
Pukul enam Adira bangun dari tidurnya yang hanya empat jam saja, ketika hendak duduk Adira merasa tulang-tulangnya remuk bahkan bagian inti pun kembali terasa perih.
"Sshhhh...... Sakit sekali" desis Adira mengeluh.
Disampingnya Eza masih memejamkan mata, pria itu pasti sangat lelah dan butuh istirahat banyak. Perjalanan dari Jakarta ke Malang secara mendadak dan dilanjutkan pertempuran di malam hari sampai pagi menjelang.
Adira membiarkan Eza melanjutkan mimpinya, sedangkan ia memilih bangkit dari ranjang perlahan-lahan, ketika berdiri sontak Adira memegang perut bawahnya yang terasa ngilu.
"Perasaan semalam tidak sesakit ini" gumam Adira, ia lantas melangkah seperti seekor pinguin, Adira masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap menyiapkan makan pagi.
Satu jam kemudian.
Eza terusik manakala angin pagi menembus pori-pori kulit, tak ada pelukan yang menghangatkan suhu tubuhnya, Eza meraba-raba sebelah sisi tempat tidur untuk menemukan sosok Adira.
Tetapi Eza tak kunjung dapat, kelopak matanya sontak terbuka lebar, dan benar saja tak ada Adira disana, seketika Eza mengangkat kepala, mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
"Raaaa....."
"Adiraaaaaaaa....."
Tak ada sahutan, kemana wanita itu? Eza langsung beranjak dari tempat tidur, mengecek kamar mandi yang ternyata kosong, Eza pun keluar dari kamar dengan hanya memakai boxer saja.
Aroma masakan melewati indera penciuman Eza, kini ia tahu kemana harus mencari keberadaan sang istri.
Eza masuk ke dalam dapur, rupanya Adira sedang sibuk memasak sarapan sampai tak menyadari kemunculan suaminya.
Eza lantas mendekat lalu memeluk Adira dari belakang, menjadikan bahu Adira sebagai tumpuan kepala.
"Mas!" Adira terkesiap, ia menoleh sekilas.
"Minggir mas, aku bau..."
"Hmm.... Tidak kok, kamu wangi"
"Kenapa bangun? Tidur lagi gih, nanti aku bangunkan kalau sarapannya sudah siap" titah Adira.
"Tidak bisa tidur kalau tidak ada kau" seru Eza serak khas bangun tidur.
Satu tangan Adira terangkat menyentuh pipi sang suami, sedangkan satunya lagi terus mengoseng masakan.
"Ya sudah tunggu aku disini, jam sembilan kita berangkat ke makam"
"Hmm... Tapi kita mandi bersama" pinta Eza mengajukan syarat.
Adira memutar bola mata malas, "Tapi janji hanya mandi, tidak ada yang lain"
"Kita lihat saja nanti" gantung Eza.
"Maaaas!" rengek Adira.
"Kenapa? Apa ini masih sakit?" Tanpa aba-aba Eza menyentuh mahkota sang istri, membuat si empu terlonjak kaget.
"Mas! Lepas tangannya" menepuk lengan nakal Eza.
"Memang sudah tidak terlalu sakit, tapi nanti kita bisa kesiangan" jelas Adira.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kalau kesiangan sedikit, orang tuamu juga tidak akan gentayangan kan?" Seloroh Eza bermulut ringan.
"Mas!!!" Adira melotot, meski ia tau suaminya hanya bergurau.
Eza tertawa kencang, senang rasanya bisa bermesraan sambil bercanda tanpa memikirkan gengsi semata, apalagi istrinya bukan wanita yang apa-apa diambil hati.
"Baiklah, tapi janji setelah pulang kau tidak akan melarang ku"
"Heemm.... " Adira malu-malu.
"Heem apa? Bicara yang jelas" tuntut Eza.
"Iya, aku janji. Puas?" Menengok tajam ke belakang.
"Hahaha.... Itu baru istriku" mencium pipi Adira dengan gemas.
Eza pun menemani Adira sampai sarapan pagi mereka selesai, kemudian melakukan mandi bersama. Kali ini Eza tak bohong dengan ucapannya, Adira dibiarkan membersihkan tubuh tanpa ada embel-embel yang lain, setelah semua itu selesai keduanya pun berangkat menuju makam tempat orangtua Adira disemayamkan.
***
Mereka sampai di pemakaman yang hanya menempuh lima belas menit dari rumah Adira, keduanya berjalan beriringan memasuki area itu.
Beberapa orang juga terlihat sedang berziarah.
"Dimana nisan nya?" Tanya Eza.
"Itu, didekat pohon besar itu" tunjuk Adira.
Mereka lantas berlalu kesana, Adira dan Eza berjongkok di depan dua batu nisan yang saling bersebelahan.
"Ayah.... Ibu.... Adira datang" seru Adira.
Datang dengan status yang berbeda, tanpa sempat meminta izin kedua orangtua.
"Maaf Adira baru datang lagi, Adira.... Tidak datang sendiri kali ini" lanjutnya mulai bergetar.
Adira menatap Eza, sang suami tersenyum teduh sambil mengelus punggung Adira, mencoba memberi istrinya kekuatan.
"Adira datang bersama suami Adira Bu... Yah..."
"Adira.... Sudah menikah"
Tes!
Cairan bening luruh membasahi area wajah Adira.
"Perkenalkan Bu... Yah... Ini mas Eza, suami Adira"
"Maaf Adira belum sempat meminta restu kalian waktu itu, tapi Adira janji... Adira tak akan salah memilih"
"Terimakasih sudah mendoakan Adira disana" ciuman mendarat pada kedua batu nisan tersebut, Adira bergeser membiarkan Eza yang kini berbicara.
Pria itu maju di dekat batu nisan, menyentuh prasasti bertuliskan nama diatasnya, walau tak bertemu secara tatap muka, ia masih punya malu karena baru kali ini Eza datang ke makam orangtua istrinya.
"Ibu.... Ayah....." Imbuh Eza.
__ADS_1
"Perkenalkan namaku Eza Gibson, suami Adira putri kalian berdua"
Eza berhenti sejenak, merangkai kata yang tepat layaknya baru pertama kali dikenalkan dengan orang tua sang kekasih, gugup rasanya.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf, karena aku bukan pria yang dewasa seperti jumlah usiaku. Aku minta maaf tidak meminta restu serta izin untuk menikahi putri kalian, maaf... Telah bersikap buruk pada putri cantik kalian, aku sudah banyak melukai hatinya sampai tak terhitung" ujar Eza penuh penyesalan, teringat lagi sikapnya yang kasar ketika awal bertemu Adira.
"Dan saat ini, aku ingin meminta kelapangan hati kalian agar pernikahan kami berjalan dengan lancar, tentunya atas restu dan izin kalian"
"Aku sangat mencintainya..."
"Aku sudah bertekad, untuk selalu membahagiakan putri kalian yang berharga"
"Bahagia lah kalian disana, jangan mengkhawatirkan Adira karena sekarang, dia sudah berada di sisiku, aku akan selalu menjaganya sama seperti kalian menjaganya saat dulu"
Setelah bercakap dengan sangat khidmat, selanjutnya disambung dengan doa.
Eza dan Adira membersihkan tempat peristirahatan terakhir itu hingga bersih, lalu menaburi bunga segar diatas tanah yang sudah disirami dua botol air besar.
"Sudah?" Eza berseru.
"Sudah, mas"
"Mau pulang sekarang?"
"Sebelum pulang aku mau berkunjung ke toko Qia dulu, tidak apa-apa?"
"Tidak masalah"
Keduanya pun keluar dari pemakaman setelah berpamitan, masuk kembali ke dalam mobil, kali ini mereka pergi ke toko roti milik Qia sesuai rencana Adira kemarin.
"Mas..."
"Iya, kenapa?" Sembari fokus menyetir.
"Berapa hari mas akan di Malang?"
"Kamu berapa hari?"
"Emm... Tiga hari mungkin" jawab Adira.
"Nah, itulah jawaban ku"
"Memang tidak masalah kalau mas meninggalkan pekerjaan?"
"Tidak masalah, kemarin-kemarin aku menyelesaikan semua pekerjaan karena tidak ingin pulang"
"Karena tidak mau bertemu dengan ku?" Tebak Adira sedih.
"Sejujurnya aku sangat merindukanmu saat itu, tapi aku perlu banyak merenung, jadi aku memilih menghindari mu dulu" jawabnya.
"Sekarang sudah tidak menghindari ku lagi?"
Eza tersenyum sambil mengacak-acak rambut Adira, "Kalau sekarang siapa yang tahan jauh darimu, melihatmu saja aku sudah ingin menerkam"
"Ishh... Dasar me sum" cibir Adira.
__ADS_1
"Me sum pada istri sendiri tidak masalah dong"
Adira tak menggubris, tetapi diam-diam ia tersenyum senang.