MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 61


__ADS_3

Adira merasa tubuhnya remuk setelah seharian menyambut para tamu, padahal Eza hanya mengundang kerabat dekatnya saja, tetapi sudah seperti satu kampung yang datang. Adira tidak bisa membayangkan jika pernikahan mereka dibuat lebih terbuka, mungkin Adira akan pingsan karena tak sanggup merayakan pesta sampai malam.


Hari sudah petang, dekorasi pernikahan pun mulai diambil kembali, tamu terakhir sudah pulang beberapa menit yang lalu.


Qia dan Arumi serta keluarganya memutuskan menginap di hotel, meski Tari sudah menawarkan mereka kamar tamu untuk menginap beberapa malam. Tetapi Arumi menolak dengan sopan, ia tak mau merepotkan mertua Adira itu sebab Arumi paham mereka semua pasti lelah setelah seharian menggelar acara pernikahan, tetapi malah harus menjamu tamu setelahnya.


Karena itu juga, Arumi membawa Elvis ke hotel tempatnya menginap. Lebih tepatnya Arumi dan Qia menculik bocah kecil itu, dan baru memberitahu Adira setelah mereka tiba di hotel.


Bukan hanya mereka saja yang ingin menuntaskan kerinduan pada Elvis, tapi Elvis juga yang meminta ikut Arumi karena ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan yang lain, dan lagi Elvis mencoba menghindari para tamu yang selalu menggodanya.


Tari dan Eza yang mengetahui itu tak bisa melarang, sebab mereka juga menghargai kedatangan Arumi sebagai bagian dari keluarga Adira, mereka mengerti Arumi dan yang lain pasti merindukan Elvis, semenjak Elvis di Jakarta mereka tak pernah bertemu lagi. Wajar jika hari ini merupakan kesempatan emas untuk menghabiskan waktu bersama dengan anak itu.


"Mandi dan istirahat lah, Ra. Kamu pasti lelah" titah Tari pada wanita yang kini telah menjadi menantunya.


"Benar, nanti kami suruh pelayan membawa makan malam mu ke kamar. Malam ini kita makan malam di kamar saja"


"Baik, Tuan, Nyonya"


Tari mengernyit hingga memunculkan kerutan di keningnya.


"Jangan panggil kami dengan sebutan itu lagi, nak. Panggil kami Mama dan Papa seperti yang Eza lakukan, kamu sekarang telah resmi menjadi menantu kami" perintah Tari memperingati, menurutnya sangat lucu ketika Adira masih memanggilnya Tuan dan Nyonya disaat mereka sudah terikat suatu hubungan.


Adira sedikit geli mendengar sebutan baru yang disematkan untuk sepasang suami istri di depannya ini, Adira lupa sekaligus bingung tadi, makanya panggilan itu mengalir begitu saja dari mulutnya.


"B-baik..." Menurut meski belum terbiasa.


Adira berbalik dan berjalan menuju kamar Elvis, tetapi suara mertuanya menghentikan langkah Adira.


"Kamu mau kemana, Ra? Kamar Eza ada di atas, kamarmu bukan di kamar Elvis lagi" Tari terkekeh melihat tingkah polos Adira.


"O-oh i-itu.... S-saya mau mengambil barang-barang" ujar Adira, bukan alasan semata karena memang benar adanya. Seluruh pakaiannya ada di kamar Elvis, dan lagi Adira belum membicarakan seputar kamar dengan Eza, Adira tidak mau gegabah memasuki tempat pria itu.


"Untuk pakaian sudah kami siapkan di atas tempat tidur Eza, mengenai barang-barang biar pelayan yang memindahkannya. Kamu naiklah ke atas" sahut Tari.

__ADS_1


Adira tak tau lagi harus menolak dengan alasan apa, ia juga tidak tau dimana Eza saat ini, Adira jadi bimbang haruskah ia masuk ke kamar suaminya?


Tari dan Arian tak beranjak sedikitpun, seperti mengawasi Adira.


Dengan langkah berat, Adira menaiki anak tangga sepelan mungkin. Sesekali melirik ke arah orang tua yang melihatnya dengan senyum yang terus tersemat.


"Bagaimana ini? Aku tidak berpikir akan langsung disuruh masuk ke kamar Tuan Eza, bagaimana kalau pria itu marah mendapati aku berada disana tanpa persetujuannya?!"


Sampai di ujung tangga, mertuanya masih memerhatikan Adira, menunggu hingga benar-benar masuk ke dalam kamar.


Adira lalu berdiri kaku di depan sebuah pintu, beberapa kali Adira mengantar Elvis ke kamar Eza, tetapi hanya sampai depan pintu saja. Sehingga Adira tau dan tak bertanya lagi dimana letak kamar pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Adira meraih kenop pintu dan dan memutarnya, Adira menyembulkan kepala terlebih dahulu, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, tak ada siapapun disana.


Sejenak Adira kembali memandang ke bawah, Tari melambaikan tangan menyuruh Adira masuk.


Adira pun memasuki ruangan tersebut dengan sangat hati-hati seperti seorang pencuri, kemudian menutupnya kembali dengan rapat.


Adira menelisik kamar tidur itu dengan bercak kagum, nuansa putih coklat memberi kesan alami dan enak di pandang.


Wanita itu membuka kancing dress panjang dengan perpaduan kebaya yang membuat Adira tak perlu berganti pakaian dua kali.


Setelah dress itu lolos dari tubuhnya Adira buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Eza sedari tadi sibuk menelpon di halaman belakang baru bisa kembali setelah semua orang sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing.


Langkah gontai ketika menaiki tangga membuat tubuhnya semakin lelah, pernikahan kedua ini sebenarnya tidak seberapa dari pernikahannya yang pertama, bahkan tidak diadakan pesta malam. Mungkin karena ia semakin berumur tubuhnya pun lebih lemah dari yang dulu.


Eza mendorong pintu kamarnya yang tidak terkunci, karena tadi Tari sempat meminta kunci kamar padanya entah untuk apa tetapi belum dikembalikan, dan sekarang kamarnya malah tidak dikunci seperti ini.


Setelah masuk, Eza mengerutkan alisnya tatkala mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, tidak mungkin ia lupa mematikan shower tadi pagi, jika memang lupa pun sang ibu pasti mematikannya saat masuk kesini.


Eza mencoba mendekat berniat masuk ke dalam, namun pintunya terkunci membuat Eza yakin ada orang didalam sana.

__ADS_1


"Siapa didalam?!" Suara Eza seperti hendak menangkap seorang pencuri.


Seketika suara gemercik air terhenti, tetapi tak ada sahutan membuat Eza geram.


"Aku bilang siapa didalam?!!"


"S-saya, Tuan" jawab orang tersebut.


Eza membelalakkan matanya ketika mengetahui siapa pemilik suara itu, ia jelas terkejut mengetahui Adira ada di dalam kamarnya, terlebih Adira tak mengatakan dulu sebelumnya.


Eza segera menjauh dari pintu, tubuhnya mundur teratur, matanya tak lepas dari pintu kamar mandi.


Ada wanita di kamarnya, membuat Eza gusar berada di ruangannya sendiri.


Eza membuka tuksedo dan dasi kupu-kupu yang mencekik lehernya sedari tadi, melemparnya ke atas sofa kemudian duduk di kursi tersebut.


Selang beberapa menit Adira keluar dari kamar mandi, menundukkan kepala sembari menutup bathrobe yang melekat di tubuhnya dengan erat.


Ia tau Eza tengah menatap ke arahnya, sebab itu Adira hanya fokus membuka kotak yang berisikan pakaian untuknya.


"Siapa yang menyuruhmu masuk kesini?" Suara Eza mengejutkan Adira.


Adira tetap menenggelamkan kepalanya tak beralih sedikit pun pada Eza.


"Nyo.... M-maksud saya, Mama dan Papa. M-mereka menyuruh saya masuk ke kamar Tuan, m-maaf kalau saya lancang" cicit Adira, seperti seekor kelinci yang ketakutan berada di kandang singa.


Apalagi ketika Eza berdiri dan berjalan ke arahnya!




__ADS_1



Mohon Maaf Kemarin-kemarin Mamie Sibuk Ujian, Jadi Belum Sempat Buat Cerita hehe.... Selamat Membaca Lagi😁😆


__ADS_2