
Elvis pulang ke rumah setelah beberapa hari ikut bersama Arumi dan yang lain, bocah itu terlihat sangat bahagia sampai memeluk Adira yang sudah menunggunya di teras rumah.
"El kangen sama Mama...."
"Mama juga, sayang" Adira mencium seluruh wajah sang putra, tak ada yang ia lewati sejengkal pun.
Selanjutnya Adira menyambut yang lain, ia memeluk semua kerabatnya tersebut, padahal sudah satu daerah tapi baru dua kali mereka bertemu.
"Apa kabar, nak? Maaf kami baru mengantarkan Elvis sekarang"
"Baik, Tante. Tidak masalah, Elvis juga kelihatan sangat senang bersama kalian"
Disaat bersamaan keluarga Gibson muncul menyambut kedatangan keluarga baru mereka.
"Astaga, kalian sudah datang rupanya?"
"Oma!!"
"El?"
Tari langsung memeluk Elvis dengan penuh kerinduan, begitupun dengan Elvis yang mengalungkan tangannya di leher sang nenek.
"Oma kangen banget sama kamu..."
"El juga, El kangen sama Oma, sama semuanya juga..."
Elvis tak lupa memeluk kakek serta ayahnya, kedua lelaki dewasa itu juga sangat merindukan penerus mereka yang satu ini.
Tari memeluk Arumi, meski bukan orang tua kandung Adira tetapi Arumi sudah seperti besan baginya.
"Apa kabar jeng Arumi?"
"Baik jeng Tari, maaf baru sempat kesini lagi" cepaka-cepiki layaknya perempuan pada umumnya.
"Tidak apa-apa, jeng. Mari semuanya masuk" Tari mempersilahkan keluarga itu memasuki rumah, menjamu tamu spesial mereka.
***
Siang itu rumah mendadak ramai tak seperti biasanya, Elvis yang paling terlihat bahagia. Ia bisa bertemu dengan keluarganya dari Malang sekaligus keluarga dari sang Ayah, momen seperti ini sangatlah jarang terjadi, bahkan baru pertama kali.
Di taman belakang, Adira dan Qia tengah berbincang santai. Namun bukan Qia namanya kalau tidak bertanya yang aneh-aneh.
"Bagaimana? Sudah ada tanda-tanda belum?" Bisikan menggoda sang sahabat.
"Tanda-tanda apa maksudmu?" Sedikit bingung dengan pertanyaan Qia.
"Itu loh...." Menunjuk ke arah perut Adira dengan menggunakan bola mata.
Adira melongo tak percaya, "Tentu saja tidak! Memangnya bisa langsung jadi apa"
Qia menyengir diiringi cekikikan keras.
__ADS_1
"Berarti sudah goal dong!" Menaikturunkan alisnya dengan senyum yang menampakkan deretan gigi putih Qia.
Wajah Adira berubah bak kepiting rebus, bisa-bisanya Qia menanyakan hal yang sangat intim pada orang lain, yang malu justru orang yang ditanya.
"Dasar manusia kepo! Itu privasi tau..." Menghindari pertanyaan Qia.
"Ihhh..... Memangnya kenapa? Orang kita sudah sangat dekat, tidak usah malu-malu begitu..."
"Katakan, bagaimana rasanya???" Qia terlihat antusias dan tak sabaran.
"Tidak akan aku beri tahu! Lagian kamu ini ada-ada saja, seperti tidak ada obrolan lain saja" cetus Adira, tidak mungkin ia jujur jika sampai saat ini dirinya dan Eza belum melakukan malam pertama.
Apalagi penyebabnya adalah karena Adira yang belum siap menyerahkan kesucian pada Eza, bisa-bisa Adira ditertawakan oleh Qia, dan jangan sampai berita ini menyebar ke telinga yang lain.
"Aku kan penasaran, ceritakan sedikittttttt...... Saja!"
"Tidak mau!"
"Ayolahhh..... Jawab saja apakah sakit, enak, atau keduanya?" Seloroh Qia membuat Adira melotot.
"Haisss..... Bicaralah yang benar sedikit, lagipula aku tidak akan mengatakannya sama sekali!" Adira tetap dalam pendiriannya.
Qia mengerutkan bibir ke depan, tak puas dengan jawaban Adira.
"Hahhh.... Kamu ini tidak asyik sekali, padahal apa susahnya tinggal jawab" melipat kedua tangan di atas dada.
Adira tertawa renyah, meski agak menjengkelkan tetapi sikap Qia selalu membuat perutnya geli. Karena itulah Adira selalu betah berada disamping wanita ini.
"Bagaimana kabar toko? Lancar?" Mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya, walaupun tidak sedikit para pelanggan yang menanyai keberadaan mu" tutur Qia.
"Benarkah?"
"Hmm... Awalnya mereka bertanya tentang roti yang tidak pernah diproduksi lagi, lalu kami katakan kalau kau belum kembali. Karena itulah mereka mulai bertanya kemana kepergian mu"
"Aku jadi merindukan mereka..." Lirih Adira sendu.
"Maaf ya, mungkin aku menghambat kelancaran tokomu" sambungnya.
"Tidak kok, tenang saja. Mira juga sudah mulai belajar membuat rotinya dari resep yang kau buat"
"Syukurlah" Adira ikut lega.
"Kapan kamu akan berkunjung ke Malang lagi?"
Hening.
Adira termenung sebentar, tiba-tiba ia dirundung pilu, teringat akan mendiang orang tuanya. Adira belum sempat berziarah sebelum berangkat kemari.
"Entahlah, aku juga belum tau"
__ADS_1
"Aku mengerti, jangan paksakan kalau masih belum bisa datang, sekarang kamu sudah mempunyai suami, kamu harus minta izin darinya kemana pun kamu pergi" ujar Qia bermode serius.
"Benar, aku belum mendiskusikan itu. Dia juga kelihatan masih sibuk dan belum bisa meninggalkan pekerjaan, aku tidak mau gegabah, aku harus menghargai kesibukannya untuk saat ini"
"Cieee....... Baik sekali sih istri orang yang satu ini" kembali pada mode jahil yang sebelumnya sempat hilang.
"Jangan mulai Qia....!" Memperingati wanita muda disebelahnya.
"Hahaha..... Sorry, ngomong-ngomong kamu semakin cantik saja setelah disini" puji Qia.
"Y-yang benar?" Membelai wajahnya sendiri.
"Iya, aku tidak bohong!"
"Mungkin karena skincare yang dibelikan oleh mertua ku, harganya memang sangat mahal. Sepertinya berdampak baik di kulit wajahku" Adira menduga.
"Oh ya? Mertuamu memang sangat baik, beruntung sekali kamu Ra"
Adira tersenyum simpul, mertuanya memang sangatlah baik sejak awal, tetapi Eza? Mungkin ketidak beruntungan dia terletak disitu.
***
"Kalian mau pulang sekarang?" Tanya Elvis ketika mendengar kalau mereka hendak pamit.
"Iya, sayang. Sudah sore, sebentar lagi jadwal pesawat kami terbang"
"Yahhh..... Padahal menginap dulu disini, iya kan Oma?"
"Iya, banyak kamar kosong yang bisa kalian tempati" ujar Tari setuju.
"Mungkin lain kali, ya"
Elvis menghembuskan nafas berat, "Ya udah, janji ya lain kali?" Menampilkan senyum manis yang sangat menggemaskan.
"Iya, kami pamit dulu ya"
Mereka pun mengantarkan sampai ke depan teras, disana sebuah mobil disiapkan oleh keluarga Gibson untuk mengantar mereka ke bandara.
"Terimakasih sampai repot-repot menyiapkan kami kendaraan"
"Ini bukan apa-apa, kami juga mau minta maaf karena tidak mengantarkan kalian sampai ke bandara"
"Tidak perlu jeng, ini saja sudah cukup"
"Kalian hati-hati dijalan, beritahu Adira kalau sudah sampai" raut wajah Adira berubah mendung, tak rela melepas para kerabatnya, ia seakan ingin ikut pulang ke Malang.
"Tentu, nak. Kami akan merindukan kamu" Arumi memeluk lagi Adira, kali ini tangis Adira pecah, hatinya terasa berat, tapi lagi-lagi ia harus kuat.
"Jangan menangis sayang, hubungi kami kapanpun kamu mau, kami akan selalu ada"
Adira mengurai pelukan, ia tak boleh berlarut-larut dalam kesedihan.
__ADS_1
"Jaga Elvis, kami pergi sekarang"
Adira mengangguk, sore itu ia menyaksikan kepergian kerabatnya menuju kota bunga yang sangat Adira rindukan.