
Sudah seminggu Elvis di rawat di rumah sakit, kini kondisinya sangat membaik dan dokter pun sudah mengizinkan Elvis pulang ke rumah.
Semua orang sangat berbahagia mendengar kabar kepulangan Elvis, begitupun dengan Adira. Wanita itu kini tengah mempacking barang-barang Elvis ke dalam tas besar.
Sedangkan Eza tengah mengurus admistrasi sang putra, Tari dan Arian memilih menunggu Elvis di rumah dan mempersiapkan segala kebutuhan cucu mereka.
Setelah dimandikan Elvis nampak segar dan sudah rapih, wajah pucat pasi yang beberapa hari lalu menghiasi wajahnya kini kembali cerah.
Eza datang setelah menyelesaikan surat-surat kepulangan El, pria itu menghampiri putranya yang duduk di tepi brankar.
"Sudah siap, El?"
"Udah, Om! Kita pulang sekarang?"
"Tentu, Oma dan Opah sudah menunggu di rumah" Eza mengiyakan, tangannya tak henti mengusap surai lembut putranya.
"Kita pulang ke rumah besar?"
"Tentu saja"
"Mama?"
Sontak pertanyaan Elvis menghentikan gerakan tangan Eza, senyumannya pun berubah kaku. Adira yang menyadari hal itu hanya tertunduk lesu.
Suasana kamar itu kian berubah canggung.
Tapi untunglah seorang perawat masuk ke kamar inap dengan membawa kursi roda.
"Permisi, apakah semuanya sudah siap?" Sapa suster itu dengan ramah.
"Sudah sus" balas Eza.
"Biar saya antar sampai ke depan" ujarnya.
Akhirnya mereka keluar dari kamar tersebut, dengan Elvis yang berada di kursi roda sedangkan Eza berjalan di sebelah kiri sambil membawa tas besar milik Elvis dan Adira yang berjalan di sebelah kanan menggandeng lengan Elvis yang tak mau dilepas.
Sebuah mobil Alphard sudah menunggu di depan pintu masuk, sang sopir keluar dan mengambil alih tas yang Eza pegang untuk dimasukkan ke dalam bagasi.
"Terimakasih suster sudah mengantar kami sampai sini" kata Adira pada perempuan berseragam putih itu.
"Sama-sama, Nona. Semoga Tuan Elvis sehat selalu. Saya pamit undur diri" Adira mengangguk dan membiarkan perawat tersebut masuk kembali ke dalam.
"Ayo El, masuk ke mobil" titah Eza.
__ADS_1
Elvis menurut dan naik ke dalam mobil berwarna putih tersebut dibantu oleh Eza. Setelah duduk dengan nyaman Elvis lantas memanggil Adira untuk ikut masuk.
"Naik, ma! Sini, duduk dekat El" pintanya menepuk kursi sebelah.
Tapi tampaknya Adira ragu untuk masuk dan duduk disana, jika ia naik maka otomatis Adira akan ikut datang ke rumah Eza, tapi... Apakah si pemilik kendaraan ini mengizinkan Adira untuk tetap menuruti keinginan Elvis?
"Mama... Sini!" Ujarnya lagi.
Tapi Adira justru tetap mematung ditempat, ia tidak mau memaksa jika Eza memang tidak memperbolehkan Adira ikut. Ia akan menurut kalau-kalau Eza memang menginginkan Adira menemani El hanya sampai disini.
"Masuklah.... Jangan buat El mengulang ucapannya" lirih Eza seolah menyadari apa yang Adira pikirkan.
Adira yang mendengarnya sontak terkesiap, ia ingin memastikan tapi pria itu sudah naik dan duduk di kursi samping kemudi.
Beberapa detik Adira meyakinkan jika pendengarnya tidak salah, Eza menyuruhnya menuruti permintaan Elvis, artinya Adira boleh ikut??
"Mama..." Suara Elvis membuyarkan Adira, tak mau membuat Elvis menunggu apalagi membuat Eza berubah pikiran. Adira buru-buru naik ke dalam kendaraan beroda empat tersebut.
Dan mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah sakit.
***
Disepanjang perjalanan Elvis kembali mengoceh, bibir mungilnya tak henti berbicara pada Adira, tak pernah ia sesenang ini pulang ke rumah besar. Kehadiran Adira membuat tempat dimana pun menjadi rumah bagi Elvis
"Oh ya? Mama jadi penasaran" sahut Adira basa-basi.
"Iya, ma. Rumahnya seperti tempat tinggal impian kita" Elvis mengingatkan.
Adira tersenyum lembut, dulu ia dan Elvis pernah berandai-andai memiliki rumah sebesar istana, pernah punya impian sebesar itu meski realitanya kehidupan mereka juga sangat pas-pasan. Tapi Adira selalu meyakinkan Elvis jika suatu saat nanti Elvis akan menjadi orang yang sukses dan mampu mewujudkan cita-cita mereka.
"El suka tinggal disana?"
Elvis mengangguk, ia memeluk sang ibu dan menyandarkan kepalanya di tempat paling nyaman.
"Suka! Asalkan ada mama, El pasti betah" jawab bocah tujuh tahun tersebut.
Adira tersenyum nanar, sayangnya ia hanya tamu di rumah itu. Meski begitu, Adira tetap senang karena impian Elvis sudah terwujud meski pada akhirnya sang anak tinggal tanpanya.
Adira tak menanggapi karena tak tau harus berkata apa, jika ia bilang tidak bisa tinggal disana Elvis pasti akan menangis dan mengamuk seketika.
Eza yang duduk di kursi depan pura-pura tidak mendengar, ia membisu dan tak ikut menimbrung. Ucapan Elvis membuat Eza jadi banyak berpikir.
***
__ADS_1
Sesampainya di halaman rumah, ketiga orang itu keluar setelah sang supir membukakan pintu mobil.
Saat menginjakkan kaki di sana Adira langsung dibuat terpana dengan bangunan di depan matanya. Ia sampai ternganga tak percaya. Bangunan bercat putih bernuansa Eropa itu membuat siapa saja yang memandang tak bisa berkedip.
Apa ini benar-benar sebuah istana?
Entah lebay atau bukan, tapi rumah ini begitu sangat mengagumkan. Kini, Adira jadi tau seberapa besar kekuasaan seorang Eza.
"Ayo El kita masuk" ajak Eza melangkah menuju teras rumah.
Adira dan Elvis mengekor di belakang, kemudian berdiri di depan pintu selagi Eza menekan bel rumah.
Dan tak lama pintu utama terbuka lebar, pelayan menyambut kedatangan Tuan mudanya yang baru saja di rawat di rumah sakit.
"Selamat datang Tuan Elvis, senang bisa melihat anda sehat kembali" begitulah kira-kira sambutan dari para pelayan di rumah itu.
Mereka melangkah masuk ke dalam, Adira lagi-lagi dibuat terkesima dengan isi di dalam bangunan ini. Begitu megah sesuai dengan tampilan luarnya.
Jadi disini Elvis tinggal? Benar-benar luar biasa!
"El... Itukah kamu?" Suara seorang wanita muncul dari salah satu ruangan.
Tari berteriak kegirangan melihat sang cucu yang sudah tiba di rumah, wanita paru baya itu berlari bergopoh-gopoh menghampiri Elvis. Memeluk tubuh kecil sang cucu dan tak lupa menciumnya.
"Oma pikir masih satu jam lagi kalian datang, tapi syukurlah kalian datang dengan selamat" sambung Tari.
"Kalian sudah datang?" Arian pun muncul dari ruang kerjanya.
"Kenapa tidak telpon kami? Kami jadi tidak menyambut kalian di depan" Arian ikut menghampiri cucunya.
"Maaf mah pah, Eza lupa menghubungi kalian lagi" tutur Eza menyanggah.
"Ya sudah tidak apa-apa, Oma sudah siapkan makanan untuk kalian. Kalian pasti lapar dan lelah kan, butuh energi tambahan. Ayo kita ke ruang makan sekarang" ajak Tari, yang lain pun mengangguk dan mulai melangkahkan kaki menuju ruang makan.
Tapi Adira justru tetap berdiri ditempat, merasa tidak pantas untuk ikut bergabung bersama mereka.
Sampai Tari mendekat dan mengajak Adira yang tak melangkah sedikit pun.
"Adira kenapa diam disana, nak? Mari makan bersama kami"
"T-tidak usah, Nyonya. Saya.... Saya sudah makan tadi" ujar Adira berbohong.
"Sudah tidak apa-apa makan lagi saja, saya sudah buat makanan yang banyak untuk menyambut kedatangan kamu juga. Ayo..." Tari merangkul Adira hingga membuat wanita itu tak kuasa menolak.
__ADS_1