
Adira dan Elvis diantar menggunakan mobil Eza, lelaki itu pula yang menyetir karena memang Eza jarang menggunakan jasa supir pribadi.
Tak lupa Eza mengantar Adira pulang sampai ke gerbang rumah.
"Terimakasih, mas" ucap Adira sambil melepas self belt yang melingkari tubuhnya.
"Hmm.... Sama-sama" balas Eza bersuara, tak hanya bergumam saja seperti dulu.
"Hati-hati di jalan" Adira keluar dari mobil sang suami.
Kendaraan roda empat itu pun melaju kembali menuju perusahaan.
Adira berdiri sampai mobil milik Eza benar-benar hilang dari pandangan, barulah Adira masuk ke pekarangan rumah.
Belum sempat Adira masuk ke dalam, suara dering ponsel bergetar dari balik tas milik Adira. Membuat Adira mengerem langkah kakinya di halaman depan.
Saat mengambil benda tersebut ternyata bunyi telpon itu bukan berasal dari gawai milik Adira, melainkan ponsel Eza yang tertinggal di tas nya.
Adira lupa jika tadi Eza sempat menitipkan ponselnya saat hendak ke toilet sekolah, dan sekarang Adira maupun Eza tak ada yang ingat tentang benda satu ini.
"Astaga! Bagaimana ini, mas Eza juga sudah berangkat ke kantor"
Terlihat nama sang asisten yang tertera di layar handphone.
"Sepertinya urusan kantor, apa aku susul saja ke perusahaan mas Eza? Aku tidak enak karena tadi aku memasukkan ponsel ini ke tas, seharusnya aku pegang saja supaya tidak lupa" sesal Adira.
"Aku mau meminjam mobil Mama Tari saja, akan lama kalau aku pesan taksi"
Ia pun masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan sang mertua.
Lima menit kemudian Adira sudah berada di mobil Alphard milik Tari, ia juga diantar oleh seorang supir pribadi.
"Sudah siap, Nona?"
"Sudah pak, kita berangkat sekarang"
Supir mulai menyalakan mesin mobil, dan mereka pun pergi menuju perusahaan Gibson.
***
Sesampainya disana Adira menyuruh sang supir untuk menunggu.
"Tunggu disini saja pak, saya tidak akan lama hanya mengembalikan ponsel saja" titah Adira.
"Baik, Nona"
__ADS_1
Adira lantas turun dari mobil, ia langsung masuk dan menghampiri meja resepsionis.
"Permisi...."
"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?" Ucap resepsionis tersebut.
"Maaf, saya ingin bertemu dengan Mas... Emm maksud saya Tuan Eza, apakah bisa?"
"Tuan Eza? Maaf kalau boleh saya tau, Nona ini dengan siapanya ya?"
"Saya istrinya" jelas Adira.
"I-istri???" Sang resepsionis terbelalak mendengar pengakuan wanita di depannya, syok berat ketika mengetahui bahwa bos nya tersebut ternyata sudah menikah lagi. Kapan? Mungkinkah digelar secara tertutup sehingga pegawai kantor tak ada yang tau?
"Jadi apa boleh saya bertemu?" Ulang Adira.
"S-sebentar Nona, biar saya hubungi sekertaris Tuan Eza terlebih dahulu. Mohon tunggu sebentar"
"Baiklah"
Perempuan berseragam itu pun segera menelpon sekertaris Eza, ia mengatakan jika istri bos nya itu datang untuk bertemu, terdengar nada terkejut dari seberang sana, namun cepat-cepat sang sekertaris mengontrol keterkejutannya.
"Nona anda diperbolehkan untuk naik ke lantai paling atas, disana ruangan Tuan Eza berada"
"Baik, terimakasih"
"Astaga, matilah aku!" Gumamnya tak mengetahui sosok Adira.
Ting!
Lift terbuka, Adira celingak-celinguk disana. Hanya ada dua pintu, yang mana ruangan Eza diantara kedua itu.
Adira bingung, tak ada siapapun di lorong tersebut. Adira hanya melihat meja yang tak berpenghuni, ia melangkah mendekat.
"Sekertaris" Adira membaca papan nama di atas meja.
Ia lantas menengok ke arah pintu, disana juga tertera nama Wakil Presdir.
"Apa mungkin ini ruangannya?" Adira bermonolog.
Ia sedikit mengintip dari balik celah pintu yang sedikit terbuka, disana Adira melihat seorang lelaki berjas tetapi bukan Eza, Adira mengingat-ingat sebentar sebab ia seperti tak asing dengan wajah itu.
"Ah benar, dia asisten mas Eza!" ingat Adira.
"Apa aku ketuk pintu saja ya, aku kan hanya mengembalikan ponsel tidak sampai lima menit"
__ADS_1
Tangan Adira pun terangkat hendak mengetuk, tapi baru saja tangannya mengapung di udara Adira tak jadi melakukannya ketika mendengar suara Eza dari dalam sana.
"Aku membutuhkan dia saat ini, tapi entah kalau nanti"
"Maksud Tuan? Kalau nanti memang apa yang akan Tuan lakukan?" Cakap Rafa tak mengerti.
"Kami tak saling mencintai, Elvis belum cukup besar untuk lepas dari ibu sambungnya, dan aku membutuhkan dia untuk lepas dari kebiasaan mimpi buruk ku. Jika kami sudah saling terbiasa, aku mungkin..... Akan menceraikannya"
DUARRR!!!
Jantung Adira serasa lepas dari tempat, namun debarannya justru berdegup lebih cepat. Dunia seakan runtuh saat itu juga, mimpi buruk justru datang padanya, disaat ia menghilangkan mimpi buruk manusia lain.
Adira yakin, Eza tengah membicarakan pernikahan mereka saat ini!
Bayangan hitam menghantui isi kepala Adira, seolah niat baik yang ia jalani hanya akan menjadi masa suram yang menanti. Semua ini adalah kebohongan! Ia hanya menjadi alat untuk pria itu, tak lebih.
"Tuan, anda serius?! Coba pikirkan lagi, lagipula yang namanya cinta bisa tumbuh seiring berjalan waktu, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat anda dan Nona saling mencintai" saran Rafa tak percaya dengan ide gila bos nya.
"Aku tak berani mencintai seorang wanita lagi, aku tak mau menjadi penjara atas kebahagiaan orang lain, aku tau.... Dia tak bahagia menikah denganku, kami sama-sama terikat karena Elvis. Aku hanya akan fokus pada putra semata wayang ku, dan dia akan bahagia dengan yang lain. Aku pasti, akan melepasnya....." Balas Eza.
Adira tercenung dengan genangan air di pelupuk mata, sakit.... Sangat sakit sampai Adira merasa hatinya dilubangi dengan benda tajam. Otaknya tak bisa berjalan, kosong seperti tak bernyawa, bahkan Adira lupa caranya bernafas.
Adira tersenyum getir, kenapa hatinya harus perih? Bukankah memang ini yang akan ia dapatkan? Meski tak ada janji pranikah apapun, tetapi seharusnya Adira biasa-biasa saja karena kata-kata itu keluar dari mulut lelaki yang tak ia cintai.
"Permisi, dengan Nona Adira?" Seru wanita di belakang.
Adira berbalik, ia menyematkan senyum sembari mengangguk.
"Maaf barusan saya dari toilet, Nona sudah bertemu Tuan?"
"Belum..." Sahut Adira.
"Kalau begitu silahkan masuk, Nona. Tuan ada di dalam"
"Tidak, tidak usah. Saya mau menitipkan ponselnya pada anda saja" Adira merogoh tas dan mengeluarkan ponsel milik Eza, ia lalu menyodorkan barang itu pada sang sekertaris.
"Ini, tolong berikan padanya. Saya harus segera kembali"
"Nona yakin? Padahal Tuan tidak sedang sibuk, anda bisa menemuinya" meyakinkan Adira, barangkali Adira ragu karena takut mengganggu pekerjaan Eza.
"Iya, saya harus pergi sekarang"
"Baik kalau begitu, saya akan memberikan pada Tuan" menerima ponsel dari genggaman Adira.
"Terimakasih sebelumnya"
__ADS_1
"Sama-sama, Nona. Hati-hati dijalan"
Adira mengangguk dan lantas pergi dari sana meninggalkan perusahaan Gibson dengan membawa luka baru dari orang yang akan selalu ia lihat akhir-akhir ini.