
Kali ini Adira dan Eza tidak tidur berpelukan, hal itu disebabkan oleh dua bocah kecil yang tidur di tengah-tengah ranjang memisahkan jarak diantara sepasang suami istri tersebut.
Adira nampak baik-baik saja, dirinya berbaring sambil menepuk-nepuk bo kong Pelita agar balita itu cepat tertidur, Elvis sudah memejamkan mata sedari tadi. Berbanding terbalik dengan Eza yang masih belum terlelap dan hanya memandang murung ke arah Adira.
Perlahan tepukan lengan Adira memelan seiring dengan dengkuran lembut Pelita, menandakan jika bocah tersebut sudah terbang ke alam mimpi.
Adira pun menjauhkan tangannya, kemudian ikut memejamkan mata mencoba untuk tidur.
"Raaaa....."
"Adiraaaaa....."
Suara bisikan Eza membuat Adira membuka mata, ia menengok pada sang suami yang tengah memandanginya.
Adira hampir lupa jika Eza pasti sedang kesulitan tertidur karena tak bisa dekat dengan dirinya, tapi ranjang ini terlalu sempit jika Eza pindah ke sisi Adira.
Adira pun memilih bangkit dari ranjang, berjalan ke arah sofa. Eza pun melakukan hal yang sama.
"Kita tidur di sofa saja malam ini ya"
"Kau tak apa?" Meski tak tega melihat istrinya tidur di sana tetapi Eza juga tak punya pilihan.
"Iya, tenang saja. Tolong ambilkan bantalnya mas"
Eza pun membawa satu bantal dan menaruhnya di lengan sofa, Adira yang pertama berbaring diikuti Eza yang memeluk dirinya seperti sebuah guling empuk.
Halangan apapun yang ada di antara mereka tak membuat Adira dan Eza terpisahkan, mereka pun akan melakukan berbagai cara untuk bisa saling berdekatan lagi, meski lebih tepatnya Eza yang meminta.
***
Elen pulang setelah dua hari pergi ke Solo menemani suaminya, hari ini perempuan itu terlihat sedang menjemput putri kecilnya yang dititipkan pada Adira.
"Padahal kak Elen masih capek menempuh perjalanan jauh, kakak bisa menjemput Pelita nanti saja aku tidak keberatan kok"
"Iya sih sebenarnya, tapi aku sudah sangat rindu dengan putriku ini" sambil mencium gemas pipi chubby Pelita.
"Terimakasih ya Ra, kamu sudah menjaga Pelita. Dan sebagainya rasa terima kasih, kami bawakan oleh-oleh untuk kalian semua" Ken memberikan beberapa bungkusan oleh-oleh dari Solo, tak ada yang terlewatkan termasuk untuk Eza.
"Ya ampun, kami jadi merepotkan kalian" ucap Tari ketika menerima bingkisan dari keponakannya.
"Tidak kok, ini hanya hadiah kecil saja"
"Wahhh.... El dapet mini robot terbaru!!" Elvis heboh begitu membuka hadiahnya, sebuah mainan yang tentu akan menyenangkan untuk anak lelaki sepertinya.
"Bilang apa, nak?" Adira berseru.
__ADS_1
"Makasih Om, Tante...!"
"Sama-sama, sayang" Elen dan Ken serempak.
"Kami mau langsung pulang saja sepertinya" Elen berucap.
"Lho, kalian baru saja sampai kesini" Tari terkejut.
"Iya Tante, maaf kami tidak bisa lama-lama"
"Baiklah, hati-hati dijalan" hanya pasrah dan tak memaksa Elen serta Ken untuk tetap disini, keduanya pasti sangat lelah dan ingin buru-buru sampai di rumah sendiri.
"Tentu, terimakasih ya semuanya..."
"Bye Pelita...." Elvis melambaikan tangan.
Balita itu pun tertawa riang seolah Elvis tengah mengajaknya bermain.
"Bye kak Elvis... Lain kali main ya ke rumah kami" Elen menggerakkan tangan Pelita agar melambai-lambai seperti yang Elvis lakukan.
"Iya, nanti El mau main ke rumah Om dan Tante"
"Siap, kami tunggu ya"
Dan mereka pun pergi dari kediaman megah itu, Adira melambaikan tangan pada Pelita yang terlihat dari balik kaca mobil yang terbuka, ia cukup sedih karena harus berpisah dengan bayi imut tersebut.
"Akhirnya malam ini aku tidur dengan tenang" Eza menghela nafas lega.
Bukan karena tak menerima kedatangan saudaranya, tetapi ia jadi tak bisa berdekatan dengan sang istri, semenjak menikah yang sangat Eza butuhkan adalah Adira.
"Besok aku ada undangan ke pesta pernikahan rekan bisnis ku, lokasinya ada di Bogor, kau harus ikut mendampingi ku"
Adira yang tengah membereskan tempat tidur seketika mendongak.
"Besok?"
"Ya, kita akan menginap semalam di hotel"
"Tapi.... Aku belum menyiapkan apapun" Adira bingung, kenapa sangat mendadak seperti ini, bahkan Adira juga belum tau gaun mana yang akan dipakai besok.
"Bawa saja barang-barang yang penting, selebihnya kita bisa beli disana" Eza dengan santai, ia sudah biasa berpergian tanpa ada persiapan terlebih dahulu.
"Emm.... Tapi, aku belum punya gaun pestanya" lirih Adira bimbang.
"Besok kita beli di butik langganan keluarga ku"
__ADS_1
"Kalau tidak ada gaun yang seukuran dengan ku bagaimana?" Adira gundah.
Eza berjalan mendekat sambil menelisik lekuk tubuh Adira dengan tatapan penuh arti, tangannya meraba bagian sisi badan Adira dari mulai bahu sampai ke pinggul, membuat si empu merinding dibuatnya.
"A-ada apa?" Terheran.
"Tubuh mon tok seperti ini tentu saja banyak di sediakan pakaian oleh para desainer" Eza dengan gamblangnya.
Pipi Adira langsung merona seketika, bahasa yang sangat vul gar itu terdengar menggelikan namun yang aneh hatinya justru berdegup seperti ingin meletus.
"A-apa sih! Orang aku gemuk begini" Elak Adira salah tingkah.
"Oh ya?"
"Iya, aku makan lumayan banyak akhir-akhir ini"
"Bagus, semakin gemuk semakin lezat untuk disantap" ujar Eza ambigu.
Adira tak mengerti apa yang Eza maksud, namun beberapa saat kemudian ia meneguk Saliva saat otaknya mulai mencerna kata-kata Eza barusan.
"Kebetulan aku sudah tidak makan selama tujuh tahun, aku lapar sekali sekarang dan ingin segera mencicipi daging segar" lanjutnya.
Glek!
Adira berpikir keras guna menghindari Eza agar tak menjadi santapan pria tersebut, tetapi otaknya terlanjur kalut sehingga alasan yang ia buat sangatlah terlihat jelas.
"A-aku harus ke kamar mandi, p-perutku tiba-tiba sakit...."
Adira berbalik dan hendak kabur untuk bersembunyi.
Akan tetapi Eza lebih cepat menahannya, pria itu memeluk Adira dari belakang.
"Pas sekali, aku juga mau membersihkan diri. Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Bisik Eza tepat di telinga Adira, membuat wanita itu meremang.
"A-aku sudah mandi, mas!"
Eza mengacuhkan alasan istrinya, ia sudah mulai mengecup leher jenjang Adira dan sudah dipastikan kalau Eza tak akan melepas sang istri sebelum menuruti permintaannya.
"Mas! Lepas mas...."
Bukannya melepas Eza justru mengangkat tubuh Adira dan membawanya ke dalam kamar mandi, melepas seluruh pakaian yang mereka kenakan hingga tak ada sehelai benang pun yang tersisa.
Adira tak lagi protes, percuma karena tenaganya kalah jauh dengan Eza, ia tak akan bisa kabur bahkan ke lubang semut sekalipun.
"Ini akan sangat menyenangkan!" Ucap Eza sebelum ia menciumi bibir sang istri dengan penuh ga irah.
__ADS_1
Walaupun belum sampai tahap penyatuan, tetapi keduanya bersenang-senang dengan cara mereka sendiri, saling memeluk dan bertukar Saliva saja sudah membuat mereka meng erang nikmat.
Entah berapa lama Adira dan Eza berada di dalam sana, sampai hari mulai menggelap tak ada tanda-tanda salah satu dari mereka akan keluar.