MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 49


__ADS_3

Hari berikutnya Elvis terlihat rapi dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya, anak itu paling menyita perhatian di meja makan. Semua orang tertuju padanya, tak dipungkiri mereka merasa senang bisa melihat Elvis memakai pakaian sekolah dasar, Elvis terlihat sangat menggemaskan dan tampan.


"Sudah selesai, El?" ketika melihat piring putranya bersih tak ada yang tersisa.


"Udah, mah" begitu meminum air sampai tandas.


"Kita berangkat sekarang, mah?" Lanjutnya.


"Iya sayang, sebentar mama ambil tas El dulu di kamar" Adira pun beranjak dari sana.


"Hari ini papah akan antar El ke sekolah" seru Eza pada sang putra.


Elvis mengenyit menatap ayahnya, bukankah ia sudah meminta agar Adira yang mengantar dan menjemputnya? Kenapa sekarang jadi berubah?


"Tapi El pingin sama mama..." Protes Elvis tak setuju.


"Iya papah tau, kita kesana bertiga. Papah kan juga ingin melihat anak papah ini bersekolah" tutur Eza menjelaskan.


Elvis manggut-manggut mengerti, ia pikir ibunya tidak akan jadi mengantarnya, apalagi ini hari pertama Elvis bersekolah di sekolah baru, ia masih sangat malu dan butuh ditemani oleh ibunya.


"Kita naik mobil Om?"


"Tentu, sekalian papah mau ke kantor setelah mengantar kamu"


Lima menit kemudian Elvis dan Adira sudah siap berangkat, di depan teras juga sudah ada mobil yang menunggu mereka, Adira pikir itu mobil yang siapkan Tari khusus untuk mereka.


"Cucu Oma yang baik ya di sekolah" Tari memberi kecupan pada sang cucu sebelum Elvis masuk ke dalam mobil.


"Iya, Oma. El berangkat dulu" tak lupa Elvis menyalimi nenek dan juga kakeknya.


"Jadi anak pintar dan rajin ya El" Arian berujar kemudian turut mencium Elvis penuh kasih sayang.


"Hati-hati ya, nanti kabari kalau sudah sampai disana"


"Iya Oma, dahhhh.... " Elvis melambaikan tangan sebelum akhirnya masuk ke dalam kursi penumpang.


Namun sebelum Adira ikut naik, seseorang yang duduk di kursi kemudi tiba-tiba bersuara dan menyuruh Adira untuk pindah.


"Kau duduk di depan!" Titah pria itu.


Adira langsung menghentikan kakinya dan menatap orang tersebut.


"Tuan?" Adira tersentak mendapati Eza yang ternyata ada di dalam sana, ia pikir pria itu sudah berangkat bekerja sebab tak melihatnya sedari tadi.


"Aku bukan supir mu, cepatlah... !" Ketus Eza.


Tak mau membuat Eza kian emosi, Adira menurut kemudian duduk di kursi samping pengemudi.


Rasanya sangat canggung, ia tak leluasa melihat ke arah manapun apalagi menoleh ke kanan meski untuk melihat Elvis yang duduk di belakang.

__ADS_1


Tapi Adira diam tak berani protes, sampai mobil itu melaju meninggalkan pekarangan rumah.


"Sekolah El jauh gak, Om?" Seru Elvis dari belakang.


"Sekitar 15 menit, tidak lama kok" balas Eza sembari fokus menyetir.


"Kalau di swasta, guru-guru nya galak gak Om?"


"Enggak dong, mereka baik kalau El juga jadi anak penurut"


"Terus kartu ini buat apa?" Menunjukkan benda yang menyerupai kartu debit.


"Itu untuk El beli makanan disana, pakai kartu itu. Papah sudah top up uang untuk jajan El" jelas Eza.


Adira yang menyimak ber oh ria, ia baru tau jika di sekolah Elvis memakai media kartu untuk membeli sesuatu. Sudah seperti orang dewasa saja, ia memang tidak sepenuhnya tau tentang dunia orang-orang berada.


"Jadi El cuma tinggal kasih ini aja ke penjual?"


"Betul, nanti jangan lupa ambil lagi kartunya"


"Oh... Gitu ya"


"Tapi gimana kalau kurang?" Elvis dengan polosnya.


"Mana mungkin sayang, sebelum isinya habis papah akan lebih dulu menambahkannya" Elak Eza tak habis pikir, ia ingin tertawa tetapi diurungkan karena ada Adira disampingnya.


***


Adira tak henti terkagum-kagum, ia sendiri jadi ingin sekolah lagi kalau disini tempatnya menimba ilmu.


"Wahhh, sekolahnya bagus banget.... El suka!!" Dengan girang Elvis melompat-lompat antusias, sekolah yang sangat besar dan keren membuat Elvis jingkrak-jingkrak memuji tempat barunya ini.


Adira dan Eza tersenyum bahagia melihat antusiasme buah hati mereka, tak sia-sia mereka membawa Elvis kemari, anak itu meresponnya dengan suka cita.


"El tunggu sebentar disini, papah mau ke ruang guru dulu"


"Iya, Om!"


Eza pun lantas menuju ruang guru untuk mengkonfirmasi kedatangan Elvis, sekaligus mengurusi sisa-sisa administrasi putranya.


"Kelas El dimana, ma?"


"Mama juga kurang tau El, kita tunggu papah kamu saja ya"


Tak lama Eza datang bersama dengan salah satu guru yang mengajar disana, wanita yang terlihat tak jauh beda dengan umur Adira itu menyapa dengan ramah.


"Selamat pagi, Nyonya. Jadi ini anaknya?"


"Benar Bu guru, ini anaknya. El, beri salam pada ibu guru"

__ADS_1


Dengan patuh Elvis menyalimi wanita tersebut.


"Kalau begitu saya langsung antar saja ya ke kelas, kebetulan kelasnya baru saja dimulai"


"Iya, ayo El..."


Sesampainya di depan kelas Elvis mendadak gugup, tangannya berkeringat dingin.


"Mama.... El malu" ungkap Elvis mengadu pada sang ibu.


"Tidak apa-apa, itu wajar kok. El harus percaya diri oke?"


Sampai nama Elvis dipanggil, dia pun masuk ke dalam kelas dan diperintahkan untuk mengenalkan diri di depan semua orang.


Adira dan Eza mengamati dari luar, Adira merasa Dejavu karena sudah dua kali mengantarkan Elvis masuk sekolah dan melihat anak itu memperkenalkan diri di depan kelas.


Sedangkan Eza merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, hatinya bergetar hebat melihat darah dagingnya sendiri tengah berdiri disana, ini adalah moment pertama dalam hidupnya mengantarkan anak ke sekolah, bahkan saat usia Elvis sudah beranjak besar.


Eza tersenyum bangga dengan mata yang berkaca-kaca, ia sungguh sangat terharu.


Setelah memperkenalkan diri, Elvis dipersilahkan duduk di salah satu kursi kosong, disana para siswa duduk sendiri-sendiri, tak seperti sekolah biasa pada umumnya.


Dari luar, Adira memberi kode pada Elvis jika ia akan pulang sekarang. Elvis mengangguk sebagai jawaban, tak mungkin ia tega membiarkan ibunya menunggu sampai pulang sekolah.


Setelah memastikan Elvis baik-baik saja, Adira lantas mengajak Eza untuk pergi.


"Tuan, kita pergi sekarang?" Imbuh Adira.


Eza segera memalingkan muka guna menyembunyikan wajahnya yang sedang menahan tangis.


"I-iya, kita pergi sekarang" Eza pun langsung melangkah duluan meninggalkan Adira yang terpaku disana.


Tetapi sudut bibir Adira melengkung manakala menyadari kalau Eza tengah berkaca-kaca melihat putranya.


***


Eza mengantarkan Adira terlebih dahulu ke rumahnya, sebelum ia pergi ke perusahaan.


Di sepanjang perjalanan tak ada obrolan sedikit pun, hanya bunyi klakson mobil yang mengisi kesunyian dua insan itu.


Adira terus memandang ke arah jendela, mengamati sudut kota Jakarta yang sudah lama tidak ia jajakan.


Seketika ia rindu orang tuanya semasa hidup, niat hati ingin berkunjung ke rumah lama, tetapi sampai saat ini Adira belum diberi waktu untuk kesana.


Mungkin nanti, nanti, nanti, dan entah kapan tercapainya.


Tanpa terasa mobil Eza sudah berhenti tepat di depan gerbang, Adira tersadar dan buru-buru melepas belt yang melingkari tubuhnya.


"Terimakasih Tuan sudah mengantarkan saja kembali, saya turun dulu" tetapi pintu mobil tak bisa dibuka, masih terkunci dengan rapat. Karena itu, Adira pun berujar.

__ADS_1


"Tuan, pintunya masih...."


"Kau benar-benar akan pulang?"


__ADS_2