
Setelah diperbincangkan baik-baik akhirnya Eza dan yang lain memutuskan untuk tidak melaporkan Hendy, demi keselamatan Elvis.
Karena kalau mereka melaporkan Hendy, otomatis keluarganya tidak akan terima dan melakukan cara guna mengusik ketenangan keluarga Gibson. Walaupun bisa saja Eza melakukan pengamanan ketat terhadap sang putra, tapi tak bisa menutupi kemungkinan jika keluarga Hendy akan mendapat celah sekecil mungkin.
Selama seminggu setelah kejadian pertemuan Eza dan Hendy di kantor, mereka tak pernah lagi bertemu. Hendy benar-benar tak menampakkan batang hidungnya di depan Eza, sesuai janji yang mereka sepakati.
Adira tak henti selalu mengawasi Elvis, dari mulai ke sekolah sampai bermain di teras rumah pun Adira pantau.
Saat ini juga Adira terus menemani Elvis yang tengah bermain layang-layang, ditambah angin sepoi-sepoi yang membuat Adira tak bosan berada disana.
Drtttt....
Drtttt....
Getar ponsel Adira mengalihkan perhatian wanita itu, ia mengambil benda tersebut di dalam sakunya dan melihat siapa yang menelpon.
"Qia?" Tak pikir panjang Adira langsung mengangkat panggilan telepon.
"Hallo, Qia?"
"Hai Ra, sedang apa?"
"Sedang menemani El bermain, tumben sekali menelpon" balas Adira.
"Idihhhh.... Memangnya tidak boleh?" Qia dari seberang sana.
Adira tertawa mendengar nada kekesalan itu.
"Boleh saja sih"
"Sebenarnya aku ingin mengabari mu kalau lusa aku akan ke Jakarta, menghadiri pernikahan teman kuliah ku nanti. Aku berencana untuk bertemu dengan mu, kau bisa kan?" Tutur dia menjelaskan.
"Kau akan kesini?! Kalau begitu ayo kita bertemu, aku selalu ada di rumah. Kau tinggal datang saja" Adira antusias, senang mendengar kabar kedatangan sahabatnya.
"Baiklah, sekalian ada yang ingin aku sampaikan kepadamu"
"Apa itu?"
"Nanti saja kalau kita bertemu"
"Kenapa tidak sekarang saja? Hayo... Kau menyembunyikan sesuatu dariku ya?" Tuduh Adira memicingkan mata.
"Yang pasti kau bakalan terkejut, jadi persiapan jantungmu dari sekarang" diiringi tawa renyah Qia.
Adira jadi makin penasaran, tapi sekuat tenaga ia memaksa Qia menceritakan, temannya itu tetap bungkam.
"Baiklah aku akan sabar menunggu" Adira pasrah.
"Sampai jumpa lusa nanti, byeeee"
Telepon pun terputus setelah keduanya selesai berbincang ditelpon.
__ADS_1
***
Dua hari memang tak terasa, kini hari dimana Adira dan Qia bertemu.
Kedua wanita itu sudah berkumpul di ruang tamu, saling melepas rindu dengan obrolan-obrolan heboh yang selalu di nanti.
Terutama Qia, dengan suara nyaringnya membuat ruang tamu tersebut bak dikelilingi puluhan manusia.
"Eh, benar nih aku tidak mengganggu? Suamimu tidak apa-apa kan kau disini menemaniku?"
"Sama sekali tidaklah, masa kedatangan tamu malah tidak dijamu?" Jawab Adira.
"Ya... Namanya juga pengantin baru, ingin nempel terussssssss" goda Qia, membuat Adira menepuk kecil lengannya.
"Ini nih, ciri-ciri orang sirik. Bisanya mengejek melulu" cibir Adira membalas.
"Enak saja..... Begini-begini juga secepatnya aku akan menyusul mu, liat saja!" Tak terima.
"Hah? Kau mau menikah???" Sontak Adira berteriak, terkejut dengan ucapan Qia yang bermakna ganda.
"Ssssttttt..... Tidak usah teriak bisa tidak?!"
"Ayo katakan, kau mau menikah? Dengan siapa? Sejak kapan kalian berpacaran? Kok aku tidak tau? Pantas saja kau tidak mau menceritakannya lewat telpon" Adira memborbardir Qia dengan berbagai pertanyaan yang entah dari mana dulu Qia harus menjawab.
"Bukan menikah, tapi.... Setidaknya aku sudah tau mana pria yang mau aku nikahi" jelas Qia.
"Siapa? Apa aku kenal?"
"Sebutkan namanya, aku ingin tau" desak Adira menggoyang-goyangkan lengan Qia.
"Dia.... Dia mas Rendy, Ra"
"APA???!!!"
"M-MAS RENDY???!!!!"
Lagi-lagi Adira berteriak sangking terkejutnya, cerita macam apa ini? Kenapa sangat tidak terduga begini??? Qia.... Rendy.... Kedua teman dekatnya.
"Sejak kapan? Aku tidak tau kalau kalian saling mencintai" masih bingung dengan semua alur kejadian ini.
"Mas Rendy sih belum mencintai ku, dia bilang masih mencoba move on darimu. Tapi aku sudah mengungkapkan perasaan ku padanya"
"Lalu kenapa kau tidak menceritakan padaku kalau kamu mencintai mas Rendy selama ini?"
"Dulu aku hanya mengagumi saja, namun sejak mas Rendy pulang ke Malang dan datang ke toko ku, perasaan ku semakin tumbuh begitu saja" jelas Qia jujur, agak ragu sebenarnya menceritakan langsung pada wanita yang dicintai Rendy, tapi bagaimana pun Adira sahabatnya dan Qia harus membicarakan hal ini.
"Ya ampunnnnn..... Untung saja aku tidak menerima pinangannya, coba aku aku terima? Kau pasti membenciku sekarang" Adira mencebik, mungkin sebab itulah Tuhan tak membuka hati Adira kepada Rendy, ternyata Rendy diciptakan justru untuk sahabatnya sendiri, Qia.
"Ya tidaklah, aku tidak pernah membencimu meskipun kau membalas cinta mas Rendy saat itu"
"Tapi ketika mas Rendy akan pergi bertugas lagi, aku tiba-tiba ingin bertemu dengannya, jadi... Aku datang ke rumah mas Rendy saat itu" lanjut Qia.
__ADS_1
"Kau datang ke rumahnya?? Kau ternyata berani sekali ya datang ke rumah lelaki dewasa" Adira tertawa.
"Itu tidak ada apa-apanya, aku bahkan....."
Adira menunggu kelanjutan Qia, perempuan itu sepertinya terlihat sangat ragu untuk mengakui, apalagi beberapa kali melirik ke arah Adira.
"Aku... Aku bahkan mencium mas Rendy"
Seketika Adira menarik nafas sedalam-dalamnya, fakta apa yang baru saja ia ketahui tentang sahabatnya tersebut??? Ini benar-benar Qia, kan? Temannya yang dari dulu teramat cuek terhadap kisah asmara, kenapa tiba-tiba jadi agresif begitu?
"Astaga, aku mau pingsan rasanya" sambil memegang dada sebelah kiri.
"Ra kau tidak marah kan? Maaf kalau aku membuat mu kecewa" lirih Qia tak enak hati.
"Apa yang kau bicarakan? Siapa yang marah dan kecewa? Aku hanya terkejut saja, habisnya kau tidak pernah bilang padaku" Adira meluruskan.
"Maaf.... Tapi, kau tidak ada rasa pada mas Rendy kan Ra?" Takut-takut Qia bertanya.
"Tidak, kok"
"Sedikitpun pun?"
"Ya, sedikitpun"
"Kau serius?"
"Tentu, lagipula sekarang.... Sudah ada pria yang mengisi hatiku sepenuhnya" ujar Adira tersenyum, mengingat wajah lelaki yang selalu bertengger di kelapanya.
"Cieeee.... Cieeee.... Ada yang jatuh cinta nih"
Adira kembali memasang raut biasa, akhhhh.... Setiap ia mengingat Eza pasti rasanya ingin senyum-senyum sendiri.
"Apaan sih! Memang dimana salahnya mencintai suami sendiri?"
Seketika Adira menutup mulut sambil melirik ke sudut lain, khawatir ada yang mendengar apalagi jika orang itu Eza, bisa malu Adira dibuatnya.
"Kau sudah mengungkapkannya?" Qia melempar pertanyaan.
Adira menggeleng lemah, "Belum. Aku belum berani mengungkapkan"
"Ya Tuhan..... Katanya suami sendiri, tapi masih ragu begitu"
"Lalu aku harus bagaimana? Aku malu jika harus tiba-tiba mengungkapkannya" meminta saran.
"Hahhh kau ini, sini biar aku bisikkan caranya" Qia mendekat dan membisikkan sesuatu yang untuk membantu Adira menyatakan cintanya.
"Kau yakin cara ini berhasil?"
"Yakin seratus persen!" Sahut Qia.
"Baiklah... Akan aku coba"
__ADS_1