MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 56


__ADS_3

Kalimat keramat yang seakan mustahil untuk Eza katakan, siapa sangka akhirnya terucap tanpa paksaan dari Tari maupun Arian.


Kedua orangtuanya pun terkejut bukan main dengan apa yang barusan mereka dengar, apalagi Adira yang seperti baru mendengar ledakan boom yang merusak gendang telinganya.


Wanita itu terbelalak dengan mulut yang terbuka lebar, memandang kaget lelaki yang baru saja melamarnya.


"A-apa maksud anda?" Tak yakin dengan apa yang barusan Eza cakap.


"Aku akan menikah mu, dengan begitu kau tak perlu bersusah payah untuk melepas diri dari Elvis" imbuh Eza masih dengan wajah angkuh yang menghiasi ekspresi pria itu.


"Apa?? T-tidak! Saya tidak mau...." Tolak Adira mentah-mentah, bagaimana mungkin Eza mengajaknya menjalin rumah tangga dengan keadaan mereka yang seperti ini?! Yang ada mereka malah akan menciptakan neraka bukan hanya bagi mereka berdua tetapi juga bagi Elvis.


"Ini bukan penawaran, ini perintah!" tak menerima penolakan.


Terjadi perdebatan diantara kedua manusia yang berbeda keinginan tersebut, Tari mengambil kesempatan ini untuk membujuk Adira, ia akan membuat Adira menerima ajakan putranya.


"Ra, pikiran baik-baik. Mungkin ini cara lain yang Tuhan beri supaya kalian berdua bisa tetap bersama Elvis, sehingga hati Eza tergerak untuk memilih jalan ini" berusaha berbicara dari hati ke hati.


"Tidak semudah itu, Nyonya. Kami bahkan tidak saling mengenal, saya tidak mau memaksa diri, saya ingin menikah sekali seumur hidup"


"Kalian bisa saling mengenal satu sama lain setelah menikah, mungkin seperti inilah takdir mempersatukan kalian" bujuk Tari lagi.


"Apalagi yang kau pikirkan? Kau tidak ingin berpisah dengan Elvis, maka tetaplah disini. Kau butuh keluarga, aku akan menjadikan mu bagian dari keluarga ini. Kau tak perlu susah payah menyusun masa depanmu dari nol karena kau bisa melanjutkan rencana-rencana mu dengan Elvis" sanggah Eza menuturkan, padahal ia sudah memberi sesuatu yang sangat berharga, seharusnya Adira bersyukur dan langsung menerima tanpa harus jual mahal terlebih dulu, pikir Eza.


Semudah itu Eza mengajukan pernikahan padanya, bukannya mencari cara yang lebih masuk akal, malah memilih jalan pintas yang justru kejauhan, pernikahan seperti main-main saja untuknya.


"Saya tetap tidak bisa, saya tidak mau main-main dengan yang namanya pernikahan"

__ADS_1


"Jadi kau pikir aku tidak serius? Aku sudah memikirkan matang-matang mengenai hal ini, dan aku rasa ini cara yang terbaik untuk Elvis, dia bisa mendapat perhatian dari Ayah dan ibunya, bukan begitu?!"


Otak Adira berputar maksimal, seperti tak ada celah untuk ia mencari keputusan yang harus di ambil, ia semakin terperangkap dalam situasi ini, terjerembab dalam kerumunan orang-orang yang ingin tetap Adira bertahan di sisi mereka semua.


"Tak ada pilihan lain, kau harus menerimanya. Elvis akan senang jika mendengar kabar ini" tutur Eza sedikit mereda.


"Saya bahkan belum menerimanya, jangan beritahu El kabar yang belum pasti ini" cegah Adira, jika berita pernikahan sampai ke telinga anak tersebut, Adira tak akan bisa mengelak lagi.


"Aku beri waktu lima hari untuk kau memberitahu Elvis sendiri, selebihnya tak ada negosiasi!" Tukas Eza membangun lingkaran api yang membuat Adira tak bisa keluar dari sana.


"Apa hak anda, Tuan? Menikah adalah keinginan kedua belah pihak, anda tidak ada sedikitpun kuasa untuk mengatur hidup saya!" Cecar Adira seiiring dengan kesabarannya berangsur menurun, berusaha tidak lemah dihadapan pria itu.


"Berhak atau tidak percuma saja, semua ada dibawah kendali ku, kau hanya perlu diam dan duduk manis menikmati kebersamaan mu dengan Elvis"


Lihat! Bahkan cara mengajaknya saja memaksa seperti ini, mana ada wanita yang mau menerima tawaran pernikahan dari laki-laki kasar, angkuh, dan keras kepala, semua wanita pasti sudah takut duluan membayangkan bagaimana tersiksanya pernikahan yang terjalin nanti.


"Malam ini tidur yang nyenyak, jangan memikirkan apapun dulu agar kamu bisa lebih fresh besok pagi" Tari mengantar Adira sampai depan pintu kamar Elvis.


Mereka berempat berdiskusi hingga pukul tengah malam, dan mengakhiri obrolan karena sepertinya semua orang sudah tidak bisa berpikir jernih untuk melanjutkan sesi perbincangan.


Adira mengangguk meski semakin larut matanya malah makin sulit terpejam.


"Masuklah, selamat malam"


"Terimakasih, Nyonya. Selamat malam" Adira pun masuk kembali ke kamar Elvis, pemandangan pertama yang ia lihat adalah sesosok lelaki kecil yang terbaring di atas kasur.


Ya, anak itulah yang menjadi penyebab utama semuanya bisa tercipta, manusia mungil itu menjadi senjata mematikan yang tak bisa mereka sepelekan.

__ADS_1


"El, mama tidak percaya kalau Ayahmu meminta mama menikah dengannya. Apa yang harus mama lakukan? Mama bimbang dengan semua ini...."


Adira masih belum bergerak di depan pintu, ia memegang dada kirinya yang berdegup kencang, sudah beberapa kali Adira dibuat jantungan atas tindakan Eza.


"Ya Tuhan, mungkinkah ini alur cerita yang Engkau buat untukku? Bukannya serakah, tapi kalau boleh meminta, lebih baik gerakkan hati Tuan Eza agar mengembalikan Elvis padaku, bukan malah tergerak untuk menikahi ku"


Sedangkan disudut kamar lain, Eza tampak gelisah setelah mengutarakan ajakan pernikahan pada Adira.


Awalnya Eza mengira Adira akan senang dengan tawaran yang disuguhkan, akan tetapi semua justru berbanding terbalik, Adira menolaknya tanpa pikir panjang dulu.


Tetapi jika ia memberi waktu, Adira bisa saja menemukan cara lain, dan itu membuat Eza gusar tak karuan, ia tidak boleh membiarkan Adira lolos darinya.


Sudah terlanjur terucap, Eza tak ingin semua sia-sia, meski harus melanggar hak asasi manusia sekalipun.


"Arrrghhh.... Kenapa malah aku yang mengemis?!" Cerca Eza mengacak-acak rambutnya sampai berantakan, penolakan Adira membuatnya jadi terlihat mendambakan pernikahan tersebut.


Walaupun awalnya Eza juga sempat menolak dengan saran orang tuanya yang menyuruh ia meminang Adira, tetapi pada akhirnya ia juga yang memaksa wanita itu untuk dinikahi.


Selama beberapa hari terakhir Eza dibuat frustasi memikirkan cara supaya Adira tidak pulang ke kota asalnya, sempat meminta pendapat pada beberapa kerabat terdekat, tetapi tak ada satupun dari mereka yang mengusulkan sebuah ide dan lagi-lagi melempar pertanyaan itu pada Eza sendiri.


Eza bimbang karena ia sempat mengira kalau Adira memiliki kekasih yang menunggunya disana, sebab Eza tak mau sama sekali berurusan dengan wanita yang mencintai pria lain, ia punya trauma tersendiri.


"Aku harap dia tak mencari cara untuk pergi dari sini"


"Tidak akan aku biarkan, aku harus mempersingkat waktu agar bisa mengikatnya!"


Elvis tak boleh kehilangan seseorang yang berharga untuknya, jika wanita itu menikah dengan pria lain maka Elvis akan kehilangan semangat hidupnya, karena mau sebesar apapun kasih sayang Adira pada Elvis, ujungnya pasti akan terbagi jua. Maka dari itu, Eza harus berhasil menjadikan Adira ibu sambung bagi Elvis.

__ADS_1


__ADS_2