MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 65


__ADS_3

Seperti ada sengatan yang mengaliri aliran darah kala mendengar sebutan itu, suara lembut nan mendayu-dayu seakan membelai setiap bagian tubuh yang beradu.


Wajah Eza memerah saat telinganya menangkap basah kata-kata yang terbit dari bibir sang istri, ia melambung tinggi sampai ke atas nirwana.


Tak ada reaksi apapun yang timbul dari eskpresi Eza di penglihatan Adira.


Tetapi tak lama, Adira merasa sesuatu muncul dari tengah-tengah pangkal pahanya. Ia menunduk guna memastikan.


Dan saat itu juga, ia menatap sang suami yang juga memandanginya.


Adira paham, sangat paham! Ia bukanlah gadis belia yang nol tentang pengetahuan semacam ini. Ia wanita dewasa yang mengerti walau belum memiliki pengalaman sama sekali.


"Lupakan itu" tenggorokan Eza tercekat, menjawab apa yang ada di pikiran Adira.


"Lepaskan, Tuan...." Sedikit memberontak dari dekapan suaminya.


Eza justru menarik Adira semakin dalam.


"Kau tidak mengerti juga ya"


"M-maksud ku.... Lepaskan m-mas" Mengkoreksi ucapannya sendiri.


"Bagus!" Setelah itu Eza menjatuhkan Adira ke samping tempat tidur, memeluk erat seperti tadi malam, mencari posisi ternyaman untuknya.


"Mas mau apa?" Tanya Adira saat Eza tak kunjung melepasnya.


"Aku mau tidur!" Sahut Eza to the point.


"Hah? Tidur lagi..."


"Aku belum tidur siang" sambung Eza.


"Kalau begitu mas bisa tidur siang sendiri, aku tidak mengantuk" mendorong bahu sang suami agar menjauh, tetapi tenaga Adira tak sebanding dengan kekuatan yang Eza miliki.


"Diamlah! Jika kau bergerak terus aku mungkin bisa mengukung mu lebih lama"


Seketika Adira diam memaku saat merasakan sesuatu mengeras di bawah sana, ia menelan ludah dengan susah payah, kalau ia tidak menurut mungkin Adira akan menjadi santapan bulan-bulanan singa yang tertidur.


"Boleh aku tau kenapa mas selalu mengigau setiap tidur?" Tanya Adira penasaran, mungkin saja Eza baru selesai menonton film horor sehingga membuatnya terbawa sampai ke alam mimpi.


"Kau ingin tau?" Mendongak menatap wajah si pengusir mimpi buruknya.


"Tentu, karena itu aku bertanya" balas Adira.


"Ada sesuatu, yang menghantuiku setiap menutup mata" ujar Eza dengan intonasi yang serius.


"Apa itu.... Makhluk gaib?" Adira was-was, alasan Eza terdengar menyeramkan.


"Mungkin, dia memang sudah meninggal" lanjutnya.

__ADS_1


"Apa?? Jadi itu benar!" Adira tercengang, tak menyangka Eza mengalami hal mistis begini, ia jadi bergidik ngeri, merasa hawa disekitarnya terasa berubah sepersekian detik.


"S-siapa dia? S-sudah berapa lama mas mengalaminya?"


"Tujuh tahun" tanpa ragu.


"Tujuh tahun? Lama sekali....." Tak menyangka.


"Hmm.... Itu sebabnya aku ingin memuaskan diri dengan memperbanyak tidur sepanjang hari" ungkap Eza jujur.


"Apa itu seperti balas dendam?" Adira terkekeh, kelakuan Eza yang seperti ini nampak lucu di matanya.


"Kurang lebih iya"


"Baiklah, tidur sebanyak yang kau mau Tuan Eza"


"Kau.......!"


"Hahaha.... Maksudku, mas Eza?" Cekikikan dengan nada sedikit menggoda, seraya memeluk leher sang suami, membawanya lebih dekat padanya.


"Apa dengan begini mimpi buruk itu hilang?"


"Hmm... Iya" mulai memejamkan mata.


Deru nafas Eza terdengar teratur, secepat itu pria ini terlelap dalam dekapan istrinya, namun bagian bawah sana justru masih terjaga seolah menunggu untuk ditiduri.


***


"Besok kita kesana ya, sayang" jawab Arumi.


"Besok? Kalian mau nginep disana?" Elvis antusias.


Tapi Arumi menggeleng cepat, "Tidak sayang, besok kami semua mau langsung pulang ke Malang selepas mengantarkan kamu"


Senyum bahagia Elvis langsung surut usai mendengar pernyataan Arumi, bibirnya mengerucut dan nampak sedih.


"Kenapa gak nginep dulu? El masih kangen"


"Karena kami harus beraktivitas lagi, El. Tante Qia juga harus bekerja di Malang" timpal Qia yang berada disana.


"Benar sayang, lusa juga kamu harus sekolah kan?" Arumi setuju.


"Iya sih, tapi kan El masih pingin main sama kalian semua" lirihnya merengek.


Arumi mengelus pucuk kepala Elvis penuh kasih sayang, jarak membuat ia tak dapat mengabulkan permintaan Elvis, tak mudah, ia pun terpaksa pulang karena sang suami juga harus kembali masuk kerja.


"Makanya El sesekali pulang ke Malang, ajak Papa dan Mama kamu menginap disana. Tetangga yang lain kan juga pingin liat papa nya El" cetus Qia mengeksploitasi anak sekecil Elvis.


Elvis makin mencebik, Papanya orang sibuk, mana bisa diajak untuk berpergian jauh jika bukan urusan pekerjaan. Ia berani bertaruh, saat ini pun pria dewasa itu pasti berada di ruang kerjanya.

__ADS_1


(Meski kenyataan berbanding terbalik)


"El gak yakin, Papa kan kerja setiap hari" sungutnya lesu.


"Bicara dulu dengan orang tua mu, siapa tau mereka mau meluangkan waktu" sela suami Arumi.


"Benar, meski tidak sekarang-sekarang tetapi mungkin nanti. Saat liburan sekolah tiba misalnya" Arumi sepakat dengan pendapatan sang suami.


Elvis menyungging senyum miring, ia rindu teman-temannya di Malang, rindu rumah kecilnya bersama sang ibu, rindu bertemu kerabat-kerabat dekatnya di kota bunga itu.


"Iya deh, nanti El bilang dulu sama Mama Papa"


"Anak pintar! Kami sangat menunggu kedatangan kamu disana"


Senyum manis pun terbit kembali di bibir mungil Elvis, meski akan berpisah tapi ia senang sudah diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang ia cintai.


"Kalian janji bakal menunggu El kapan pun?"


"Janji, apa lagi untuk anak manis yang satu ini" Qia mencolek dagu putra sahabatnya.


Elvis tertawa geli.


"Jangan cepat-cepat besar, tetaplah menjadi anak kecil menggemaskan" tambah Qia.


"Kenapa? Kalau El besar, El bisa pulang ke Malang kapanpun yang El mau" heran dengan ucapan Qia tersebut.


"Haisss.... Tapi nanti sudah tidak lucu lagi, tidak bisa dicolek apalagi dicium seperti ini" memperagakan sebuah kecupan di pipi gembul Elvis.


"Elvis akan tetap besar Qia, tapi kamu bisa melakukannya pada adik Elvis nanti" imbuh lelaki para baya tersebut.


"Adik?" Elvis bertanya-tanya.


Qia tergeletak mendengar penuturan itu, tidak salah, toh Adira juga sudah menikah sekarang.


"Hahaha... Benar! Kenapa aku tidak kepikiran ya?" Gumam Qia.


"Maksudnya adik siapa? Emang El punya adik?" Elvis menyela, tak ada yang menjawab pertanyaannya barusan.


"Maksudnya, El akan segera punya adik" tutur Arumi pada bocah yang sedang terheran-heran ini.


"Emangnya kenapa? Mama kan udah punya El"


"El kan sudah besar, Mama Adira pasti akan kesepian karena kesibukan El, makanya El harus punya adik supaya El juga punya teman" Arumi lebih detail.


"Nenek tau adik El nanti perempuan atau laki-laki?" Ujar Elvis polos.


Arumi menggeleng, "Tidak sayang, coba nanti tanyakan pada Mama dan Papa kamu. Biar mereka yang menjawab"


"Benar itu! Tanya pada mereka kapan akan memberi El adik bayi, teman-teman El sudah pada punya lho..." Qia mengompori.

__ADS_1


Arumi dan suaminya hanya terkekeh tanpa bisa menimbrung, mereka takut salah bicara kalau terlalu banyak menimpal.


"Ya udah, nanti El tanyain deh" Elvis bersemangat, ia benar-benar ingin memastikan apakah yang diucapkan oleh ketiga orang tersebut benar adanya atau tidak.


__ADS_2