MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 85


__ADS_3

"Serius kamu ada di Malang?!!"


"Iya, Qia. Aku baru saja sampai tadi siang"


"Elvis datang juga?"


"Tidak, dia tidak bisa cuti karena besok ada ujian di sekolah"


"Sayang sekali, padahal kalau Elvis datang aku sudah janji mau bawa dia jalan-jalan"


Adira cekikikan mendengar nada Qia yang penuh kecewa, ia makin tidak sabar bertemu dengan sahabatnya yang satu ini, Adira ingin bercerita banyak hal.


"Besok aku akan ke toko mu seusai dari makam, kau ada di toko kan?"


"Tentu, aku membantu para pegawai akhir-akhir ini"


"Syukurlah, besok aku hubungi lagi saat akan berangkat"


"Siappp..... aku tunggu besok"


"Oke, selamat malam"


"Too"


Telpon pun terputus, Adira menyimpan kembali ponsel di atas meja makan, kembali membawa cucian piring bekas makan malamnya ke atas wastafel.


Ketika hendak menyalakan keran, bunyi bel rumah terdengar, ditambah ketukan pintu yang cukup keras.


"Siapa?" Adira teriak dari sana.


Ting Tong! Ting Tong!


TOK TOK TOK!


Ting Tong!


"Sebentar........ Ck, siapa sih? Tidak sabaran sekali!" Umpat Adira sebal.


Ia mempercepat langkahnya, memutar kunci dengan terburu-buru, bahkan kesulitan karena panik mendengar gedoran orang yang datang.


Clekkk!


Ketika membuka pintu Adira dikejutkan oleh sosok sang suami yang berdiri menjulang di depannya.


Adira menengadah dengan mulut yang sedikit terbuka, matanya terbelalak seperti baru melihat hantu di malam hari.


"M-mas Eza?!"


Dengan nafas terengah-engah akhirnya Eza berhasil bertemu dengan sang istri, Adira benar-benar ada di Malang, ia pulang ke rumah asalnya.


"Mas? K-kenapa mas bisa disini?!" Masih belum sepenuhnya percaya kalau yang ada didepannya adalah Eza.

__ADS_1


Pria yang Adira pikir akan meluapkan amarah, justru memasang wajah memelas. Eza seperti anak kecil yang ditinggal pergi ibunya ketika bangun tidur.


Dug!


Eza jatuh berlutut, memegangi kaki Adira dengan erat, membuat si empu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Eza.


"Kenapa kau pergi?! Hiksss....."


"Aku tau kita sedang bertengkar, tapi jangan pergi dari sisiku.....!"


"Aku..... Hiksss..... Aku tak bisa lepas darimu...."


Eza terisak disana, meraung seperti anak lelaki yang tak dibelikan mainan. Namun bedanya, ini adalah lelaki dewasa yang menangis karena urusan hati.


"Mas?! A-ada apa?? Jangan seperti ini, ayo berdiri" titah Adira, tak mau sampai tetangganya mendengar Isak tangis Eza.


"Tidak mau! Aku tidak akan melepaskan mu.... Hikss.... Aku mohon jangan pergi..... Aku mengaku aku salah... Aku salah... Aku yang bodoh!" Sambil mengantukkan kepala pada kaki Adira.


Adira berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka karena Eza sama sekali tak mau bangkit, Adira menahan kepala Eza membuat mereka bersitatap dalam satu garis lurus.


"Mas tenangkan dirimu dulu, bicaralah... Ada apa? Kenapa datang-datang menangis?" Adira bicara selembut mungkin.


Bibir Eza bergetar, tatapan sendu mengarah pada istrinya, sumpah demi apapun ia tak rela kehilangan wanita ini!


"Jangan pergi..... Jangan lari dariku....." Lirih Eza putus asa.


"Lari?" Adira mengernyit.


Seketika Adira menohok mendengar perkiraan Eza, ingin sekali ia tertawa, tetapi pasti akan membuat Eza malu. Namun sebelum meluruskan semuanya, Adira mau sedikit menjahili Eza terlebih dahulu.


Ia pun mulai memasang wajah seserius mungkin dan mengawali aktingnya.


"Seharusnya mas tak perlu menyusul ku kemari, aku sudah mewujudkan rencana mas"


"Tidak.... Aku tidak ingin kau pergi..." Eza menggeleng-gelengkan kepala.


"Kenapa? Apa karena mas masih memanfaatkan ku?" Adira memancing secara pedas.


"Tidak... Ini tidak ada hubungannya dengan ucapan ku di kantor waktu itu... Ini semua murni dari hatiku" jelasnya membantah.


"Maksud mas?" Ingin tau lebih detail.


"Aku....." Eza terhenti, cukup sulit melanjutkan kalimatnya yang satu ini.


"Mas apa?" Desak Adira.


Eza memeluk Adira guna menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba memerah, "Aku mulai menyadari ada yang berbeda dalam diriku padamu"


Kali ini Adira benar-benar tidak paham, ia pun ikut berdebar merasakan detak jantung Eza yang terasa sangking kencangnya.


"A-apa itu?"

__ADS_1


"Aku menyadari..... Kalau aku.... Tak bisa kehilangan orang aku sayangi"


Deg!


Adira tercenung dalam diam, memaku ditempat, kata-kata Eza barusan sukses membuat aliran darahnya membeku.


Apalagi disaat Eza mengendurkan jarak sehingga wajah mereka silih bertatap, memandangnya hangat.


"Aku akan tarik ucapanku yang kemarin, aku tak akan melepaskan mu, aku ingin hidup bersama mu, kini... Nanti.... Dan selamanya!" Tutur Eza penuh keyakinan.


Sontak Adira berkaca-kaca, nada indah yang sangat ingin ia dengar, seperti mimpi bahwasanya Eza memutuskan Adira untuk menjadi teman hidupnya, disaat semua hampir retak dan tak ada jalan menuju kebersamaan.


Adira menahan air mata sebisa mungkin, ia ingin lebih yakin dengan kalimat yang baru saja ia dengar. Jangan sampai dirinya hanya dikelabui semata.


"Tapi bagaimana dengan rencana yang mas buat? Kalau memang mas cuma membutuhkan ku sekarang aku masih siap berada disamping mas, tapi jika suatu saat tidak lagi dan mas ingin berpisah, aku juga siap" Adira berusaha tegar.


"Tidak! Aku tidak ingin bercerai, sudah cukup aku pernah berpikir hal bodoh seperti itu. Dan aku sungguh menyesal"


Adira menatap bola mata Eza, mencari kebohongan disana, tetapi Adira tak mampu untuk menebak.


"Lalu apa maksud mas tentang orang yang mas sayangi?" Ujarnya.


"Itu.... Itu karena aku merasa takut kehilanganmu, aku ingin kau terus berada di sisiku, menjadi milikku, dan aku tak suka ketika kau dekat dengan pria lain, aku cemas ketika tak mendapatimu, rasanya aku ingin terus mencari sampai aku benar-benar menemukanmu. Sepertinya aku....."


Deg.


Deg.


Deg.


Apa yang akan dia ucapkan? Kenapa otakku mengarah pada satu hal yang aku rasa tak mungkin keluar dari mulutnya. Tapi dari ciri-ciri tersebut, aku menyimpulkan sesuatu, tapi aku ragu. Mungkinkah dia....


"Aku mencintaimu Adira....."


Darrr!


Seperti ada kembang api yang meletus di sekitar mereka, Adira seketika tuli sejenak, banyak kupu-kupu berterbangan di perutnya, senang, haru, terkejut bercampur jadi satu.


Entah ekspresi mana dulu yang harus Adira tampilkan, tapi air matanya tak bisa dicegah hingga menembus keluar.


"M-mas serius?" Mulai tak bisa mengontrol dirinya.


"Sangat! Aku sangat serius, aku tak pernah bisa bercanda" ungkap Eza.


Dan pertahanan Adira pun runtuh, ia langsung memeluk Eza, mencurahkan rasa haru yang teramat dalam.


Eza pun demikian, ia merasa lega telah jujur pada Adira dan pada dirinya sendiri. Segala sesuatu yang kini menjadi beban pikirannya musnah ketika ia mengungkapkan isi hati kepada sang istri, wanita yang Eza pilih untuk menjadi teman hidup sampai maut memisahkan.


"Terimakasih.... Aku... Sangat senang" imbuh Adira ditengah-tengah tangisan.


"Aku yang harusnya berterima kasih, dan maaf atas segala kesalahanku selama ini. Tetaplah di sampingku, aku mencintaimu Adira.... Sangat mencintai mu"

__ADS_1


Dan malam ini mereka telah mendapatkan kebahagiaan yang selama ini keduanya cari, rumah kecil itu menjadi saksi atas dua manusia yang saling menemukan sebelah tulang rusuk yang dikirim Tuhan.


__ADS_2