
Meja panjang dan lebar itu membuat Adira duduk dengan tegang, interior ruangan yang bernuansa klasik tak sedikitpun menggelitik penglihatan Adira untuk memandangnya. Bola matanya terpaku kaku ke depan meja makan.
Kini ia duduk bersebelahan dengan Elvis, anak itu berada di tengah-tengah Ayah dan ibu angkatnya.
Hidangan yang berjejer disana siap untuk disantap.
"Makan yang banyak ya El, biar kuat dan gak gampang sakit" Tari menuangkan nasi di piring milik Elvis, selanjutnya melakukan hal yang sama pada Adira.
"Kamu juga ya, Ra. Makan yang banyak, tenaga kamu pasti terkuras habis setelah merawat Elvis" sambil terus menuangkan makanan karbohidrat itu sampai tiga centong nasi, membuat Adira menghentikannya saat Tari hendak menambahkannya lagi.
"Sudah cukup, Nyonya. Ini sudah lebih dari cukup"
"Baiklah, nanti kalau masih ingin lagi tambah saja ya" sikap Tari yang sangat ramah sedikit mengurangi ketegangan Adira, meski Adira masih merasa sungkan duduk bersama keluarga tersebut.
"Terimakasih, Nyonya"
"Sama-sama, pilih saja lauk yang kamu inginkan"
Adira mengangguk, dan meraih lauk yang paling dekat dengannya.
"Mama, tolong ambilin El ayam kecap itu" tunjuk Elvis meminta bantuan Adira.
"El mau berapa?"
"Satu aja, ma"
Adira lantas mengambilkan ayam tersebut dan menaruhnya di piring sang putra.
"Makasih, ma"
"Sama-sama, sayang"
Interaksi hangat antara Adira dan Elvis selalu mampu menyita perhatian sepasang suami istri disana. Tari dan Arian silih bertatap dan melempar senyum seakan mengisyaratkan apa yang mereka lihat.
"Ternyata El lahap sekali makannya, Oma senang kalau El makannya banyak" tutur Tari ditengah-tengah santapan paginya.
"Soalnya waktu sakit lidah El pahit, jadi sekarang El mau makan yang banyak karena lidah El udah bisa makan enak lagi" sahut Elvis dengan mulut penuh.
Yang lain tertawa gemas melihat tingkah Elvis, ruangan yang dulu sepi kini berubah dengan datangnya Elvis yang ceria, mewarnai suasana yang terasa hampa dan suram.
"Kalau gitu makan yang banyak, ini semua buat El" tambah Tari.
"Iya, Oma!" Sembari sibuk memasukkan sendok ke dalam mulut.
Ditengah-tengah aktivitas mereka yang sedang berlangsung ini, tiba-tiba saja suara wanita terdengar menggema dari arah ruang tengah.
"HELOWWWWWWWWW........."
"GUYS.... WHERE ARE YOUUUUUUUUU......."
__ADS_1
Dan benar saja, tak berselang lama seorang wanita masuk ke dalam ruang makan, diikuti oleh seorang pria yang menggendong anak kecil.
"UPS......!" Wanita itu tampak terkejut dan berhenti mendadak sambil menutup mulutnya.
Semua orang seolah sudah biasa dengan kedatangan wanita ini, mereka tampak santai dan tetap melanjutkan makan, kecuali Adira yang langsung menghentikan suapannya.
"EZA!!"
Eza langsung menutup telinga ketika mendengar suara lengkingan dari perempuan yang berdiri di dekat pintu, tatapan jengkel tak bisa dibendung oleh pria itu.
"Kenapa kau tidak bilang jika membawa calon istri kemari???" Cecarnya sok tau.
"Apa maksudmu?!" Eza melotot mendengarnya.
Sedangkan Adira nampak bersemu mendengar ucapan wanita yang tidak dia kenal itu.
"Jangan pura-pura tidak paham, wanita itu pasti calon istrimu kan?"
"Apa?!! Mana mungkin...!" Elak Eza cepat.
"Elen jangan membuat tamu kami takut, bicara dengan tenang tidak perlu teriak-teriak" Tari pun menjadi penengah diantara anak dan keponakannya.
"Sorry, aku hanya terkejut saja. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Eza membawa calon istrinya tanpa memberitahu ku"
"Sudah kubilang dia bukan calon istriku!" Sangkal Eza sebal, kakak sepupunya ini memang orang paling sok tau sedunia, bahkan setelah menikah saja kelakuannya tidak bisa diubah menjadi sedikit elegan.
"Sayang, jangan buat malu. Bersikaplah ramah pada calon adik ipar kita" tambah lelaki yang tak lain adalah suami dari Elen.
"Huh, kalian sama saja!" pasrah Eza menghadapi pasangan tersebut.
"Elen, Ken, perkenalkan dia Adira.... Ibu angkat Elvis" Arian, menghentikan kesalahan pahaman yang terjadi.
"Apa??"
"Sudah hampir seminggu Adira berada di Jakarta untuk merawat Elvis" lanjut Arian.
"Oh My God, Serius??? Astaga aku baru melihatnya sekarang, kami tidak sempat menjenguk El saat di rumah sakit, kami jadi tidak tau" sesal Elen, mendengar kabar Elvis di rawat sangat membuat Elen sedih ditambah dirinya dan sang suami tak bisa datang menjenguk karena harus pergi ke Bandung untuk melayat saudara dari pihak suami yang meninggal dunia, ditambah Elen mempunyai anak kecil berusia sembilan bulan, bahaya kalau harus membawa putri kecilnya ini ke rumah sakit.
Mendengar Elvis yang hari ini sudah diperbolehkan pulang, mereka langsung meluncur ke rumah besar keluarga Gibson.
"Kalian duduklah, makan bersama kami disini" Arian menawarkan.
"Ah tidak usah paman, kami sudah sarapan di rumah. Lagipula kenapa kalian makan di jam sepuluh coba?" Merasa aneh.
"Kami sengaja ingin makan bersama setelah kedatangan El" imbuh Tari menjawab.
Elen mendekat dan duduk di kursi makan, menaruh paper bag besar yang ia bawa entah apa isinya.
"El, Tante punya hadiah untuk kamu...."
__ADS_1
Elvis langsung mendongak menatap Elen.
"Apa Tante?"
Elen pun mengeluarkan isi paper bag itu hingga membuat Elvis berteriak antusias.
"Ini dia...."
"Wahhhhhh pesawat mainan!!"
"Eitssss..... Tapi ini beda, pesawat ini bisa kita terbangkan loh"
"Terbang?" Elvis melongo.
"Iya, ada remote control nya"
"Asikkkkk..... El mau buka mainannya, Tante!"
"Boleh, tapi habiskan dulu makanannya" dan langsung dianggukki oleh Elvis.
***
Percobaan menerbangkan pesawat mainan sukses dilakukan di halaman belakang, Elvis tak henti melompat-lompat sangking senangnya, ia tak percaya bisa mencoba mainan sebagus dan sekeren ini.
Para lelaki berdiri menemani dan membantu Elvis mengendalikan remot control, sesekali mencobanya sebentar karena ikut penasaran.
Sedangkan para wanita memilih duduk di kursi taman, berbincang-bincang layaknya perempuan pada umumnya.
"Jadi El sudah bersama kamu selama tujuh tahun?" Elen memastikan, sebelumnya ia sudah pernah mendengar sosok ibu angkat sang keponakan dari Tari, tapi Elen ingin mendengarnya langsung dari mulut Adira.
"Betul, Nona. Elvis sudah bersama saya semenjak usianya satu bulan" jelas Adira meluruskan.
"Kalau tidak salah Elvis ditelantarkan di Jakarta, memangnya saat itu kamu tinggal disana?"
"Iya, Nona. Dulu saya tinggal di Jakarta, tapi semenjak orangtua saya meninggal saya memutuskan pindah ke Malang karena makam kedua orang tua ada disana" Adira membenarkan.
"Berapa umurmu sekarang?" Tanya Elen.
"Tiga puluh tahun, Nona"
"Sudah menikah?" Dan dijawab gelengan oleh Adira.
"Belum"
"Umur kamu saat itu masih sangat muda, kenapa memutuskan mengadopsi Elvis?" Elen terheran, karena diumur tersebut dirinya justru masih sibuk berpacaran, menghabiskan waktu bersama teman, dan hal lain yang dilakukan wanita lajang pada umumnya.
Adira tersenyum teduh, memang menjadi tanda tanya besar bagi sebagian orang. Apalagi saat itu hidup sedang susah-susahnya Adira malah menambah beban dengan mengangkat seorang anak yang terlantar.
"Entahlah.... Hati saya langsung terpikat begitu saja ketika melihat Elvis saat itu" lirihnya.
__ADS_1