MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 88


__ADS_3

Ting!


Suara denting pintu toko terdengar ketika ada seseorang yang masuk, para pegawai yang sedang berkerja tak lupa selalu mengucapkan selamat datang untuk para pengunjung.


"Selamat datang di toko kami...!" Sambil sibuk melakukan tugas mereka masing-masing.


Namun salah satu pegawai menyadari siapa orang yang datang, bukan pelanggan melain...


"Mbak Adira???!"


Sontak yang lain menoleh ke arah pintu, mata mereka terbelalak tak percaya. Adira ada disana, mantan rekan kerja mereka yang kini sudah pensiun karena memutuskan untuk menikah.


"Selamat pagi kalian semua..." Adira berbalik menyapa.


Aroma permen masih menjadi wangi khas toko roti milik Qia, Adira jadi rindu masa-masa bekerja dulu.


Dua orang pegawai menghampiri dan memeluk wanita tersebut, rasa rindu membuncah begitu melihat sosok yang selalu mengisi dapur dengan keahliannya yang luar biasa.


"Kalian apa kabar?"


"Baik mbak, mbak Adira apa kabar?"


"Aku baik-baik saja teman-teman, kalian pasti sedang sibuk saat ini"


"Tidak terlalu kok mbak, Elvis dimana? Apa dia disini juga?" Mencari bocah kecil itu, semua pegawai tau dan akrab dengan Elvis, tak jarang mereka merindukannya juga.


"Tidak, Elvis masih di Jakarta, dia tidak ikut karena ada ujian di sekolah"


"Oh iya, perkenalkan ini suamiku..." Ujar Adira memperkenalkan lelaki yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


Mereka pun mengalihkan pandangan, dan seketika keduanya terperangah kala melihat ketampanan pria jangkung di depan mata mereka, apalagi ketika Eza tersenyum simpul dan mengulurkan tangan untuk berjabat.


Salah satu teman Adira menyenggol rekannya, menyadarkan dia dari keterpanaan terhadap suami orang.


"S-salam kenal, Tuan..." Sambutnya formal, karena yang ia dengar dari Qia, suami Adira adalah pemilik perusahaan, dan tentu berasal dari keluarga berada.


Adira terkekeh menyadari kelakuan temannya, meski mereka terpesona dengan Eza, Adira tak menegur sama sekali.


"Ngomong-ngomong dimana Qia?"


"Ada di ruang kerjanya, mbak"


"Ya sudah aku kesana saja, kalian teruskan pekerjaannya. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi"


"Oke, mbak" mereka pun kembali melanjutkan tugas.


"Mas mau ikut aku ke ruangan Qia? Atau mau pulang saja? Soalnya aku mungkin agak lama berbincang dengan mereka"

__ADS_1


"Emm... Aku tunggu disini saja sambil memesan roti"


"Yang benar? Nanti mas bosan bagaimana?"


"Sudah jangan dipikirkan, aku juga mau menelpon Rafa untuk menanyakan seputar pekerjaan"


"Kalau begitu aku tinggal ya" Adira pun melangkah menjauh, sedangkan Eza mulai mengantri untuk memesan beberapa roti.


Tok Tok Tok!!


"Masuk....!" Sahut Qia dari dalam, menyangka jika salah satu pegawainya yang mengetuk.


Clekkk


"SURPRISE!!!"


"Adira??? Aaaaaa...... Akhirnya kau datang juga" Qia langsung berdiri dan memeluk sahabatnya, ia cukup terkejut dengan kedatangan Adira, meski sudah tau akan datang tapi Adira tak memberitahunya jam berapa akan kesini.


"Aku sengaja, hahaha...."


"Haisss dasar jahil" sembari melepaskan diri.


"Hahaha maaf, tapi pasti kau akan terkejut lagi jika aku bilang kalau aku datang bersama suamiku"


"Apa??? Bukannya semalam kau bilang dia tidak ikut ke Malang? Kau pasti berbohong lagi padaku, kan?" Tunjuknya menduga.


"No... No... No... Aku memang tidak berbohong" Adira meluruskan.


"Ya sudah, sini duduk dulu... Ceritakan semuanya padaku aku ingin dengar" Qia menarik Adira di sofa panjang, jiwa keponya meronta-ronta ingin tahu.


"Dia mengira aku kabur ke Malang..."


"Hah? Bagaimana bisa?! Memangnya kamu tidak memberitahu suamimu?"


Adira pun mulai bercerita, mereka membahas banyak hal tidak hanya tentang Adira dan juga Eza, tapi juga Qia. Keduanya asik berbincang ria, segalanya mereka curahkan tanpa sadar jika alurnya sudah kesana-kemari.


Hingga percakapan yang cukup serius dimulai.


"Emm.... Lalu bagaimana dengan mas Rendy? Apa dia masih mengharapkan mu?"


"Sepertinya begitu" lirih Adira.


"Walaupun kamu sudah bersuami??"


"Aku memberinya harapan, Qia"


"Whattt??? Kamu serius?!" Teriak Qia tak menyangka.

__ADS_1


"Sstttttt.... Jangan keras-keras, seperti yang tadi aku ceritakan. Pernikahan ku sudah direncanakan akan berpisah walau sekarang sudah tidak lagi, makanya saat dia datang aku masih memberi mas Rendy harapan, tapi aku tidak berjanji dan mencoba menyuruhnya untuk menyerah. Tapi dia tetap kekeuh, dan sekarang aku belum memberitahunya lagi" jelas Adira dengan detail, tak ada yang ditutup-tutupi.


"Sebaiknya kamu cepat bertemu dengan mas Rendy, selesaikan semuanya. Karena yang aku dengar mas Rendy hanya libur dua Minggu saja, kalau kau tidak sempat menjelaskan dari sekarang akan sulit untuk menghubunginya karena mas Rendy tidak memegang ponsel saat bertugas" saran Qia.


"Aku masih bingung bagaimana cara mengatakannya, aku tidak tega, aku sangat merasa bersalah"


Qia menggenggam tangan Adira, memberinya keyakinan.


"Katakan kalau kau mencintai suamimu... Katakan bahwa kau tidak ada maksud untuk membuat harapan palsu, katakan yang sejujur-jujurnya, Ra...." Titah Qia.


"Aku... Mencintai suamiku?"


***


Mobil Adira berhenti tepat di garasi, keduanya keluar berbarengan.


Setelah sama-sama masuk ke rumah, Eza tiba-tiba saja menempelkan punggung tangan di kening Adira, membuat wanita itu kebingungan.


"Ada apa, mas?"


"Kau sakit? Dari tadi diam saja" berbalik tanya.


"Tidak, kok. Aku sehat" balas Adira.


"Kalau begitu kenapa diam saja? Apa yang mengganggu pikiran mu?" Tak puas dengan jawaban sang istri.


"Tidak kenapa-napa, mas. Percaya deh" memeluk Eza untuk menyembunyikan raut wajahnya, Adira tak ingin Eza curiga bahwa sedari tadi ia dibuat bimbang karena kepikiran tentang Rendy.


"Oh aku tau sekarang, kau pasti sedang menahan hasrat mu kan? Makanya kau jarang berbicara karena tidak mau kebablasan, iya kan?" Tebak Eza, menyalahartikan sikap aneh sang istri.


Mendengar itu Adira segera menjauh, bisa-bisanya sang suami berpikir demikian, padahal dia sendiri yang sudah bergairah.


"Tidak kok! Mana ada aku seperti itu" balasnya cepat.


"Tidak usah berbohong, aku senang kalau memang benar. Aku juga sudah tidak tahan" Eza dengan amat gamblang.


"Tuh kan! Justru mas yang dari tadi menahan hasrat, bukan aku" Adira menunjuk.


"Untuk sekarang tidak penting siapa yang benar-benar menahan, lebih baik kita melakukannya saat ini juga" tanpa basa-basi Eza langsung menyeruduk Adira, mencium bibir manis sang istri yang sangat menggoda.


Adira yang belum siap hampir terjungkal, tetapi Eza sudah siaga dengan menahan pinggang Adira.


Eza terus membimbing sang istri menuju kursi ruang tamu, sampai disana Eza mengangkat tubuh Adira hingga wanitanya duduk di atas paha Eza.


Ciuman terus berlangsung, dengan terburu-buru Eza membuka pakaian Adira ke atas, membuat anting yang tersemat di telinga sang istri copot dan jatuh akibat mengait pada benang baju.


"Antingku..." Menyentuh telinga kirinya.

__ADS_1


"Biar aku ambil" Eza menunduk guna mengambil benda tersebut.


Tetapi ketika kepalanya berada di bawah, Eza tanpa sengaja melihat sebuah koper di bawah kursi yang mereka duduki.


__ADS_2