
Pukul sembilan Tari datang seorang diri, suaminya Arian Gibson tidak bisa pergi ke rumah sakit karena ada rapat penting hari ini.
Tari pun membiarkan suaminya berangkat ke perusahaan, Arian akan mengunjungi Elvis sore hari sekalian menjemput sang istri pulang.
Tari tampak gembira setelah melihat perkembangan Elvis yang jauh lebih baik dari kemarin, pemulihan yang pesat tentu berasal dari faktor keberadaan Adira.
Wanita itu berhasil membuktikan jika dirinya menjadi salah satu kunci utama dalam proses penyembuhan Elvis.
Saat datang Elvis sudah sarapan dan minum obat, padahal sebelum ada Adira anak tersebut sangat sulit dibujuk untuk makan sesuap saja.
Dan ketika Tari mengeluarkan pesanan Elvis kemarin, bocah tujuh tahun itupun melahapnya dan makan pagi untuk yang kedua kali.
Nafsu makan Elvis sangat bagus bahkan jika dibandingkan saat anak itu masih sehat, tak pernah Tari melihat cucunya selahap ini.
Tak lupa Tari juga membawakan makanan untuk Adira.
"Adira, kamu makanlah jangan malu-malu. Semoga makanan yang saya bawa ada yang kamu suka ya, coba pilihlah... Saya bawa beberapa macam masakan rumah" Tari menyuguhkan Adira aneka makanan hasil buatannya dengan ART.
Awalnya Tari bingung mau membawa makanan apa untuk Adira, takut tidak cocok dengan selera wanita itu. Jadilah ia memasak bermacam-macam makanan untuk dibawa ke rumah sakit.
Adira ternganga melihat bawaan yang berjejer di atas meja sofa, banyak sekali seperti mau mengadakan acara makan-makan disana. Melihatnya saja perut Adira mendadak kenyang.
"Saya bawa sayur juga, sambal, dan lauk pauk seadanya. Diambil saja, kamu dan Eza belum sarapan kan? Sekarang makanlah, jam makan pagi sudah terlewati dari tadi" titah Tari.
Eza malah sudah mengambil nasi serta lauk pauk yang akan dia makan, tak mempedulikan Adira yang masih diam, seakan mengatakan terserah Adira mau makan atau tidak, Eza tidak peduli.
"Kenapa Adira? Makanannya tidak ada yang kamu suka ya?" Ujar Tari mengira.
Buru-buru Adira menggeleng, makanan yang nampak lezat ini mana mungkin tidak menggugah seleranya.
"B-bukan Nyonya, s-saya hanya sungkan saja" elaknya lirih.
"Sudahlah ma, biarkan saja dia kalau tidak mau makan" celetuk Eza, membuat Tari mengikut sang putra.
"Ssstttt..... Fokus saja pada makanan mu" Tari mendelik, lalu kembali tersenyum pada Adira.
"Jangan sungkan, lagipula saya sengaja membawa banyak makanan untuk kamu. Ayo, dimakan mumpung masih hangat"
Akhirnya Adira pun mengambil piring dan juga isiannya, ia mulai makan di sofa itu ditemani Tari dan Eza yang juga ikut makan.
Setelah makan Eza lantas mandi dan mengganti pakaiannya dengan setelan kantor, sepertinya pria itu akan pergi bekerja.
"Kamu berangkat sekarang, Za?"
"Iya mah, Eza juga harus ke perusahaan"
"Ya sudah, tapi jangan pulang terlalu larut" pinta Utari.
__ADS_1
"Hmm... Tentu, aku hanya akan menyelesaikan beberapa laporan yang tertunda"
"Baiklah, hati-hati...."
Eza mengangguk kemudian menghampiri ranjang pasien, sebelum berangkat tentu ia harus mengecek dulu kondisi putranya agar Eza juga bisa tenang saat di kantor.
"Elvis... Papah berangkat kerja dulu ya, tidak apa-apa kan papah tinggal sebentar?"
"Gapapa Om, El gak sakit kayak kemarin kok" ungkapnya.
"Syukurlah, ada yang mau dititip untuk nanti sore?"
"Emm.... Kayaknya enggak, Oma udah bawain pesanan El" sambungnya.
"Kalau gitu papah berangkat dulu ya...."
"Iya, Om"
Eza lantas berbalik, tatapannya seketika beradu dengan Adira yang berdiri tak jauh dari ranjang pasien.
Sambil melangkah, Eza berbisik pada wanita itu.
"Aku titip El..." Cicitnya.
Membuat Adira terkesiap dan refleks menatap ke arah Eza yang sudah keluar dari kamar inap.
Tanpa bisa dicegah Adira tersenyum lucu, tapi buru-buru ia mengontrol raut mukanya.
"Dasar gengsian!" Umpat Adira dalam hati, terkekeh dengan sikap Eza yang sok dingin itu.
***
Siangnya Elvis kembali tertidur, kini hanya menyisakan dua orang di ruangan itu. Dua wanita berbeda generasi yang tidak memiliki ikatan darah sama sekali tapi takdir mempertemukan keduanya melalui Elvis.
Tari banyak bertanya mengenai Elvis di masa-masa dulu, serta beberapa fakta seputar kehidupan dan sosok Adira.
"Kalau saya tidak salah dengar, Elvis pernah bertanya tentang Oma Arumi ya? Kalau boleh tau... Dia itu, orang tua kamu?" Tebak Tari beropini, dilihat dari ucapan Elvis sepertinya anak itu sangat dekat dengan wanita yang dia sebut Oma seperti dirinya.
"Bukan Nyonya, beliau bukan orang tua saya. Melainkan sahabat dari mendiang ibu saya" tutur Adira.
"M-mendiang?" Ulang Tari memastikan.
"Benar, Nyonya. Saya sudah yatim piatu" lanjut Adira.
Sontak Tari terperangah mendengarnya, padahal Adira masih muda dan sepertinya umurnya tidak jauh berbeda dengan Eza. Tapi ternyata kedua orang tuanya sudah tiada.
"M-maafkan saya Adira, saya tidak bermaksud membuat kamu sedih" Tari tak enak hati.
__ADS_1
Tapi Adira malah tersenyum manis padanya.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya paham"
"Lalu... Kamu tinggal dengan siapa sekarang? Maaf sebelumnya saya tidak bertanya lebih awal, apakah kamu sudah mempunyai suami?"
"Bisa dibilang, saat ini saya sebatang kara. Tapi meski begitu masih banyak orang yang perduli dan membantu saya. Soal suami, saya belum memiliki suami" Adira panjang lebar.
Sulit dipercaya, ternyata Adira memiliki segudang kehidupan yang jauh dari perkiraan Tari.
"Kalau boleh tau, memang usia kamu berapa Ra?"
Dengan lantang Adira menjawabnya.
"Tiga puluh tahun, Nyonya"
Lagi-lagi Tari dibuat tercengang, wanita paru baya itu sampai terdiam beberapa saat.
"Kenapa, Ra? Saya yakin banyak pria yang mau meminang wanita cantik dan baik seperti kamu. Apa alasannya? Apakah.... Karena Elvis?" Takut-takut Tari bertanya, jika memang benar, Tari tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ada beberapa alasan sebenarnya, bisa dibilang juga... Elvis menjadi alasan utama, menikah harus membuat saya berpikir jutaan kali untuk masa depan Elvis. Saya ingin fokus pada tumbuh kembang Elvis, lagipula tidak ada batasan umur untuk menikah"
"Ra....." Tari tidak tau harus menjawab apa.
"Saya sangat terharu dengan kasih sayang kamu untuk Elvis, bahkan kamu dan Elvis tidak punya ikatan darah sedikit pun, tapi cinta kamu mengalahkan kasih sayang ibunya sendiri" lirih Tari tersentuh.
Adira tak menanggapi apapun, namun ia jadi penasaran dengan kata-kata Tari yang terakhir. Apa maksudnya?
"Maaf Nyonya, a-apakah... Ibu kandung Elvis tidak menyukai Elvis?" Tanya Adira hati-hati.
Tari menghela nafas berat, sebenarnya ia takut mendapat dosa jika membahasnya, akan tetapi Adira juga berhak tau.
"Entahlah... Tapi dia tega membuang Elvis begitu saja"
Duarrrrr!!!
Seperti disambar petir dahsyat, Adira terbelalak akan pengakuan Tari. Akhirnya pertanyaan yang tersimpan sejak tujuh tahun ini pun terjawab sudah. Kenyataan menyakitkan yang membuat hari Adira tergores mendengarnya.
Kenapa??? Kenapa dia begitu tega?!
Apa yang wanita itu pikiran?!! Sampai-sampai membuang anaknya sendiri ke jalanan!!
"D-dia membuang Elvis???"
"L-lalu..... Dimana dia sekarang?"
Pertanyaan itulah yang membuat Tari sulit untuk mengeluarkan semua kekesalannya, bahkan untuk sekedar mengumpatnya saja Tari tak berani.
__ADS_1
"Dia sudah meninggal"