
"Mas!"
"Aku bukan wanita yang suka main gila! Meski pernikahan kita terjalin hanya karena Elvis tetapi aku selalu menganggap serius pernikahan ini...!!" Adira berapi-api, perkataan dan perilaku Eza jadi seperti awal mula mereka mengenal, bahkan ketika Adira sudah berbaik hati tak mempermasalahkan soal perceraian, Eza sama sekali tidak bercermin.
"Tak mungkin dia begitu mudah melepaskan mu, lalu apa yang kau janjikan kepadanya?!" Menahan emosi sejenak.
Adira menarik nafas dalam, tak mau menampilkan ekspresi lemah karena akan membuat dirinya seakan memang yang bersalah disini.
"Aku memberinya harapan kedua!" Adira dengan lugas.
"Kau!!!"
"Kenapa? Bukankah itu wajar? Aku dan Rendy bisa bersama setelah kita bercerai" ujar Adira tak takut sedikitpun.
"Beraninya kau!" Eza langsung mencekik leher sang istri sembari membantingnya ke atas ranjang, wajah Eza kian memerah seperti orang kesetanan.
Adira tak melawan meski dirinya sesak karena tak bisa bernafas.
"Siapa yang mengizinkan mu berpikir begitu hah?!! Kau tak akan bisa mengakhiri pernikahan ini!!"
"Kenapa memangnya!!" Adira menantang.
"Mas sendiri yang sudah berencana mengakhiri pernikahan kita! Mas sendiri yang akan melepaskan ku! Menjadikan ku janda tidak berguna!!! Laki-laki mana yang mau menikahi janda miskin dan sebatang kara seperti ku hah?!!" Cecar Adira meluapkan apa yang mengganjal di dalam relung hatinya, lelehan air mata tak bisa dibendung, Adira terisak disana.
Perlahan cengkraman tangan Eza mengendur, tatapannya berubah kosong ketika mendengar ucapan Adira tadi, terkejut ketika Adira mengetahui hal itu.
"D-darimana kau...."
"Di kantor, saat aku mengembalikan ponsel. Aku mendengar semuanya dengan jelas! Pembicaraan mas dengan asisten Rafa"
"Mas masih mau mengelak?" Ujar Adira yang berhasil membuat Eza bungkam.
Ayo mengelak lah... Buat apa yang aku dengar adalah suatu kesalahpahaman, buat semua yang mas ucapkan tidak seperti yang aku pikirkan.... Ayo mengelak lah.
Adira berharap dalam diri, akan tetapi Eza tak bersuara tentang ucapannya tempo lalu, dia justru beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar hotel dengan membanting pintu cukup keras.
Meninggalkan Adira yang menangis pilu setelah dapat penghinaan, bukannya minta maaf Eza malah pergi begitu saja, seolah membenarkan apa yang Adira dengar.
"Baiklah.... Sepertinya hubungan kita memang harus berakhir"
__ADS_1
***
Sejak saat itu hubungan Adira dan Eza semakin merenggang, Eza jarang tidur di kamar, dia lebih memilih tidur di ruang kerja.
Adira sempat khawatir akan kondisi suaminya yang entah bisa istirahat atau tidak, tapi lagi-lagi ia masih kesal pada Eza sehingga tak menanyakan seputar kondisi pria itu.
Hingga akhir pekan Adira teringat jika lusa adalah hari kematian kedua orangtuanya, ia ingin pulang ke Malang, tetapi akhir-akhir ini Adira jarang bertemu Eza.
"Ra, kok sepertinya kamu diam terus? Ada apa?" Tari yang seakan peka dengan kegelisahan Adira.
"Tidak kok, Ma. Adira... Adira baru ingat kalau lusa adalah hari peringatan meninggalnya orang tua Adira di Malang"
"Oh ya? Kamu mau kesana?"
"Sebenarnya Adira ingin, tapi aku belum meminta izin pada mas Eza. Lagipula Elvis juga sekolah" lirihnya murung.
"Eza sepertinya sedang sibuk, Mama lihat dia terkadang pulang malam" Tari mengira, padahal yang terjadi karena Eza sengaja menghindari Adira.
"Bagaimana kalau kamu pulang diantar oleh supir pribadi Mama, Eza pasti tidak bisa ikut, dan Elvis masih sekolah. Atau kamu biarkan Elvis cuti beberapa hari jadi Elvis dan Mama bisa ikut ke Malang, Mama kan belum pernah mengunjungi rumah kamu disana" usul Tari.
Adira menimang-nimang saran dari mertuanya.
"Lho, pakai pesawat saja"
"Kalau untuk supir mungkin Mama perlu karena harus mengantar dan menjemput Elvis sekolah, kalau untuk kendaraan kamu tinggal pesan pesawat, jadi setelah mengantar Elvis Mama bisa mengantar kamu ke bandara.
Dan dianggukki oleh Adira, "Baiklah, Terimakasih ya Ma" bersyukur akhirnya ia bisa kembali ke Malang untuk memperingati kematian orang tuanya.
"Sama-sama, Ra. Kalau Elvis sudah libur panjang dan Eza tidak sedang sibuk kita pergi ke Malang menemui makam kedua orang tua kamu dan berkunjung ke rumah Arumi juga"
"Iya, Ma"
Itu pun kalau pernikahan ku dan Eza masih berlangsung. Lanjut Adira dalam hati
***
Malam ini rencananya Adira mau meminta izin pada Eza untuk berangkat ke Malang sendiri, tetapi sampai jam 10 Eza belum juga pulang ke rumah.
Adira mencoba menghubungi lewat telpon, tetapi hasilnya nihil, nomor Eza tidak aktif sehingga tidak dapat dihubungi.
__ADS_1
"Bagaimana ini, besok aku mau berangkat ke Malang, dan sampai saat ini aku belum bertemu dengan mas Eza, jam berapa dia akan sampai di rumah?" Gumam Adira bermonolog sambil melihat koper besar yang bersisi perlengkapan Adira.
Hingga pukul dua belas malam Eza benar-benar tak pulang, pria itu menginap di kantor seperti Minggu kemarin.
Adira pasrah, Eza mungkin masih tak ingin bertemu dengannya, ia pergi pun mungkin Eza tak akan ambil pusing.
"Aku kirim dia pesan saja kalau memang kami tidak sempat bertemu sebelum aku berangkat, lagipula aku sudah dapat izin dari Mama" putus Adira.
Ia pun memilih tidur karena yakin Eza tak akan pulang malam ini.
Mentari bersinar terang menyinari seisi bumi, Adira sudah siap untuk berangkat, Elvis pun sudah siap berangkat sekolah diantar oleh nenek dan ibunya.
"Mama jangan lupa kasih tau El kalau udah sampai disana"
"Siap, sayang. El yang rajin belajarnya ya, besok kan ada ujian"
"Heem... Iya Ma. Jangan lama-lama di Malang" Elvis berpesan.
Tadinya bocah itu sempat tidak percaya kalau Adira pulang ke Malang sendirian, Elvis kira sang ibu akan kembali meninggalkannya lagi, tetapi ketika mendengar alasan Adira jika wanita itu akan mengunjungi makam kedua orang tua, Elvis pun tak berani berpikir negatif.
"Tenang saja, kalau Mama tidak pulang-pulang kita susul kesana" Tari bergurau, ia tau apa yang dikhawatirkan cucunya, maka dari itu Tari pun mencoba menenangkan.
Adira tertawa lucu, "Benar, tadinya kalau El tidak ada ujian besok pasti akan Mama ajak"
"Ya sudah kita berangkat bersama-sama, ayo semuanya naik"
Dan kini ketiga orang itu sudah pergi didampingi supir pribadi Tari.
Sesampainya di bandara Adira langsung berpamitan pada ibu mertuanya, Tari memberi Adira wejangan ketika disana.
"Cepatlah kembali, Mama tidak tenang membiarkan kamu sendiri disana"
"Adira akan usahakan secepat mungkin, Ma"
"Titip salam kalau kamu bertemu Arumi"
"Tentu, pasti Adira sampaikan"
Kini waktunya Adira naik ke dalam pesawat, sebelum pesawat take off Adira lebih dulu mengirimkan pesan pada Eza, pastinya ia tak lupa dengan sosok sang suami. Dilihat nomor ponsel Eza masih centang satu, pertanda jika ponsel Eza tidak aktif sampai pagi ini.
__ADS_1
Adira pun mematikan ponsel ketika pramugari sudah memberi peringatan. Kini Adira pulang ke Malang tanpa sepengetahuan Eza.