MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 63


__ADS_3

Selesai makan malam, keduanya kini tidur dengan saling membelakangi, Eza yang hari-hari tidur sendiri sekarang harus berbagi ranjang dengan sang istri.


Rasa-rasanya Adira ingin membawa Elvis ke tengah-tengah mereka, menjadikan mahluk kecil itu benteng yang tak akan membuat Eza maupun Adira tanpa sadar silih berdekatan.


Karena rasa lelah yang amat sangat, membuat sepasang suami istri itu akhirnya terlelap juga. Saling berbagi selimut dalam jarak yang membuat kain hangat tersebut merenggang.


Ditengah-tengah malam yang berhembus dingin, mimpi Adira yang sedang berlangsung berangsur-angsur pudar manakala indera pendengarannya menangkap suara ribut dari arah samping kiri.


Tidur Adira terusik hingga membuat kelopak mata itu terbuka sedikit demi sedikit.


"TIDAK...."


"JANGAN GANGGU AKU!"


"JANGANNN....."


"JANGANNN.....!!"


Teriakan Eza menyita perhatian Adira, seketika Adira berbalik dan menatap pria di samping nya ini. Eza meracau seperti orang ketakutan, tetapi kedua matanya masih tertutup dengan rapat.


"Dia bermimpi?" Gumam Adira.


"TIDAKKK....."


"MENJAUHHH...."


"MENJAUHHH....."


Eza terus berteriak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, keringat dingin bercucuran di area pelipis, alisnya mengerut dengan gelisah.


Adira mencoba mendekat, ia menyentuh lengan Eza untuk membangunkan pria itu.


"Tuan...."


"Tuan, sadarlah....." Adira ikut panik.


Baru kali ini ia melihat seseorang tidur dengan kecemasan yang tinggi, bahkan Elvis pun tidak segaduh ini saat tak sengaja bermimpi buruk.


"PERGIIII......"


"JANGAN GANGGU AKUUUU...."


"PERGIIIIIIIIIIIIII..........!!!!"


"Ya Tuhan!" Adira syok melihat Eza yang semakin ketakutan.


Ia segera mendekat dan membawa pria itu ke dalam dekapannya, memeluk erat leher sang suami sebagaimana ia memeluk Elvis guna menenangkan rasa cemas yang di alami.


"Tenang, Tuan...."

__ADS_1


"Tidak ada siapapun disini...."


"Tenang.... Tenang...."


Suara lembut Adira sedikit menyadarkan Eza, pria itu menarik sedikit matanya, namun belum setengahnya sadar.


"Tenang.... Aku akan menjagamu, Tuan...." Cetus Adira.


Belaian tangan di kepala membuatnya kembali menutup mata, bahkan tanpa disadari membalas pelukan Adira lebih erat, seolah mencari sebuah perlindungan.


Untuk sesaat Adira pun tidak mempedulikan apa yang ia lakukan saat ini, hembusan nafas Eza di tengkuknya tak membuat ia ingin menjauh, Adira terus mendekap suaminya dan ikut cemas.


Ketika nafas Eza sudah teratur Adira mulai menelisik wajah lelaki itu dari dekat, sudah tak ada lagi raut keresahan yang melekat, berbeda seperti beberapa menit yang lalu.


"Seperti inikah kebiasaan tidurmu, Tuan?"


"Apa yang membuatmu begitu ketakutan?" Lirih Adira iba.


Disaat pria itu sudah punya segalanya, mimpi buruk terus menghadang seperti sebuah ombak yang akan membawanya tenggelam, memaksa pria ini untuk terus terjaga di situasi apapun. Ranjang ternyaman pun tak membiarkan Eza larut untuk sekedar menghilang lelah.


Adira jadi ingat kejadian saat di rumah sakit, sewaktu mereka menjaga Elvis semalaman. Saat itu pun Eza sadar bahwa Adira sempat menatapnya, padahal lelaki ini tengah dalam posisi tertidur.


Jadi inilah alasan Eza tak pernah memilih tidur pulas, setiap lima menit kemudian selalu membuka matanya, menghindari mimpi buruk yang akan membuatnya meracau, dan kalau itu terjadi saat di rumah sakit pasti akan menganggu tidur putranya.


"Tidurlah.... Aku akan mengusir mimpi buruk itu" ucap Adira tanpa Eza ketahui.


Adira yang juga masih mengantuk lantas tertidur kembali.


***


Burung kenari yang dipelihara keluarga Gibson berkicau di pagi hari, membangunkan khalayak rumah yang masih enggan untuk beranjak dari busa empuk di kamarnya.


Namun, tugas menuntut mereka semua untuk menjalankan otot-otot yang sudah diistirahatkan semalaman. Waktunya kembali ke aktivitas masing-masing, segala kebutuhan masih menunggu untuk segera di penuhi.


Di salah satu sudut kamar atas, penghuni tempat itu belum ada yang beranjak seorang pun, kehangatan yang menjalar membuat naluri keduanya mengatakan untuk terus melanjutkan mimpinya.


Sayang seribu sayang, suara alarm ponsel mengusik salah satunya.


Eza menggeliat, perlahan bulu mata tebal itu bergerak ke atas, kesadaran belum sepenuhnya terkumpul.


Pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah sebuah tengkuk yang menghadap ke arahnya, bola mata hitam Eza bergerak keatas menatap si empu, seorang perempuan tengah terpejam nan damai, nafas halus menyapu wajah Eza.


Bukannya terkejut, Eza malah asyik memandanginya seolah terhipnotis dan turut hanyut dalam kedamaian yang ditunjukkan.


Getar alarm seperti menghilang melewati gendang telinga, tubuhnya setia memeluk wanita itu.


Ketika Adira bergerak Eza langsung menunduk kembali menyembunyikan wajahnya di tengkuk sang istri, seakan tak ingin Adira tau dirinya lebih dulu bangun.


Tak lama suara Adira memanggilnya.

__ADS_1


"Tuan?" parau khas bangun tidur.


"Hmmm...." berdehem sebagai tanggapan.


"Alam nya...."


Karena sudah lima menit terus berdering akhirnya alarm pun mati secara otomatis, membuat pria itu tak perlu menjawab ataupun melakukan sesuatu.


"Tuan sudah bangun?" Lanjut Adira.


Eza tak menjawab beberapa saat, namun menanggapinya dengan pertanyaan pula.


"Kenapa?"


Netra Adira sudah terbuka dengan sempurna, ia sedikit melirik Eza, mendengar Eza yang sepertinya sudah benar-benar sadar, perasaan Adira tiba-tiba berubah tak seperti semalam.


Jantungnya berdebar, apalagi wajah Eza sangat dekat dengan area dadanya yang rada terbuka, pipi Adira pun langsung bersemu merah.


"Emm.... S-saya mau ke kamar mandi"


"Hmm.... Nanti saja" engga melepaskan Adira.


Tak pernah ia se nyenyak ini, selama tujuh tahun Eza membutuhkan obat tidur jika ingin terbangun di pagi hari, kini ia merasakan tanpa harus bergantung pada resep dokter tersebut.


Karena itulah, Eza tak ingin melewatkan kesempatan ini.


"Tapi...."


"Sssttt.... Aku mau tidur lagi" potong Eza menyela.


Adira bungkam, ia tak mau membuat keributan hanya karena hal sepele, meski tak nyaman dengan posisi ini, tetapi Adira tak mampu melakukan apa-apa. Sampai akhirnya rasa kantuk mendera kembali, menyihir dua insan itu ke dalam alam bawah sadarnya lagi.


***


"Bagaimana, mereka sudah bangun?" Tari pada pelayan yang diperintahkan memanggil Adira dan Eza untuk sarapan bersama.


"Sepertinya masih tidur, Nyonya" ungkap pelayan.


"Masih tidur?" Menaikan alisnya heran.


"Sudahlah biarkan saja, mereka pasti lelah" Arian memperingati.


Tari menutup mulutnya yang tertawa.


"Kau benar, mereka pengantin baru. Mungkin sesuatu telah terjadi semalam" ucap Tari ambigu, Arian hanya geleng-geleng kepala.


Wajah pelayan langsung merona, otaknya mengarah yang tidak-tidak pada pengantin baru diatas.


"Jangan bicara yang aneh-aneh, sayang. Ada orang lain disini"

__ADS_1


"Hahaha.... Maaf, kau boleh kembali kebelakang" pada wanita berseragam yang langsung membungkuk undur diri.


Dan pagi itu meja makan hanya ditempati oleh Tari dan Arian, keduanya melanjutkan sarapan tanpa ingin menganggu anak-anak mereka yang entah sedang apa sebenarnya.


__ADS_2