MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 79


__ADS_3

Adanya bayi cantik yang dititipkan pada Adira membuat wanita dewasa itu sibuk mengurusi Pelita yang sedang aktif-aktifnya.


"Bayi kecil kita mandi yuk! Kali ini Tante yang mandikan ya...."


"Ta ta ta ta ta....." Mengoceh.


"Iya iya kita mandi sekarang ya.... Buka dulu bajunya sayang" Adira melepas pakaian Pelita dengan hati-hati, bayi gembul itu menurut saja sambil tersenyum ceria.


"Wihh perutnya besar sekali.... Cikicikiciki...." Menggelitik perut yang membuncit tersebut.


Pelita tertawa terbahak-bahak, memegang lengan Adira yang mengusap perutnya seolah ingin menghentikan aksi sang Tante.


"Hahaha.... Muka mu sampe merah begini" mencolek pipi chubby Pelita.


Adira lantas membawanya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh Pelita.


Tanpa Adira ketahui Eza sudah pulang bekerja, pria itu tak menemukan sosok sang istri di dalam kamar, namun ia mendengar suara gemercik air, Eza pun kini tau dimana Adira berada.


Eza memilih menunggu sambil melepaskan jas serta dasi yang melilit area leher.


Tak lama Adira keluar sambil menggendong Pelita yang memakai handuk hello Kitty dengan tubuh yang masih basah dilumuri tetesan air.


"Ponakan Tante udah mandi, emm.... Harumnya" Adira sebelum menyadari keberadaan Eza.


Wanita itu terlonjak ketika melihat Eza yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponsel.


"Mas Eza?! Sudah pulang, dari kapan?"


Eza menaruh ponsel di atas meja, "Baru lima menit yang lalu"


"Aku tidak tau, tadi aku sedang memandikan Pelita"


"Tidak apa"


"Sebentar aku pakaikan Pelita baju dulu" Adira lantas mendudukkan Pelita di atas ranjang, memakaikan Pelita baju serta mendandani bayi itu dengan telaten, jiwa keibuan Adira dapat dilihat dari sini, kebiasaan merawat Elvis sejak bayi membuat Adira pandai dalam mengurus anak-anak.


Setelah selesai Adira lalu membawa Pelita di atas karpet dan memberikannya beberapa mainan, Pelita pun dibuat anteng dan asyik bermain sendiri.


Selanjutnya barulah Adira mengurus sang suami, menyiapkan air untuk mandi serta pakaian ganti untuk Eza, tak lupa Adira juga melepas satu persatu kancing kemeja suaminya.


"Kau lelah?" Tanya Eza.


"Tidak, mas. Kenapa?"


"Kau seharian mengurus Pelita, anak umur segitu pasti aktif sekali"


Adira tertawa kecil mendengar ucapan Eza yang seperti mengkhawatirkannya.


"Tidak kok, aku justru senang ada Pelita disini. Aku jadi ada sedikit kerjaan kalau mas dan Elvis tidak ada" ungkap Adira.


"Sepertinya kau suka anak perempuan"


"Tentu saja, anak perempuan lebih lucu daripada anak laki-laki. Kita bisa mendandaninya dengan benda-benda lucu dan warna-warna yang indah"

__ADS_1


"Syukurlah kalau kau tidak keberatan, tadinya aku mau mencari baby sitter saja untuk menggantikan mu menjaga Pelita"


"Ya ampun tidak usahlah, mas. Aku kan sudah bilang kalau aku tidak masalah menjaga keponakan kita"


"Ya, kalau memang itu mau mu"


"Jadi mas sedang mengkhawatirkan aku nih ceritanya" goda Adira dengan satu alis yang terangkat ke atas.


Diperlihatkan ekspresi seperti itu Eza pun jadi salah tingkah, untuk menutupi kegugupannya Eza menarik pinggang Adira membuat dada mereka bertubrukan.


"Daripada mengkhawatirkan mu, sepertinya aku lebih menginginkan mu"


Dan dalam sekejap Eza sudah melahap bibir Adira dengan ganas, menyapu permukaan bibir Adira hingga menembus ke dalamnya.


Adira awalnya tersentak dengan ciuman dadakan ini, namun sebisa mungkin ia menikmati apa yang diinginkan sang suami, Adira mulai membalas luma tan yang ia pelajari kemarin.


Eza makin mengeratkan pinggang Adira membuat perempuan itu mengalungkan lengannya di leher Eza.


"Hmmphh....."


Eza tambah liar, tangannya pun tak cukup hanya diam. Gairah panas yang bersemi muncul lagi, tetapi justru harus dihentikan karena Adira melepas penyatuan bibir mereka.


"Mas, ada anak kecil disini..." Adira mengingatkan.


"Dia tidak akan melihat kita, ayo lanjutkan" hendak kembali mencium sang istri lagi tetapi Adira segera memalingkan muka.


"Mas tidak akan berhenti kalau tetap dilanjut, sebaiknya sekarang mas mandi dulu"


Eza mendengus sebal, gara-gara makhluk kecil buatan sepupunya ia yang malah kena imbas.


"Kita mandi bersama saja!" Seloroh Eza.


"Lalu Pelita?"


"Titipkan pada Mama"


"Haisss... Malu dong, memangnya mas tidak malu?"


Eza diam sebagai jawaban, dengan lunglai Eza berjalan ke dalam kamar mandi dengan hati yang berat karena tak bisa mewujudkan keinginannya.


***


Malam hari setelah makan malam semua berkumpul di ruang tengah, Arian dan Tari hadir untuk menemani Adira yang sibuk mengasuh Pelita yang juga tidur tidur sampai jam setengah sembilan.


"Malem ini Pelita tidur sama Mama?" Tanya Elvis pada sang ibu.


"Iya El, Pelita akan tidur di kamar Mama"


"Kalau gitu El juga mau tidur sama Mama!" Ujar Elvis tak ingin kalah.


"Waduh, cucu Opah ini sudah besar tapi masih mau tidur sama Mama nya. Memang gak malu?" Sahut Arian mendengar keinginan cucu lelakinya.


"Pelita juga tidur sama Mama, masa El gak boleh?"

__ADS_1


"Pelita kan masih kecil, masih suka nangis malam-malam untuk minta mimi. Kalau El gak enggak" timpal Tari.


"Biarin aja! El tetep mau tidur sama Mama" ujar Elvis bersikeras.


Eza komat-kamit dalam hati, hari pertamanya bekerja setelah sembuh dari sakit sudah sangat menguras energi, saat pulang rasa lelah itu malah tak bisa disalurkan, karena bocah-bocah yang tak kunjung pergi dari sisi Adira. Sudah seperti pengawal saja yang menjaga Adira dari pandangan orang-orang jahat.


"El tidur saja dengan Oma dan Opah bagaimana? Soalnya kamu nanti terganggu saat tidur kalau Pelita menangis"


"Eng-gak ma-u! Pokoknya sama Mama"


"Iya iya... El tidur sama Mama, tapi jangan marah kalau nanti El kebangun" Adira memperingati.


"Iya, El janji"


Tari serta Arian geleng-geleng melihat tingkah cucu mereka, sifat Elvis memang sama dengan Eza, keras kepala. Apa yang dia inginkan harus terlaksana dan tak menerima penolakan.


Tiga puluh menit berlalu.


"Ah Opah lupa belum minum obat" Arian teringat.


"Kalau begitu minum sekarang, jangan di nanti-nanti, bisa lupa lagi" titah Tari.


"Kalian istirahat lah, aku yang akan menemani Adira disini" Eza memerintahkan.


"Iya Ma, Pah. Kalian istirahat saja, tidak baik kalau harus bergadang" Adira setuju.


"Baiklah kalau kalian tidak keberatan, kami akan kembali ke kamar sekarang. Kalau kamu butuh bantuan datang saja"


"Baik, Pah"


"Ya sudah kami tinggal ya, selamat malam semua" Tari ikut mengekori sang suami.


"Dah Oma Opah.... Tidur yang nyenyak"


"Dah Elvis sayang...."


Kini hanya tinggal keluarga kecil saja yang berkumpul di sana, mereka mengawasi Pelita yang bermain di atas karpet.


Balita itu seperti nampak bosan lama-kelamaan, ia merangkak menghampiri Adira yang juga duduk di atas karpet menemaninya.


"Ada apa, nak?" Tanya Adira mencoba menebak.


"Mi mi mi mi mi...." Celoteh Pelita sembari menepuk-nepuk bongkahan da da Adira.


"Oh mau Mimi ya? Sebentar ya"


"Emang Pelita pake asi Mama?" Sontak Elvis kebingungan.


"Tidak El, Pelita Mimi pakai dot. Mama mau ambil dulu dot nya, tolong jagain dulu ya"


"Kirain, sini dek... " Elvis pun mengajak Pelita bermain kembali untuk mengalihkan perhatiannya pada Adira.


Dan saat itu, Eza memandang bagaimana Elvis menjaga seorang balita, meski masih suka iri tetapi Elvis memiliki jiwa sebagai seorang kakak, dan itu membuat hati Eza bergetar.

__ADS_1


"Mungkin sudah saatnya Elvis memiliki seorang adik, tapi....."


__ADS_2