
"Mas Rendy kapan pulang dari tugas?"
"Baru saja, aku langsung mampir ke rumah Adira tadi tapi tidak ada siapa-siapa disana, tetangganya bilang Adira sudah dua bulan tidak pulang"
Qia menunduk sendu, lelaki yang kini tengah berhadapan-hadapan di meja toko bersamanya membuat Qia tak bisa berkata apa-apa.
"Tolong jawab jujur Qia, siapa yang telah menikahi Adira? Dan kenapa Adira sampai mau menikahinya? Aku yakin kamu pasti tau, kau sahabat baik Adira" pinta Rendy to the point.
Qia menggigit bibir dalam mendengar pertanyaan tersebut, ia tidak tega menjelaskan semuanya karena Qia tau pria ini sangat mencintai Adira, bahkan rela menunggu kepastian Adira sampai bertahun-tahun.
"A-adira..... Adira menikah dengan...."
"Dengan siapa? Apa aku kenal orangnya?" Setiap kata yang keluar seperti menahan secuil amarah yang tak Rendy tunjukkan.
"Adira menikah dengan Ayah kandung Elvis" ungkap Qia jujur.
Rendy mengernyit heran, geramannya berhenti oleh rasa penasaran, ia tahu Elvis bukanlah anak kandung wanita itu, tapi yang membuat Rendy bertanya-tanya terkait sosok pria yang telah menikah Adira.
"Bukankah orang tua Elvis sudah tiada?"
"Tadinya kami berpikir demikian, tapi beberapa bulan lalu pria itu datang ke rumah Adira dan mengaku sebagai ayah dari Elvis"
"Dan dengan mudahnya mereka melangsungkan pernikahan?" Rendy menebak.
"Tidak, sempat terjadi drama bahkan sebelumnya mereka saling membenci. Tapi karena Elvis, mereka mencoba untuk bersatu. Dua Minggu lalu, mereka menikah"
Rendy mengepalkan tangan yang berada di bawah meja, sebuah rasa kecewa menyelimuti sosok pria berpostur jangkung dan berkulit kecoklatan itu.
Bertahun-tahun ia mencoba meyakinkan Adira, tapi pria lain dengan mudahnya mendapat wanita yang ia inginkan.
"Aku tau mas Rendy pasti sedih, tapi mungkin ini jalan Tuhan yang terbaik, tidak mudah untuk Adira menerima pernikahannya, tapi aku yakin dia pasti akan belajar untuk menjadi istri yang baik terhadap suaminya kini" tutur Qia menyemangati sosok yang tengah berduka.
Rendy mengambil sesuatu yang tersimpan di saku celananya, menggenggam dengan raut kepiluan yang membentang di wajah.
Perlahan Rendy membuka genggaman tangannya, memperlihatkan benda yang ia pegang.
Qia terperangah melihat kotak kecil yang berisi permata indah tersebut, ia memandang tak percaya pada Rendy, sebuah cincin telah disiapkan Rendy untuk Adira.
"Tadinya aku mau langsung melamarnya, sudah beberapa tahun dan aku merasa ini waktu yang tepat walau Adira belum yakin dengan keseriusan ku"
"Tapi aku tak bisa menunggu lebih lama, aku mau meyakinkan dia hari ini, tapi......."
__ADS_1
"Mas Rendy...." Qia sungguh tak tega, melihat perjuangan seorang pria yang rela menunggu dan berencana datang untuk melamar wanita yang dicintainya, namun harus pupus karena wanita itu sudah dipinang lelaki lain.
"Apa aku begitu tak pantas? Aku menerima Adira dan Elvis sepenuh hatiku, aku sabar menunggu sampai dia mau menerima, tapi apa yang ku dapat? Apa aku sangat buruk sebagai seorang pria?" Imbuhnya menatap Qia.
Mas Rendy sangat sempurna.....!
Qia berkata dalam hati, ia juga bingung kenapa Adira tak bisa menaruh hati pada pria ini, padahal perjuangannya tidak main-main.
"Mas Rendy harus berbesar hati, pasti ada hikmah di balik ini semua"
Rendy hanya memandang pedih cincin lamaran yang kini hanya menjadi bangkai tak berguna, tapi tidak dengan kobaran cinta yang masih terus menyala tak pernah padam.
Rendy menegakkan kembali tubuhnya, menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia berkata.
"Tolong beritahu aku alamat Adira saat ini"
***
Keesokan paginya...
"HELLOOOOOO PARA PENDUDUK BUMI..... RATU ELEN DATANGGGGGGGG......" Suara yang dibuat seriosa itu menggema dan membisingkan seisi rumah keluarga konglomerat tersebut.
Tetapi mereka sudah tidak kaget lagi dengan suara nyaring yang berdengung di telinga, bahkan ketika si pemilik suara menampakkan dirinya, orang-orang yang sedang berkumpul di ruang makan hanya bersikap datar dan tak meributkan teriakan si wanita.
"Kau datang, Elen? Kemarilah ikut sarapan bersama kami" ajak Arian begitu melihat keponakannya.
"Tidak terimakasih, aku sudah sarapan di rumah" tolak Elen halus.
Balita yang ada dalam gendongannya bergerak-gerak riang seolah ingin mengacak-acak meja makan.
"Lantas mau apa kau kemari?" Eza menimpal, nada bicaranya memang selalu tak ramah terhadap kakak sepupunya ini.
"Aku? Hahaha.... Aku mau meminjam istrimu" tunjuk Elen pada Adira.
Eza langsung menghentikan kunyahan mulutnya, nama Adira sudah seperti hal sensitif bagi Eza, tatapan mata pun berubah nyalang.
"Memang ada apa kak?" Adira bertanya, ada apa gerangan sampai dirinya harus dipinjam segala.
"Jadi begini, suamiku ada acara menghadiri undangan rekan bisnisnya di solo dan aku pun harus ikut menemaninya. Tapi aku tidak mungkin membawa putri kecilku ini karena dia baru saja sembuh dua hari yang lalu, sedangkan baby sitter nya sedang cuti pulang kampung. Jadi.... Kau tau maksud ku kan?" Menampilkan deretan gigi putih dengan kedua alis yang bergerak naik turun.
"Kakak ingin menitipkan Pelita padaku? Oh tentu saja, aku sangat senang!" Adira antusias, ia berdiri dan mencuci tangan, selanjutnya menghampiri bayi lucu yang tersenyum girang pada Adira.
__ADS_1
"Sini sayang, Tante gedong" Adira mengulurkan kedua lengan dan mengangkat tubuh mungil nan berisi itu ke dalam gendongannya.
"Tidak apa-apa kan, Ra? Aku mungkin akan pulang sekitar satu atau dua hari"
"Tenang saja kak, tidak perlu mengkhawatirkan Pelita, aku akan menjaganya dengan baik"
"Aaaaa.... Baik sekali sih adikku ini, terimakasih ya. Aku janji akan bawakan oleh-oleh untuk kalian"
"Ya ya.... Pergilah, kau memang selalu merepotkan" cetus Eza pedas.
"Kecuali kau! Aku tak akan bawa apapun untukmu" Elen mengoreksi.
"Siapa juga yang mau barang pemberian mu" balas Eza.
"Ck, kalian ini... Kapan kalian akan akur?" Tari geleng-geleng, ujung-ujungnya pertengkaran Eza dan Elen yang akan terjadi.
"Anak kalian ini sangat menyebalkan, tidakkah kalian berpikir untuk memiliki anak lagi?"
"Hahaha.... Kami sudah terlalu tua, Elen. Kau ini ada-ada saja" Arian terbahak.
"Habisnya sifatnya sama sekali tidak pantas disebut pewaris" cibir Elen.
"Kami mungkin tidak akan menambah anak, tapi tentu kami akan menambah seorang cucu"
"HAH??? ADIRA SUDAH HAMIL....!!!"
"Astaga, selamat Ra!! Kenapa tidak memberitahu ku??"
Adira kelabakan, kenapa topiknya malah menjurus kesana? Jadinya kan salah paham dan Adira harus segera meluruskan.
"T-tidak kak, aku tidak hamil...."
"Apa?? Tadi katanya kau hamil!"
"Tidak, kakak salah paham"
"Belum, El. Adira memang belum hamil, doakan saja semoga disegerakan" Arian ikut menimpal.
"Hahhhh.... Aku kira" Elen mendesah.
"Ya sudah, aku mau pulang lagi sekarang. Keperluan Pelita sudah aku taruh di meja tamu, sekali lagi terimakasih ya Ra"
__ADS_1
"Iya, kak sama-sama. Semoga perjalanannya lancar"
"Tentu, bye semua..... Jangan merindukan ku ya" sambil melambaikan tangan dengan gaya centil yang khas.