
"Permisi Tuan" sekertaris Eza membuka pintu setelah mengetuk.
"Ya, ada apa?" Sambil fokus menatap layar laptop.
"Ada yang ingin bertemu dengan Anda"
"Siapa?"
"Beliau bilang kakak ipar anda"
Seketika Eza mengangkat kepala, raut kebingungan ia tunjukkan begitu mendengar pernyataan sang sekertaris. Kakak ipar? Setahunya Adira anak tunggal, apa mungkin....
"Suruh dia masuk" perintah Eza.
"Baik, Tuan"
Sang sekertaris pun mundur dan mempersilahkan tamu bosnya untuk masuk.
Dan ketika pintu itu terbuka lebar, sorot mata Eza berubah dingin setelah melihat siapa orang yang datang.
Mantan kakak iparnya dari istri pertama, pria tersebut muncul setelah tujuh tahun pertemuan mereka terakhir kali, entah ada maksud apa.
Wajahnya makin terlihat tua, lipatan hitam dibawa mata sangat nampak jelas, seperti seseorang yang sedang dilanda banyak masalah.
"Tenyata kau, aku tak mengira kau muncul lagi dihadapan ku" ucap Eza sinis.
Pria yang ditatap sinis hanya mampu terdiam.
"Masuklah, tutup pintunya" Eza duduk terlebih dahulu di sofa, tak menyambut dengan baik tamu istimewanya ini.
Setelah keduanya duduk, barulah Eza membuka obrolan.
"Ada apa Hendy? Tenyata kau masih mengingatku adik iparmu ya?" Sindir Eza.
"Maaf atas tujuh tahun lalu..." Lirihnya.
Eza tersenyum kecut, muak dengan ekspresi yang ditampilkan pria tersebut.
"Bukankah keluarga mu bilang kalian sudah tak ada hubungan apa-apa lagi dengan keluarga ku? Lantas kenapa kau ada disini?" Ujar Eza.
Hendy tau semua kata-kata pedas yang Eza lontarkan adalah fakta yang sepertinya masih membuat pria itu marah sekaligus kecewa.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu" seru Hendy tak berani menatap Eza.
"Memastikan sesuatu?" Eza menautkan kedua alisnya.
"Kau sudah menikah lagi?" Tanya Hendy.
Sontak Eza tergelak mendapat pertanyaan seperti itu, ia pikir untuk apa orang ini datang padanya, ternyata hanya untuk memastikan hal yang tidak penting.
"Memangnya kenapa? Kau tidak terima? Kau ingin aku menangisi adikmu sampai sekarang?" Eza dengan lugas, tanpa harus disaring lebih dulu.
"Tidak, bukan itu masalahnya" elak Hendy.
"Lalu?"
"Sudah berapa lama kalian menikah?" Lanjut Hendy.
"Kau ini sangat penasaran sekali ya tentang hidupku, apa untungnya untuk mu?" Mulai kesal dengan pertanyaan tak jelas ini.
__ADS_1
"Jawab saja, aku mohon!" Tekan Hendy.
"Tiga bulan yang lalu, lantas apa mau mu?" Jawab Eza jujur.
Deg!
Hendy meneguk Saliva kuat-kuat, perasaannya kian berkecamuk, potongan-potongan kecil wajah anak lelaki yang ia temui tempo hari menghiasi otaknya.
"Lantas..... S-siapa bocah kecil itu?"
Eza mencerna kata-kata tersebut, siapa yang Hendy maksud bocah kecil? Dan apa hubungannya dengan pernikahan Eza? Apakah lelaki ini bertanya seputar Elvis?
"Darimana kau melihat bocah kecil itu?" Eza semakin menatap tajam pria di depannya.
"Dia... Dia anak kandung Farita?" Duga Hendy, menatap kosong pada suami mendiang adiknya.
Eza tak menjawab, lidahnya pun kelu untuk berbohong apalagi jujur tentang yang sebenarnya. Eza memilih diam dan membiarkan pria dihadapannya berpikir sendiri.
"Dia.... Dia masih hidup? Anak kalian.... Kau.... Kau menemukan dia dimana???" Hendy mendesak.
"Untuk apa aku menjelaskan padamu? Dulu saja keluarga mu tidak peduli tentang anakku yang hilang, bahkan menolak ketika aku meminta bantuan" desis Eza enggan.
"Jadi jangan pura-pura peduli, kalian sudah tak punya hak untuk tau"
Farita....
Anakmu masih hidup....
Dia ada digenggaman ayahnya sekarang...
Hendy tak bisa membendung air mata setelah mengetahui fakta yang teramat mencengangkan, rasanya Hendy ingin membunuh dirinya sekarang juga, merasa ia adalah manusia terbejad sepanjang masa.
"Eza..... Maaf..... Maafkan aku...."
"Aku sangat berdosa padamu...."
"Maafkan aku......." Terus menangis tersedu-sedu.
Eza memutar bola mata malas, ia merasa Hendy telat untuk meminta maaf darinya.
"Sudahlah... Kenapa kau sangat lebay seperti ini?! Aku jijik melihatnya"
"Tidak.... Kau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.... Aku.... Aku sungguh minta maaf padamu....."
"Apa sih kau ini?!! Cepat jelaskan kalau begitu!" Merasa pembicaraan mereka berputar-putar disitu saja.
"Akulah yang telah membuang bayimu...."
DUARRRR!!!
"Tujuh tahun lalu.... Akulah orang yang menelantarkan bayi kalian.... Akulah orang yang kalian cari-cari....."
"Aku... Aku orang dibalik hilangnya putramu"
"BRENGSEKKKKKK.......!!!"
BUGH!
BUGH!
__ADS_1
BUGH!
Eza langsung melempar bogem pada Hendy dengan brutal, wajahnya memerah sampai urat-uratnya pun timbul keluar.
"BRENGSEKKKKKK...... BAJINGAN KAUUU.....!!!"
Hendy tak melawan, ia membiarkan Eza memukulnya sampai puas bahkan Hendy rela seandainya ia mati ditangan pria ini.
BUGH!
BUGH!
"Kau..... Apa maksudmu melakukan itu hah?!! Kau dengan teganya memisahkan anakku selama ini...!!!"
"Mati saja kauuuuu.....!!"
BUGHH!
Pintu terbuka, Rafa masuk guna memisahkan kedua orang itu. Ia tahu sebab sekertaris Eza melaporkan padanya tentang keributan ini.
"Tuan hentikan....!"
BUGH!
"Tuan..... Sudah Tuan.....!"
Rafa berhasil memisahkan Eza yang sudah seperti orang kesetanan, meski pria itu masih memberontak ingin meninju lagi wajah Hendy.
"Tolong dengarkan aku dulu.... Aku akan menjelaskan padamu...." Hendy dengan tenaga yang tersisa.
Dan dengan usaha Rafa yang terus menasehati serta menenangkan bos nya, akhirnya Eza pun memilih duduk kembali dan mulai mendengarkan penjelasan Hendy kenapa dia membuang Elvis saat itu.
"Kau tau pasti kalau Farita bukanlah saudara kandung ku dan adik-adik ku yang lain. Dia anak dari wanita yang tak sengaja ayah ku hamili" menjeda sejenak.
"Itu sebabnya tak ada satupun dari kami yang berhubungan baik dengan Farita, termasuk ayah"
"Sejak Farita menikah dengan mu, disitulah keluarga ku merasa tak ada lagi tanggung jawab dengan Farita"
"Tapi ternyata ketika Farita hamil dia kabur ke negara ini, kami mengetahuinya dari mu"
"Keluarga ku semakin tak menyukai Farita, merasa kalau anak itu hanya merepotkan kami saja. Tapi aku sebagai anak pertama, merasa yang paling mengkhawatirkan wanita itu"
"Aku mendapat telepon dari pihak rumah sakit, bahwa Farita saat itu akan melahirkan, dan dia memilih untuk memasukkan nomorku sebagai walinya"
"Aku datang dan menemani Farita sampai bayinya lahir, dia menangis karena merasa hidupnya kacau setelah mendengar kabar kalau mantan kekasihnya telah menikah. Dan dia juga angkat tangan dengan anaknya sendiri"
Masih teringat percakapan Farita saat itu.
"Kakak bawa saya bayi itu, aku tak menginginkannya! Aku tidak mencintai Eza, pria itu yang memperkosa ku sehingga aku hamil anak ini. Kalau kakak tidak mau, buang saja!"
"Saat aku sedang mengurus keperluan rumah sakit ternyata Farita telah kabur dari sana, sore hari aku membawa bayinya ke hotel tempat Farita menginap karena aku yakin perempuan itu ada disana. Tapi saat aku tiba pihak hotel serta beberapa polisi ada disana dan menemukan Farita sudah tak bernyawa"
"Malam hari bayi itu masih bersama ku, aku membawanya tidak tau mau kemana. Aku tak mungkin membawanya ke rumahku, keluargaku akan berlaku tidak baik"
"Dan sampai dini hari... Aku menyimpannya di dekat pos satpam, aku memutuskan untuk menelantarkan bayi itu dan menutupi semua berita yang beredar"
"Dan saat kau datang lagi meminta bantuan untuk mencari anakmu, saat itu aku kembali ke tempat dimana aku membuangnya. Tapi rupanya anak itu sudah dibawa oleh seseorang dan aku tidak tau kemana orang itu pergi"
"Aku tak berani mengaku, tak ada yang aku beritahu tak terkecuali keluarganya sendiri. Tapi ketika aku melihatnya kemarin. Aku tak bisa menutupinya lagi...."
__ADS_1
"Kau bunuh saja aku sekarang juga"