju, ia makin merekatkan badannya dengan Adira, mencari kehangatan melalui suhu tubuh sang istri.


Matahari kian bersinar, tetapi Eza justru semakin kedinginan, ia juga sulit membuka mata, yang bisa ia lakukan hanya bersembunyi di dalam dekapan Adira.


Hangatnya mentari membangunkan sosok wanita di sebelah Eza, hawa menyengat membakar kulit Adira kala bersentuhan dengan Eza, Adira lantas membuka mata lebar-lebar.


"Mas?"


Adira menempelkan punggung tangan di dahi Eza, dan seketika rasa panas menjalar di sekitaran kulit putih Adira, Adira langsung menjauhkan kembali lengannya.


"Mas demam!" Adira segera duduk, namun lengan Eza tak membiarkan pinggang Adira menjauh.


"Mas, lepas dulu. Mas demam, ayo kita ke rumah sakit" Adira panik, ia berusaha melepas lilitan tangan Eza.


"Mas, mas bisa dengar aku?" Adira berbisik, ia makin gusar ketika Eza tak merespon ucapannya.


Adira bangkit dan segera keluar dari kamar, memanggil mertuanya untuk membantu Adira membawa Eza ke rumah sakit.


"Lho Ra, ada apa lari-lari seperti itu?" Tari saat melihat menantunya menuruni tangga.


"Ma, mas Eza sakit"


"Eza sakit? Sakit apa dia?"


"Badannya panas, Adira khawatir! Aku ingin membawa mas Eza ke rumah sakit sekarang, tapi mas Eza sulit dibangunkan"


"Tenang, sayang. Biar Mama panggil dokter ke rumah tidak perlu kalian yang pergi ke rumah sakit. Untuk sekarang kompres dulu saja" ujar Tari menenangkan kekhawatiran Adira.


Adira mengangguk patuh, ia pun mengambil ember kecil beserta handuk untuk mengompres Eza.


Adira kembali ke kamar, disana Eza belum juga bangun dan masih menyelimuti diri dengan selimut tebal.


"Padahal tadi malam baik-baik saja, kenapa tiba-tiba bisa demam begini?" Gumam Adira sembari memeras handuk basah lalu menempelkannya di kening sang suami.


"Ra....." Suara Eza terdengar lirih, tapi Adira masih bisa mendengarnya.


"Ya mas? Mas perlu sesuatu?" Adira sigap.


"Temani aku...."


"Aku disini, mas"


"Peluk aku, aku kedinginan" pinta Eza dengan wajah pucat pasih.


Adira pun naik dan kembali memeluk sang suami, memberikan pria tersebut kehangatan untuk menetralisir suhu tubuh yang sedang tak sehat.


Tak lupa Adira mengganti kompresan setiap saat, juga mengecek suhu tubuh Eza apabila ada perubahan.


Tok Tok Tok


"MAMA.....!!!"

__ADS_1


"BUKA PINTUNYA...!"


"Masuk saja El, pintunya tidak dikunci" sahut Adira.


Elvis pun lantas membuka pintu kamar, bocah kecil itu sudah siap dengan seragam sekolah, ia naik ke lantai atas untuk menemui sang ibu yang tak kunjung turun menemuinya.


"Mama kok lama sih?"


"Sssttt.... Jangan keras-keras ngomongnya El, papah mu sedang sakit" Adira menempelkan jari telunjuk di depan bibir, memberi kode untuk Elvis agar pelan-pelan dalam berbicara.


"Ya udah, tapi kenapa Mama gak turun ke bawah? El mau sarapan terus berangkat sekolah"


"Hari ini ditemani Oma dulu ya, El. Mama tidak bisa meninggalkan papah kamu" jelas Adira meminta pengertian.


Elvis mendengus, ia menghentakkan satu kakinya.


"Om Eza kan bisa ditemenin sama Oma!" Tak mau berbelas kasihan pada ayahnya itu, Elvis masih sebal dengan Eza.


"Gak bisa sayang, Papah butuh Mama sekarang"


"Hari ini aja ya, El kan baik... Minta tolong Oma buat antarkan El ke sekolah" lanjut Adira.


Orang yang diperdebatkan justru anteng tertidur sambil memeluk Adira, entah memang tidak mendengar atau tidak mau ambil pusing.


"Janji cuma hari ini?"


"Iya sayang, besok Mama yang antar El lagi ke sekolah"


"Ya, El. Hati-hati sayang"


***


Dokter memasukkan alat-alat medis seusai memeriksa kondisi Eza, Adira dan Tari menunggu sambil melihat pemeriksaan dokter tadi.


"Bagaimana kondisi suami saya dok?" Ujar Adira cemas.


"Tuan Eza hanya kelelahan, ditambah kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga membuat imun nya menurun. Saya akan beri resep obat untuk kalian tebus di apotik" cakap dokter lelaki tersebut.


Dokter pun menuliskan resepnya lalu menyodorkan kertas itu pada istri pasien.


"Dianjurkan untuk perbanyak istirahat, jangan bergadang terlalu malam, juga konsumsi vitamin secara rutin" tutur dokter.


"Baik, dok" sahut Adira, ia tiba-tiba merasa bersalah karena tadi malam Eza bergadang sebab menunggu dirinya. Mungkinkah karena itu Eza sakit hati ini?


Tatapan Adira beralih lagi pada pria yang tengah terbaring lemas di atas kasur, wajah yang biasanya memancarkan aura dingin itu mendadak berubah lemah, Adira menyalahkan dirinya atas kondisi Eza.


Andai ia tidak mementingkan egonya mungkin Eza tidak akan jatuh sakit, pikir Adira.


"Kalau begitu saya pamit undur diri, semoga Tuan Eza lekas sembuh"


"Terimakasih dokter" balas Adira serta Tari bersamaan.

__ADS_1


"Sama-sama, permisi"


"Biar saya antar ke depan. Ra, mama turun dulu"


"Iya, Ma"


Adira lantas duduk di tepi ranjang, memeriksa lagi suhu tubuh Eza dengan punggung tangan, masih hangat namun tak seperti tadi pagi.


Adira kembali mengompres kening sang suami, tak henti sampai Eza benar-benar mereda.


Tiga puluh menit kemudian.


Seorang pelayan datang membawakan obat yang baru saja ia beli di apotik, beserta satu mangkuk bubur untuk Eza.


Adira membangunkan suaminya untuk makan.


"Mas, bangun dulu.... Ayo makan dan minum obat"


Eza membuka mata perlahan-lahan, Adira mengulang lagi perkataannya serta membantu pria tersebut bangun dan bersandar di kepala ranjang.


"Masih pusing?"


Eza mengangguk kecil.


"Makan dulu, biar aku suapi"


Adira dengan telaten menyuapi Eza suap demi suap sampai bubur itu habis setengah mangkuk, Eza tak sanggup untuk menghabiskan karena perutnya terasa mual, kemudian barulah Eza meminum obat dan kembali istirahat.


Demam Eza ternyata berlanjut sampai malam, Adira makin khawatir takut Eza harus dilarikan ke rumah sakit untuk di opname.


"Ya Tuhan.... Kenapa makin panas seperti tadi pagi? Padahal sudah minum obat dua kali" keluh Adira.


"Astaga, aku harus bagaimana?!"


Pakai kompres pun tak mempan, di beri obat pun tidak langsung bereaksi, Adira berpikir keras untuk meredakan demam suaminya.


Akhirnya sebuah ide muncul di kepala Adira, ia menatap bajunya dengan ragu, mungkinkah cara ini bisa berhasil.


Setelah berpikir cukup lama Adira lantas membuka pakaian tidurnya dan menyisakan pakaian ddalam yang melekat di tubuh ramping itu.


Ia juga membuka pakaian atas Eza tanpa membangunkan si empu.


Sesudah dua orang itu dalam keadaan setengah ttelanjang, Adira langsung merekatkan badan mereka tanpa ada jarak sedikit pun, Adira memutuskan memakai metode skin to skin untuk penyembuhan alamiah.


"Semoga cara ini berhasil" harap Adira.


Ia menahan panasnya suhu tubuh Eza yang menjalar, tak peduli kalau-kalau ia yang malah sakit nantinya, Adira tak bisa menahan kekhawatiran ini.


Detik demi detik berlalu, Adira terus menjaga Eza ditengah malam yang sepi, seperti tak ada rasa lelah untuk sekedar ikut terpejam, Adira berharap sakit Eza membaik menjelang pagi.


Sampai pukul empat, barulah Adira tertidur tanpa melepaskan dekapannya pada Eza.

__ADS_1


__ADS_2