
"A-apa?!!"
Belum hilang keterkejutan Adira, kini ia dilanda fakta mencengangkan selanjutnya! Kenyataan tentang ibu kandung Elvis yang rupanya sudah meninggal membuat Adira syok berat dengan berita tersebut.
Sedari kemarin Adira memang bertanya-tanya seputar keberadaan ibu kandung anak angkatnya, tadinya Adira menduga bahwa ibu kandung Elvis tengah berhalangan hadir karena beberapa alasan, bisa saja karena sakit atau memang mempunyai masalah dengan keluarga besar Eza.
Bukan berarti Adira berpikir sampai sejauh ini, sama sekali tidak terpikir dalam benaknya jika perempuan yang telah melahirkan Elvis sudah dipanggil oleh yang Maha Kuasa.
"S-sejak kapan dia meninggal?" Masih belum menyangka sepenuhnya.
"Dia meninggal......"
"Tepat dihari Elvis dilahirkan"
Deg!
Adira sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali, banyak kisah kelam yang belum terungkapkan, kisah dibalik bayi yang dibuang tujuh tahun lalu rupanya banyak alasan rahasia yang belum Adira ketahui.
"Jujur, saya belum seratus persen mengerti. Jika mendiang ibu kandung El meninggal tepat di hari melahirkan Elvis. Lantas apa alasan sebenarnya beliau meninggal dan siapa yang membuang Elvis kala itu???"
"Nyonya bilang ibu kandung El tega membuang bayinya sendiri, sementara Elvis ditemukan beberapa hari setelah lahir. Berarti Elvis dibuang melalui orang lain, karena saat bayi itu ditelantarkan otomatis ibu kandung El telah meninggal beberapa hari sebelumnya"
Tari membenarkan dalam hati, memang benar apa yang dikatakan oleh Adira, tapi sampai saat ini ia dan yang lain juga masih memiliki tanda tanya besar yang belum terpecahkan.
"Kamu benar, tapi sayangnya... Sampai saat ini kami tidak tau siapa orang yang diperintahkan Farita untuk membuang Elvis"
Farita? Jadi namanya Farita??? Kenapa nama seindah itu bisa tega menelantarkan Elvis, padahal dia bisa saja memberinya pada Eza jika memang tidak menginginkan bayinya.
"Kemungkinan orang itu masih hidup, tapi jejaknya sangat sulit untuk kami geledah. Hingga membuat kami kesusahan mencari keberadaan Elvis" lanjut Tari.
"Dia harus dihukum karena telah ikut dalam kasus penculikan anak, meski kami tidak tau apa hubungannya dengan mendiang Farita, tapi tidak seharusnya dia membuang Elvis seenaknya" sambil mengepalkan kedua tangan sebagai tanda kekesalan.
"Lalu bagaimana tanggapan keluarga dari almarhumah? D-dan.... Apakah mereka juga tidak menyukai Elvis?"
Tari menatap Adira sejenak, kemudian tertunduk kembali dengan sorot mata tegas yang baru pertama kali Adira lihat.
"Setahu kami hubungan Farita dan keluarganya kurang baik, semenjak Farita hidup pun mereka jarang mengunjungi mendiang, saat pemakaman saja hari itu juga mereka terbang ke Aceh" ungkap Tari tanpa ada yang ditutup-tutupi, sudah lama ia ingin bercerita dengan sesama wanita, tapi Tari tau jika mulut perempuan tidak ada yang bisa diandalkan dan pasti akan menyebar ke telinga masyarakat.
Tapi bersama Adira, entah kenapa mulutnya tiba-tiba saja mengalir tanpa ada beban sedikit pun.
Tatapan Adira berubah nanar, hatinya mendadak merasa iba pada ibu kandung Elvis, padahal tadinya ia merasa perempuan itu adalah wanita paling jahat di dunia.
"Boleh saya tau, apa penyebab almarhumah meninggal? Apakah karena suatu penyakit tertentu ataukah....."
__ADS_1
"Tidak Adira, dia tewas bunuh diri"
DUARRRR!!!!
Setelah tadi rasanya disambar petir, kini tubuh Adira bergetar tanpa bisa dicegah.
Meninggal? Bunuh diri??!!!
Lelucon macam apa ini?!!
Mereka pasti melebih-lebihkan agar Adira ketakutan, iya kan?!!
Mereka pasti membuat cerita palsu!!
Tidak...
Tidak...
TIDAKKKK.....
Elvis ku.... Kenapa hidupmu sangat malang sekali nak??
Setelah dibuang oleh ibumu, bahkan sampai kapanpun kamu tidak bisa melihat wajah ibumu sendiri, dia pergi.... Dia sengaja pergi dengan menggantung nyawanya sendiri.
Adira spontan menatap Elvis yang terpejam diatas ranjang, wajah teduh tak berdosa itu harus memiliki kisah awal yang sangat memilukan.
"Apa Elvis tau tentang ini?"
"Sepertinya sampai kapanpun kami tidak berani untuk memberitahunya" lirih Tari termenung.
Adira paham, anak sekecil itu akan merasa ketakutan jika harus mendengar cerita tragis ini. Tapi jika sudah besar, Adira khawatir Elvis akan lebih trauma dan berubah kepribadian.
Adira tak mau itu terjadi!! Elvis tak boleh merasa tidak ingin dilahirkan ke dunia, itu akan membuatnya berkecil hati dan menjadi suka murung sendiri.
Mungkin memang cara terbaiknya menunggu waktu yang pas, sampai saat dimana Elvis bisa menerima keluarga Eza sebagai tempat asalnya.
***
Sampai malam hari Adira tak henti-henti menatap putranya dengan tatapan berbeda, Elvis yang menyadari itupun beberapa kali bertanya.
"Mama kenapa? Sedih karena El sakit? El kan udah baikan sekarang" Elvis terheran, mata sayu Adira membuat Elvis tidak nyaman.
"Enggak kok sayang, mama cuma pingin liat El terus. Kok kayaknya El kurusan?" Adira beralasan sembari bertanya hal lain.
__ADS_1
"Kalau di rumah besar, El jarang makan. Lebih suka ngemil, soalnya El gak nafsu makan" jawab Elvis jujur.
"Kenapa? Padahal kan makanannya pasti enak-enak, kok lebih suka ngemil?"
Elvis berpikir sejenak, ia juga bingung alasan tiba-tiba nafsu makannya hilang.
"El gak tau, ma" sambil mengedikkan bahunya.
"Kalau sekarang, sudah mulai mau makan lagi?"
"Mau, tapi mama yang suapi" Elvis memberi syarat, sejak kemarin Adira selalu menjadi yang paling sibuk merawat Elvis. Karena semua kegiatan anak itu hanya ingin dibantu oleh Adira, Adira pun dengan senang hati melakukannya demi Elvis.
"Iya nanti pasti mama suapi, kok. Sekarang kan El sudah makan walaupun gak habis, waktu ya El minum obat"
"Kenapa banyak banget obatnya, emang sehari El harus minum berapa kali?" Sepertinya bocah tersebut sudah mulai bosan mengkonsumsi ramuan pahit yang diberikan dokter, dari pagi hingga malam obat itu tak pernah habis.
"Suster bilang sehari tiga kali, pokoknya El harus minum sampai semuanya habis. Biar El juga sembuh maksimal nanti" jelas Adira memberi pemahaman.
Eza yang sedari tadi fokus mengutak-atik laptop rupanya diam-diam mendengarkan obrolan Adira dan Elvis dengan seksama.
Mungkin memang sekedar obrolan ringan, akan tetapi mampu membuat pria gagah yang duduk di sofa sana iri melihat keakraban keduanya. Ia sampai tidak fokus lagi pada pekerjaan yang tengah dibuatnya ini.
Hingga akhirnya Eza memilih menutup laptop dan bangkit menuju tempat Elvis berada.
"Ada apa El? Kamu tidak mau minum obat?" Eza berbasa-basi.
"Enggak kok, ini El mau minum obatnya. Tapi El gak bisa minum obat tablet, makanya mama mau tumbukin dulu obat itu" jelas Elvis.
"Biar papa aja yang melakukannya ya, El tunggu sebentar" Eza pun berinisiatif mengambil alih pekerjaan Adira.
Pria itu mengambil obat tablet milik Elvis dan mulai menumbuknya, tapi bukannya menjadi bubuk, tablet tersebut justru loncat dari wadah.
"M-maaf... Sepertinya tadi agak sedikit licin" Eza beralasan, ia pun mencobanya kembali. Tapi tetap gagal juga.
Adira menyunggingkan senyum tatkala melihat cara Eza menumbuknya, posisi lengannya saja sudah salah, tentu akan selalu meleset meski hanya tablet sekecil itu.
Adira pun lantas mendekat dan mengambil alih benda tersebut.
"Biar aku saja, Tuan"
Mau tau mau Eza pun membiarkan Adira yang meneruskannya.
Dalam sekali tekan tablet tersebut pun berubah menjadi serbuk halus, melihat hasil kerjanya berhasil, Adira seketika memandang Eza dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
"Jangan menertawai ku!" Cebiknya ketus, memalingkan pandangan ke sembarang arah, berusaha menutupi rasa malunya.