MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 96


__ADS_3

"Ragu? Apa mas ragu karena tak bisa melihatku sebagai seorang wanita?" Qia berujar.


Rendy mengangguk pelan, sejak dulu kedekatan ibu mereka membuat Rendy menganggap Qia sebagai saudaranya sendiri, adik perempuan sebab Qia lebih muda lima tahun darinya.


"Boleh aku meyakinkan mas Rendy? Jika kini aku adalah seorang wanita, bukan lagi perempuan semata"


"Maksud kamu? Bagaimana kamu bisa merubah pandanganku terhadap mu?" Imbuh Rendy.


"Seperti ini..."


Qia mendekat, mengikis jarak diantara keduanya. Tangannya menekan tengkuk Rendy hingga pria itu sedikit menunduk.


Dan tanpa disangka, Qia menempel bibirnya di bibir Rendy saat itu juga.


Cup!


Rendy terbelalak, serangan Qia yang amat mendadak membuat sarafnya mati seakan baru saja mengalami serangan jantung.


Rendy tak menyangka Qia dengan berani mencium bibirnya.


Qia berjinjit karena tak bisa menjangkau tubuh Rendy yang tinggi, ia menutup mata menikmati ciuman pertamanya ini, meresapi dalam-dalam bibir kenyal si pria.


Qia melepas ciuman itu, menapakkan lagi seluruh telapak kakinya sembari menatap sayu pada Rendy yang tak merespon apapun, mungkin memang ciuman darinya tak ada arti apa-apa bagi pria itu.


"Maaf.... Mungkin mas Rendy menganggap ku perempuan murahan sekarang" cicit Qia menundukkan kepala karena merasa malu dan rendah di mata pria itu.


Tapi pemikiran Qia justru berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Rendy kini, ia mengangkat dagu Qia dan menundukkan kepalanya.


Rendy mencium Qia!


Pria itu membalas apa yang dilakukan oleh wanita ini, melakukan hal yang sama seperti yang dipraktekkan Qia.


Qia terkesiap, namun buru-buru ia memejamkan mata guna menikmati ciuman berbalas tersebut.


Mengalungkan kedua tangan di leher Rendy sambil bergulat lidah dan bertukar Saliva.

__ADS_1


Rendy yang awalnya ragu tiba-tiba saya merasa ada magnet yang membuat ia melakukan lebih, lengannya pun semakin menekan tengkuk Qia guna memperdalam ciuman mereka.


Ketika Qia mencoba membuka kaos yang dipakai Rendy, dengan cepat Rendy melepas ciuman tersebut.


"Jangan, Qia! Aku tak mau mengotori anak perawan" ucapnya parau.


Qia pun kembali menurunkan lengannya, "Baiklah... Cukup ciuman saja"


Mereka pun lanjut beradu bibir, kali ini lebih liar daripada yang tadi, Rendy mulai menggigit bibir bawah Qia, membuat wanita itu berdesis.


Qia melepas lagi pertautan itu saat dirinya kehabisan nafas.


"Bagaimana? Mas masih ragu kepadaku?"


"Iya" ujar Rendy sambil tersenyum.


"Boleh aku yakinkan mas lagi?"


"Tentu"


Nampaknya kedua manusia itu saling menikmati apa yang diperbuat, Rendy yang pernah menikah tentu merindukan sensasi ini, dan Qia yang tampak agresif semakin penasaran dengan apa yang ia rasakan.


***


"Aku pergi dulu"


Rendy yang sudah siap, diantar Qia sampai ke depan gerbang tempat kepolisian, lelaki itu berkumpul disana terlebih dahulu untuk berangkat bersama-sama dengan rekannya.


"Hati-hati mas, semoga sampai dengan selamat" Qia mendoakan, tetapi wajahnya terlihat tidak rela.


"Terimakasih, kamu juga baik-baik disini"


"Iya, mas" lirih Qia.


Melihat ekspresi murung Qia, Rendy refleks menyentuh pipi sang wanita, kejadian tadi membuat Rendy perlahan mulai memandang ke arah wanita ini.

__ADS_1


"Jangan bersedih, bukankah aku sudah menuruti permintaan mu?" Kata Rendy.


"Iya, tapi mas Rendy justru harus pergi disaat aku baru mengungkapkan perasaan ku"


Tak tega rasanya, padahal saat tadi pagi Rendy merasa biasa-biasa saja untuk bertugas. Tapi kini, ia merasa berat, bahkan untuk turun dari mobil Qia.


"Tunggu aku... Aku usahakan kembali secepatnya" janji Rendy.


"Kalau aku ingin telpon mas Rendy nanti, apakah bisa?"


"Agak sulit sebenarnya, tapi jika memang memungkinkan aku yang akan menelpon duluan. Tenang saja"


"Aku turun sekarang...."


Sebelum Rendy keluar dari mobil, Qia lebih dulu menarik pakaian seragam Rendy dan langsung menghujani lelaki itu ciuman.


Rendy tak menolak, ia bahkan membalasnya.


Setelah dirasa cukup, Rendy pun akhirnya benar-benar keluar dari kendaraan beroda empat milik Qia.


Ia melambaikan tangan ke arah Qia, begitu juga sebaliknya.


Perpisahan yang sangat menyiksa untuk dua orang yang baru saja saling terbuka.


"Mas Rendy.... Aku mencintaimu" ucap Qia dari jauh.


***


Seorang pria menatap ke arah gedung tinggi pencakar langit didepannya, sambi membawa beban berat yang menumpuk di pundaknya.


Untuk pertama kalinya ia datang ke tempat ini, bukan untuk mencari lowongan kerja, tetapi untuk bertemu dengan pemilik gedung ini tanpa ada hubungannya dengan pekerjaan.


Setelah mengumpulkan keberanian setelah sekian lama.


Mungkin inilah waktunya....

__ADS_1


Ia mulai melangkah dan memasuki gedung tersebut


__ADS_2