
Setibanya di rumah sakit Elvis langsung dilarikan ke UGD, para perawat langsung memeriksa kondisi Elvis dan memasangkan cairan infus pada salah satu lengan anak tersebut.
"AAAAAAAAA....... SAKITTTTTT!!!" Teriak Elvis ketika jarum suntik menempel di kulit lengannya.
Tari dan Eza berusaha menenangkan Elvis yang histeris sambil memegang erat kedua tangan Elvis agar tidak banyak bergerak karena khawatir jarum suntiknya akan meleset.
"Tenang El, sakitnya cuma sebentar"
"GAK MAU... EL GAK MAU DISUNTIKKKK.....!!"
"Tahan sebentar El, suster sedang pasang infus supaya El bisa sembuh" ujar Tari memberi pengertian pada sang cucu yang terus memberontak.
Hingga infus pun terpasang dengan sempurna, Elvis juga tampak tidak lagi memberontak.
"Tolong jangan banyak bergerak ya, dek. Supaya tidak ada darah yang keluar nanti" petuah suster sebelum berlalu dari sana.
"Tunggu sus, apakah cucunya saya perlu menjalani rawat inap?" Tanya Tari harap-harap cemas.
"Untuk itu tunggu pemeriksaan lebih lanjut dari dokter dulu ya, Bu. Sebentar lagi dokternya akan datang"
Tari pun mengangguk seraya berterimakasih.
"Baik, terimakasih sus"
***
Dokter melepaskan stetoskop ketika sudah memeriksa keadaan Elvis, kini Tari dan Eza juga Arian yang baru datang menunggu cemas keputusan dokter.
"Bagaimana dok kondisi anak saya?" Seru Eza bersuara.
"Panasnya masih tinggi, dan lagi putra anda harus melakukan cek medis terkait penyebab sesak nafas dan lainnya apakah putra anda memiliki alergi atau tidak. Kami harus memastikan lebih dalam" jelas dokter memberi keputusan jika Elvis harus menjalani rawat inap di rumah sakit.
"Tadi dia berenang selama dua jam lebih dok, mungkinkah itu penyebabnya?" Ungkap Tari menduga-duga.
"Bisa saja karena hal itu, namun jika kami periksa lagi sepertinya ada hal lain yang membuat putra atau cucu anda mengalami demam dan gangguan pernapasan"
"Kami akan segera menyiapkan kamar inap untuk pasien, kalau begitu saya permisi memeriksa pasien lainnya" pamit dokter dari sana.
"Terimakasih, dok"
__ADS_1
Selepas kepergian dokter, Tari langsung terduduk lesu di kursi sambil menangis ketika mendengar kondisi Elvis yang semakin memburuk. Ia tentu merasa bersalah karena seharian ini dirinya lah yang mengurus Elvis, meski Tari tidak tau bagian mana yang menyebabkan Elvis menjadi seperti ini.
"Hiksssss...... Kenapa jadi begini...." Lirih Tari menyesal.
"Maafkan Oma sayang, semua ini salah Oma" ucap Tari pada Elvis yang tertidur.
"Sudahlah mah, jangan menyalahkan diri mama seperti ini. Ini bukan salah mama" kilah Eza tak tega melihat ibunya yang berurai air mata.
"Hiksss..... Pokoknya kamu harus bawa Adira kesini Za!! Mama gak mau tau, kamu harus jemput Adira ke Jakarta" tiba-tiba Tari meminta hal tersebut pada Eza.
"Mama gak mau Elvis sampai lebih parah dari ini karena ketidaktahuan kita mengurus Elvis, kamu lihat sendiri kan dia sekarang malah berada di rumah sakit, padahal kita baru sebulan menjaganya!" Tambah Tari dengan tegas.
"Hiksss..... Mungkin jika dari awal Adira ada disini Elvis tidak mungkin jatuh sakit sampai harus dirawat begini! Hikssss.... Ini semua salah kamu Za!!" Bentak Tari emosi.
Eza hanya mampu menundukkan kepala, kali ini ia tak bisa memberi penolakan dengan alasan lain, lagipula sudah sebulan Elvis belum juga bisa ditaklukkan.
"Kamu dengar tidak?!" Sentak Tari melirik tajam putranya.
"Iya, mah" jawab Eza lirih.
"Sudah mah, malu didengar yang lain. Jangan buat keributan disini" Arian pun kini menjadi penengah antara anak dan istrinya, sudah bukan hal aneh lagi ketika dua orang tersebut selalu adu cekcok dimana pun. Tetapi masalahnya mereka sedang di rumah sakit, Arian tak mau suara sang istri menganggu pasien lain.
***
Para keluarga dimohon untuk menunggu di luar ruangan, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Ketiganya duduk di kursi tunggu, mereka berdoa agar hasil pemeriksaan dokter tidak menunjukkan gejala yang parah pada Elvis, mereka sangat khawatir terkait penyakit yang diderita Elvis.
"Pah.... Kenapa dokter lama sekali? Mama makin khawatir" Tari pada sang suami.
Arian kemudian menggenggam tangan istrinya guna menenangkan.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, papah yakin Elvis baik-baik saja. Kita fokus berdoa saja sekarang" tutur Arian bijak.
Sedangkan Eza memilih diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Mungkinkah ia sudah kalah?
Tekad dan usahanya sama sekali tak membuahkan hasil, sampai saat ini Elvis masih menjaga jarak dengannya, bahkan belum memanggilnya dengan sebutan papah.
__ADS_1
Selama sebulan ini ia belum pernah melihat Elvis tertawa sekalipun, hanya kemurungan yang selalu tercetak di wajah tak berdosa anak berusia tujuh tahun tersebut.
Mungkinkah Eza tak akan bisa dekat dengan putranya sendiri?
Mungkin ia terlalu banyak dosa pada putranya sendiri hingga membuat hati kecil Elvis sulit menerima kehadiran. Pikir Eza.
Clekkk!
Pintu ruangan Elvis tampak terbuka, dokter beserta perawat keluar dari ruang inap Elvis.
Eza dan yang lain langsung berdiri mendekat, mereka ingin tau bagaimana hasil pemeriksaan dokter tadi.
"Bagaimana kondisi cucu saya dok? Dia baik-baik kan?" Tari langsung melemparkan pertanyaan pada lelaki berjas putih di depannya.
"Setelah kami cek, rupanya pasien mempunyai alergi. Mungkin terdengar biasa saja, tetapi alergi yang dialami pasien cukup parah" jelas dokter.
"Alergi?" Ulang yang lain memastikan.
"Benar, Pasien alergi terhadap buah ceri. Apakah diantara kalian tidak ada yang tau alergi yang dialami pasien sebelumnya?"
Ketiganya saling bersitatap mendengar pertanyaan dokter, hingga akhirnya Arian yang menjawab.
"Kami sudah lama tidak bertemu dengan cucu kami, sepertinya tadi istri saya tidak sengaja memberikannya karena lupa"
Sang dokter pun mengangguk paham.
Tari semakin dilanda penyesalan, ia sangat ingat jika tadi siang Elvis meminta roti isi dan ia berikan roti isi selai ceri. Jadi itulah yang menyebabkan Elvis langsung demam dan sesak nafas serta mengeluh sakit lainnya.
"Berapa lama cucu saya bisa sembuh dok? Apakah separah itu?" Sahut Tari.
"Mungkin sekitar satu Minggu, namun bisa lebih cepat dari itu jika pasien menjalani perawatan dengan baik" tutur dokter menjelaskan.
"Kalian sudah boleh masuk untuk menengok pasien, tapi tolong untuk tetap tenang selama berada di dalam"
Setelah mendapat izin dari dokter mereka pun tanpa menunggu lama masuk ke dalam ruangan dimana Elvis berada.
Disana Elvis terbaring lemah dengan selang oksigen yang melekat di hidungnya, semua yang melihat dibuat merinding dan ikut merasakan sakit.
Tari seketika menangis tak kuasa menahan sedih melihat Elvis seperti ini.
__ADS_1
Eza pun hanya mematung sambil menatap kosong ke arah ranjang pasien, dimana sang anak terbaring disana.
Seketika pikirannya buntu sehingga tak mampu bereaksi apa-apa, namun kedua tangannya bergetar dengan hebat.