
Elvis bernafas lega saat mendapati Adira tidur disisinya, tadi malam ia ketiduran karena tidak kuat menahan kantuk sebab terlalu lama menangis yang membuat tubuhnya lelah.
Tapi syukurlah sang ibu benar-benar menepati janji untuk tidak pulang ke Malang, sebenarnya Elvis tidak masalah mau Adira pulang atau tidak yang penting ia ingin ikut ibunya.
"Mah...." Elvis mencoba membangun Adira, tumben pula Adira belum bangun padahal matahari sudah bersinar terang.
"Mama.... Bangun...."
"Hmmm....." Gumam Adira tanpa membuka mata, mungkin merasa bahwa suara Elvis adalah bagian dari mimpinya.
"Mah bangun udah pagi...." Seraya mengguncang tubuh Adira.
Merasa tidurnya terganggu, Adira lantas membuka mata perlahan, ia melihat Elvis yang sudah bangun entah sejak kapan, perempuan itupun mengernyit heran.
"Jam berapa ini?" Adira melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh, ia seketika mengubah posisinya menjadi duduk, dirinya tak menyangka akan bangun sesiang ini.
"Ya ampun! Apa El membangunkan mama dari tadi?"
"Enggak, El juga baru bangun kok"
"Ya sudah kita langsung siap-siap mandi, nanti El bisa telat masuk sekolah" Adira turun dari ranjang untuk menyiapkan air hangat untuk Elvis mandi.
"El gak mau sekolah!" Tiba-tiba Elvis menolak untuk bersiap.
Adira langsung mengerem kakinya begitu mendengar keinginan Elvis.
"Ada apa, El? Kenapa tidak mau sekolah?"
"Pokoknya gak mau!" Elvis merenggut, tangannya dilipat di atas dada.
Adira mendekat dan duduk di atas ranjang, mencoba berbicara baik-baik apa alasan yang membuat putranya menolak pergi ke sekolah.
"Kenapa sayang? El takut mama pergi lagi?" Adira menebak.
Elvis terdiam tak mengangguk ataupun menggeleng, dia juga tak berani menatap wajah ibunya.
Adira mendekat meraih tubuh putranya ke dalam dekapan, ia harus meyakinkan Elvis bahwa dirinya tak akan pergi kemana-mana.
"Kan mama sudah janji gak akan pulang ke Malang, kenapa El masih takut?"
"Mama bisa aja bohong sama El!"
__ADS_1
"Enggak dong, memang mama pernah bohong selama ini?" Balas Adira membuat Elvis bungkam, memang Elvis tahu bagaimana karakter ibunya, Adira orang yang sulit kalau tidak berkata jujur.
"Tapi El tetep gak mau sekolah!!" Elvis bersikeras.
"Emangnya kenapa? Ada alasan lain?" Mencoba menjadi pendengar yang baik, tak ingin gegabah memarahi anak yang tak mau bersekolah.
"Apa alasannya? Coba beritahu mama, El ada masalah disekolah?"
"Oh iya, mama belum bertanya lagi kenapa kemarin El pulang di jam pelajaran? Katanya El berantem, apa benar?" Lanjut Adira menanyakan.
"Tapi bukan El yang salah...!!" Jawab Elvis membenarkan secara tidak langsung.
"Memang gimana kejadian awalnya? El berantem dengan teman perempuan atau laki-laki?" Seumur-umur Elvis tak pernah memiliki musuh dalam pertemanan, Adira jadi heran sendiri, karena putranya ini bukan termasuk anak nakal meskipun Elvis seorang laki-laki.
"Laki-laki, namanya Bayu!"
"El kesel sama dia! Kemarin kan El ngingetin ibu guru kalau ada PR yang belum di cek, terus di kelas dia sendiri yang gak ngumpulin tugasnya, akhirnya ibu guru hukum Bayu. Pas ibu guru keluar kelas Bayu langsung marah-marah sama El, katanya dia dihukum gara-gara El...!" Cerita Elvis, ia menggeram kesal kalau mengingat kejadian kemarin.
"El langsung minta pulang, El gak betah disana, padahal belum seminggu El sekolah" sambung Elvis.
Kini Adira paham, situasi sekitar lah yang membuat Elvis tak nyaman berada di lingkungan itu. Lagipula dari awal Adira percaya bahwa bukan Elvis lah penyebab pertengkaran itu.
"Tapi El harus tetep sekolah, lagipula apa yang El lakuin kan sudah benar, jangan takut kalau berhadapan dengan dia"
"Mungkin nanti Bayu mau minta maaf sama El, kalau El gak suka liat wajahnya ya gak usah dilihat. Sayang loh, papah kamu sudah bayar mahal-mahal buat El sekolah di tempat yang bagus, kalau El gak sekolah terus nantinya percuma gak akan membuahkan hasil apapun" memberi Elvis sedikit pengertian.
Dengan semua bujukan dan nasihat Adira, akhirnya Elvis pun mau untuk berangkat ke sekolah tetapi dengan syarat Adira harus menemaninya sampai pulang.
Tanpa mempertimbangkan apapun Adira langsung menyetujuinya, tidak masalah kalau harus menunggu sampai jam sebelas siang toh ia juga tidak ada kegiatan apapun disini.
Kini kedua orang itu sudah sama-sama rapi, mereka bergabung di meja makan dan meminta maaf karena terlambat muncul.
Tari dan Arian tidak mempermasalahkan hal itu, malahan tadinya mereka pikir Elvis tidak akan bersekolah dulu mengingat kejadian kemarin yang membuat anak itu pasti tak ingin jauh-jauh dari Adira, jadinya tak ada yang membangunkan mereka.
"Hari ini saya akan menunggu Elvis sampai pulang, dia ingin ditemani katanya" ujar Adira selepas sarapan, Adira pun memberitahukan alasannya.
"Ya sudah kalau kamu juga tidak keberatan, nanti telpon saya kalau sudah waktunya pulang, biar saya suruh supir untuk menjemput kalian" Tari menimpal.
"Sekarang biar Eza yang mengantar kalian berdua, iya kan Za?"
Eza yang biasanya banyak pertimbangan kini langsung mengiyakan.
__ADS_1
Mereka pun pergi ke sekolah menaiki kendaraan Eza lagi, situasinya semakin kaku mengingat keduanya habis berdebat semalam masalah pernikahan.
Sesampainya disana Adira dan juga Eza mengantarkan Elvis sampai ke depan kelas, wali kelasnya sudah menunggu kedatangan Elvis, ia ingin menyelesaikan kejadian kemarin yang membuatnya tidak enak hati sebagai wali kelas dari Elvis.
Bayu, yang merupakan teman sekelas Elvis pun meminta maaf atas pertengkaran yang terjadi kemarin, ia mengaku menyesal telah menuduh Elvis sebagai orang yang membuatnya dihukum. Elvis pun menerima permintaan maaf itu asalkan Bayu tidak mengulangi kesalahannya.
Setelah semua masalah terselesaikan, semua murid pun memulai pelajaran seperti biasa.
"Ayo kita tunggu di kantin" seru Eza pada Adira.
"Kita? Bukannya Tuan harus pergi bekerja?"
"Ya, tapi ada yang ingin aku bahas lagi denganmu"
Adira menghela nafas kasar, sejujurnya ia malas membahas soal yang satu ini.
"Bisakah kita membicarakan nanti saja? Lagipula ini sekolah"
"Tidak bisa! Aku tidak akan fokus kalau belum menyelesaikannya"
"Baiklah" Adira pasrah.
Mereka pun berjalan menuju kantin sekolah, Adira mengekori di belakang, membuat Eza beberapa kali menoleh kebelakang takut ia berjalan terlalu cepat.
Mereka duduk di salah satu kursi meja, kantin tampak kosong melompong, pedagang pun belum semuanya datang.
"Soal kemarin, apa kau sudah memikirkan matang-matang?" Seru Eza memulai.
"Apa yang harus saya pikirkan lagi? Menolak pun anda pasti tidak akan menerimanya kan?" Balas Adira.
"Jadi kau sudah menerima dengan lapang dada?"
"Entahlah, sebenarnya saya tidak mau dengan pernikahan ini" lirih Adira bimbang.
"Kau harus menerimanya, karena kalau tidak Elvis pasti akan terpuruk seperti sebelum-sebelumnya, aku tidak mau menjadi yang tertuduh atas kepergian mu" Eza blak-blakan.
Adira langsung sebal mendengar penuturan Eza, seolah lelaki itu hanya ingin bersembunyi dibalik punggung Adira.
"Kalau begitu cari cara lain saja supaya Elvis tidak mengira Tuan yang menyuruh saya pergi"
"Tidak bisa, lagipula apa kau tidak kasihan dengannya?"
__ADS_1
"Itu bukan urusan saya, Elvis kan putra Anda!" Ketus Adira dengan lantang.