MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 59


__ADS_3

Malam harinya Adira berencana menelpon Arumi, sudah lama ia tidak mengabari wanita paru baya itu, Adira menunggu sampai Elvis benar-benar tidur agar tak mendengar obrolannya di telpon.


Kini Adira sudah duduk ditepi ranjang sambil menggenggam ponsel miliknya, Adira menguatkan hatinya untuk menelpon Arumi, sembari merangkai kata-kata yang tepat untuk mengabari Arumi tentang pernikahan dadakannya.


Telpon sudah terhubung, Adira semakin berdegup dan hampir kehilangan isi pikirannya, jantungnya serasa berhenti berdetak saat telepon itu diangkat oleh Arumi.


"Hallo?" Suara Arumi terdengar lebih dulu.


"Adira? Itu kamu?" Ulangnya memastikan.


"I-iya, Tante" jawab Adira tergugup.


"Ya Tuhan..... Akhirnya kamu menghubungi Tante juga! Kamu dimana sekarang, Ra? Kamu baik-baik saja kan? Kamu masih bersama Elvis?" Rentetan pertanyaan dilemparkan secara bersamaan membuat Adira bingung harus menjawab dari yang mana.


"A-adira baik, Tante"


"Benarkah? Lalu dimana kamu sekarang? Kenapa belum pulang ke Malang?" Nada kekhawatiran terpancar dari suara yang keluar dari setiap kalimat itu.


"Adira.... Adira menginap di rumah keluarga Elvis, Tan"


"Oh ya? Syukurlah kalau memang begitu. Lalu sedang apa Elvis disana? Tante ingin sekali mendengar suaranya"


Pandangan Adira beralih pada sang buah hati yang nampak damai ketika menutup kedua matanya.


"Maaf, Tante. Tapi Elvis sudah tidur" balas Adira.


"Sayang sekali, padahal Tante sangat merindukan anak itu. Tapi tidak apa-apa, lain kali saja. Sering-seringlah menelpon Tante, Ra"


Adira gusar untuk mulai memberitahu Arumi, bagi Adira Arumi sudah seperti ibu keduanya, begitu pun sebaliknya, Arumi menganggap Adira sebagai putrinya sendiri. Wanita tua itu pasti akan terkejut mendengar berita yang akan Adira paparkan, tapi mau bagaimana lagi, Adira butuh Arumi untuk menjadi walinya di pernikahan nanti, kalau bukan Arumi, siapa lagi Adira harus meminta.

__ADS_1


"Tante, sebenarnya ada yang ingin Adira sampaikan..." Seru Adira memberanikan diri.


"Iya, Ra. Ada apa? Katakan saja"


"S-sebenarnya, emm..... A-adira....."


"Kamu kenapa? Santai saja, kamu butuh bantuan?" Menerka-nerka, karena Adira memang tipe yang tidak enakan kalau meminta tolong, nada bicaranya akan langsung terbata-bata seperti sekarang.


Ayo Ra katakan saja... Bukankah ini termasuk kabar baik? Gumam Adira.


"Ra?"


"Adira akan menikah, Tante!"


"Hah?"


Adira memejamkan mata dengan bibir yang terlipat ke dalam.


"Adira akan menikah, Tante. Seseorang mengajak Adira menikah dalam waktu dekat"


"Tapi dengan siapa, Ra? Apa Tante tau orangnya?"


"Dia..... "


"Dia Ayah kandung Elvis" Adira jujur.


"Hah? K-kamu serius?!!"


"Iya, Tante. Kami akan melangsungkan pernikahan Minggu depan"

__ADS_1


"Apa?? T-tunggu Ra, Tante... Tante benar-benar masih bingung, apa ini sungguhan?"


"Iya, Tante. Maaf sudah membuat Tante syok"


Beberapa saat tak ada sahutan dari Arumi, mungkin dia sedang menetralisir detak jantungnya yang hampir copot seusai mendengar berita yang entah menggembirakan atau membingungkan ini.


"Kenapa bisa Ra, bagaimana ceritanya?"


"Kami hanya sepakat untuk mengurus Elvis bersama, Elvis butuh Adira dan Ayah kandungnya, jadi kami memutuskan untuk menikah, dengan begitu Adira bisa selalu bersama Elvis, Tan" jelas Adira seadanya.


Terdengar helaan nafas dari balik sambungan telpon.


"Ra, entah ini kabar bahagia atau sebaliknya. Tapi Tante khawatir dengan rumah tangga kalian nanti, kalian belum saling mengenal bahkan sempat saling membenci sebelumnya, apa kamu sudah memantapkan hatimu untuk memutuskan Ayah kandung Elvis sebagai tempat terakhir kamu berlabuh?"


Deg!


Pertanyaan Arumi sangat menusuk tepat sasaran, untuk kesekian kalinya pertanyaan ini tak bisa Adira jawab, namun Adira tak berani untuk berkata jujur tentang apa yang ada di isi hatinya.


"S-sudah, Tante. Kalian tidak perlu khawatir, cukup doakan supaya pernikahan Adira berjalan dengan lancar dan semestinya, dan satu lagi... Adira minta bantuan Tante untuk jadi wali Adira nanti"


"Kalau itu sudah pasti, nak. Tante dan yang lain akan datang, cukup beri alamatnya saja"


"Terimakasih banyak, Tante. Adira tunggu kedatangannya"


"Kalau begitu Adira, tutup dulu telponnya. Maaf sudah menganggu jam istirahat Tante"


"Tidak sama sekali, Ra. Telepon Tante kapan saja, Tante akan selalu ada untuk kamu dan Elvis"


Tanpa bisa menahannya lagi, Adira meneteskan butiran bening ke area pipinya. Ia segera menutup sambungan di layar ponsel miliknya, kemudian membungkam mulutnya sendiri agar tak mengeluarkan suara apapun.

__ADS_1


Sungguh, ini terlalu menyesakkan untuknya!


__ADS_2