
Lama-kelamaan tubuh Adira melemas sertai tatapan yang berubah sayu, gerakan lidah Eza menggelitik rongga perasanya, sensasi aneh timbul tanpa izin dari si empu.
Eza menahan pinggang sang istri yang tak bertenaga, ia tersenyum senang dalam hati ketika berhasil melunakkan wanita dalam dekapannya ini.
Kelopak mata Adira pun ikut turun seolah menikmati apa yang Eza lakukan, ditambah rasa nagih yang tak pernah Adira rasakan, berbahaya memang tetapi Adira tak bisa mengelak jika ini bagaikan candu baginya.
Ketika oksigen sudah tak tersisa lagi, Eza pun melepaskan ciuman tersebut, menyatukan kening keduanya seolah penyatuan bibir itu belum benar-benar usai.
Nafas Adira maupun Eza terdengar menggebu-gebu, saling berebut udara di ruangan yang terasa panas secara mendadak.
"Mas...."
"Aku tau... kau... menikmatinya...." Ucap Eza terputus-putus.
"Kali ini.... Cobalah tanpa malu-malu...."
Tangan Eza terangkat, menyentuh bibir bawah Adira yang membengkak.
__ADS_1
"Bibirmu.... Aku suka!" Ungkap Eza terang-terangan.
Entah kenapa Adira merasa berbunga-bunga, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya, seakan bangga bisa memberikan kepuasan pada sang suami.
"A-aku... Tidak ahli berciuman..." Adira merona.
"Ini ciuman pertama mu?" Ragu-ragu Eza melontarkan pertanyaan demikian, tetapi ia dibuat penasaran.
"Apa... Sangat memalukan jika aku berkata iya?" Ucap Adira sambil menatap kedua bola mata Eza.
"Apa ini? Tatapannya menyala kembali! Apa aku salah bicara?! Kenapa dia seperti terpancing dengan jawaban ku??"
Eza mencium Adira kembali, kali ini dengan gerakan yang sedikit brutal. Hormon estrogennya seketika meningkat ketika mendengar jika ciuman tadi adalah ciuman pertama sang istri, itu artinya dirinyalah satu-satunya bagi Adira!
Adira tak bisa mengontrol aliran sesat yang membisiki jiwanya yang tengah goyah, ujung-ujungnya ia kehilangan akal juga, Adira memilih mengikuti bahasa tubuhnya sendiri.
Ia mengalungkan kedua lengan di leher sang suami, berusaha menikmati segala sesuatu yang dilakukan oleh Eza, Adira pun wanita dewasa yang juga punya gairah serta nafsu pada umumnya.
__ADS_1
Mereka pun saling meluumat satu sama lain, Adira berusaha membalas sebisanya, menggigit bibir bagian bawah Eza seperti yang pria itu lakukan terhadapnya.
"Sshhh.... " Eza mendesis ketika mendapat gigitan tajam.
"Kau mempelajari dengan cepat" ucap Eza disela-sela kegiatan panas mereka.
Wajah Adira memerah, tetapi ia tetap menerima serangan Eza untuk yang kesekian kali.
Tangan Eza tak tinggal diam, satu tangannya turun ke bawah, merremas bo kong sintal Adira yang hanya dibaluti underware.
"Ah...mas!" Adira tersentak, namun Eza tak membiarkan Adira berbicara.
Bunyi cecapan menggema di seluruh sudut kamar, detak jam dinding pun kalah dengan suara peraduan bibir sepasang suami istri tersebut.
Ciuman Eza turun ke leher, mengecap bagian tengkuk Adira serta memberi tanda disana, terus menjelajah ke tulang selangka, kemudian naik lagi ke titik awal.
Adira mengigit bibir bawah ketika Eza mulai menjilati area daada nya, lelaki itu memandang Adira penuh harap, dengan jari telunjuk yang tersemat pada tali bra si wanita.
__ADS_1
"Apa boleh dibuka?" Ujar Eza meminta izin.
Adira ragu, kalau ia mengizinkan apakah kegiatan ini akan terus berlanjut sampai ke atas tempat tidur? Apakah saat ini adalah waktunya Adira melepas kepera wanan yang telah ia jaga? Haruskah ia mengizinkan Eza?