MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 62


__ADS_3

Adira memundurkan langkahnya seiring dengan Eza yang mendekat, menatap nyalang padanya, seperti ingin memakannya hidup-hidup.


Dalam sekejap Adira berhenti ketika Eza memegangi kerah bathrobe yang ia kenakan. Tubuh Adira bergetar ketakutan, apalagi saat kedua alis Eza semakin menyatu.


"Kau memakai bathrobe milikku?!"


"M-maaf.... S-saya tidak sempat mengambil handuk di kamar Elvis. S-saya akan mencucinya setelah ini...." Ujar Adira panik, ia hanya meminjamnya sebentar, Adira juga yakin Eza tak hanya memiliki satu kimono handuk ini, pasti terdapat banyak di lemarinya.


"Cepat lepas! Aku juga ingin mandi sekarang" menjauhkan lengannya dari leher Adira.


"Iya iya, saya akan berganti pakaian dulu" Adira melesat mengambil kotak itu tanpa melihatnya terlebih dahulu, kemudian masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaiannya.


Di dalam, Adira bernafas lega setelah berhasil menjauh dari Eza. Kini tinggal memakai baju yang sudah di sediakan, seusai itu Adira bisa kembali ke kamar Elvis.


Ia pun membuka kota tersebut, menarik pakaian berbahan satin yang terasa sangat lembut saat tersentuh kulit, Adira yakin ia akan merasa nyaman tidur dengan pakaian ini.


Namun, ketika Adira membentangkan kain itu, matanya terbeliak hampir keluar!


Netranya melebar manakala baju yang kini menggantung ditangannya bukanlah pakaian tidur yang biasa Adira pakai, melainkan sebuah dress mini tanpa lengan diatas paha, lebih cocok disebut dengan lingerie.


"A-apa-apaan ini???!"


"S-siapa yang menyiapkan gaun ini?!"


Adira terus memandang gusar pada gaun tidur tersebut, gaun warna merah yang amat mencolok, membuat Adira bergidik ketika membayangkan memakainya.


"Mereka pasti sengaja memilih ini untukku? Mereka pasti berpikir yang tidak-tidak" lirih Adira lesu, ia tidak mau memakai ini dihadapan Eza, pria itu pasti menganggap dirinya sengaja menggoda dengan memakai pakaian mini ini, mau taruh dimana mukanya?!


Suara gedoran membuat Adira terlonjak, ia sama sekali belum memakai pakaian apapun di tubuhnya.


"Adira cepatlah...! Sedang apa kau didalam, hah?!" Suara Eza menggema diluar sana.


"S-sebentar, Tuan..."


"Tidak ada pilihan, aku harus segera memakainya"


Diluar, Eza nampak menggeram kesal karena terlalu lama menunggu Adira, padahal hanya tinggal memakai baju saja membutuhkan waktu hingga beberapa menit. Ia sudah tidak tahan ingin segera menceburkan dirinya didalam bathup.


Clekkk....


Suara pintu terbuka membuat Eza menoleh, tetapi ada yang mencuri perhatiannya, Adira keluar dan masih memakai bathrobe miliknya, wanita itu terlihat enggan melepas handuk tersebut.


"Apa saja yang kau lakukan didalam?! Dan apa ini, kau masih memakai bathrobe ku"

__ADS_1


"T-tuan, bisakah saya pinjam bathrobe ini? Saya yakin anda masih memiliki bathrobe yang lain"


"Apa? Aku tidak mau! Bathrobe ini khusus milikku, tidak ada bathrobe yang sebagus ini. Cepat lepas, mana baju gantimu? Bukankah tadi kau bilang hendak memakainya?"


"I-itu, saya sudah memakainya. Tapi...." Adira ragu untuk mengatakan alasannya, wajahnya sudah merona duluan.


"Kalau sudah kenapa masih memakai handuk kimono itu? Aneh kau ini, cepat buka! Aku memerlukannya" titah Eza tak mau dibantah.


"K-kalau begitu tolong ambilkan pakaian ku di kamar Elvis, saya tidak bisa memakai pakaian pemberian ini"


"Kau berani menyuruhku?" Eza kembali mendekat, menghimpit Adira hingga ke ujung tembok, Adira tak sempat menjauh, kini punggungnya menyentuh dinding yang terasa dingin.


"B-bukan begitu, b-baik saya lepas...." Tak mau ambil resiko, Adira pun mulai membuka tali bathrobe sambil memalingkan pandangannya.


Eza terhenyak ketika melihat isi dari balik bathrobe yang melekat di tubuh Adira, sebuah dress mini terpampang jelas di badan wanita ini. Dengan bagian dada yang rendah membuat kedua daging empuk itu sedikit menyembul ke atas.


Glek!


Saat kimono handuk itu sudah benar-benar terlepas, Eza bisa melihat dengan jelas tubuh Adira yang tercetak dari balik gaun tidur berbahan satin tersebut, membuat Eza spontan menahan nafasnya.


Adira menyodorkan handuk tersebut pada Eza, membuat pria itu seketika tersadar dan mengutuk dirinya sendiri.


"Sial!" Umpat Eza dalam hati.


"Jadi kau tak mau melepaskan karena mengira aku akan tergoda? Heuh! Kau salah besar, Nona" setelah mengatakan itu Eza menyambar bathrobe nya dan masuk ke dalam kamar mandi.


***


Adira duduk di sofa dengan resah, beberapa kali ini menarik ujung dress-nya agar menutupi paha yang terbuka, namun ketika di tarik bagian atasnya ikut menurun dan membuat dadanya terbuka. Adira frustasi memakai gaun tidur ini!


Ia ingin keluar mengambil pakaiannya di kamar Elvis, tetapi Adira tak berani, malu jika terlihat oleh orang-orang rumah.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu membuat Adira terkesiap, ia bangkit dan mendekat namun tidak langsung membukanya.


"Siapa?"


"Saya, Nona. Saya mau mengantarkan makan malam untuk anda dan Tuan" balas orang tersebut yang tak lain adalah pelayan.


Mendengar suara perempuan Adira bernafas lega, ia membuka pintu dan mempersilahkan pelayan itu masuk.


"Simpan saja di meja sofa"

__ADS_1


"Baik, Nona"


Pelayan pun memindahkan semua makanan dari nampan nya ke atas meja, kemudian bangkit lagi dan pamit keluar.


"Tunggu sebentar!" Adira menahan pelayanan itu pergi.


"Iya, Nona?"


"Emm... Bisakah kau mengambil..."


Belum sempat Adira melanjutkan ucapannya, Eza sudah keluar dari kamar mandi, pria itu memakai bathrobe dengan rambut basah yang bercucuran air.


"Ada apa?" Seru Eza.


"Selamat malam, Tuan. Saya mengantar makan malam untuk anda dan Nona" pelayan tersebut membungkuk.


"Lalu?"


Pelayan itu mengalihkan tatapan pada Adira, seolah melempar pertanyaan Eza pada Nona mudanya.


"Aku... Ingin minta bantuan. Tolong, ambilkan pakaian ti...."


"Tidak usah!" Potong Eza.


"Kau, keluarlah" lanjutnya menunjuk sosok pelayan wanita itu.


Dengan sopan pelayan tersebut pun menurut dan langsung menghilang diri.


"Apa yang baru saja kau lakukan? Kau mau pelayan itu mengadu pada orang tua ku?!"


Dengan cepat Adira menggeleng, "Tidak, Tuan"


"Lalu kau mau membuat ibuku bersedih karena kau tak menghargai pemberiannya??"


"Tidak....." Suara Adira tercekat, matanya memelas menatap suaminya. Eza sontak tertegun melihat mata mengkilap itu.


Bagaimana bisa perempuan di depannya ini nampak sangat menggemaskan?!! Tubuh dengan tinggi yang lebih pendek darinya, badan yang sedikit berisi, serta mata yang mengiba semakin menambah kecantikan Adira.


Melihat itu wajah Eza tiba-tiba memerah, menahan sesuatu yang tiba-tiba muncul di jiwanya, tapi berusaha Eza tahan.


"Maaf...." Cicit Adira.


Tak mau Adira terus menampakkan ekspresi seperti itu, Eza segera berbalik sekaligus menyembunyikan keadaan wajahnya yang memanas.

__ADS_1


"Sudahlah, lupakan!"


Barulah Eza mengambil pakaiannya dan masuk kembali ke kamar mandi, meninggalkan Adira yang hanya bisa menghela nafas, baru saja beberapa menit berada di satu ruangan bersama Eza, tapi Adira sudah dibuat ingin menangis.


__ADS_2