
Elvis yang mengetahui jika sang ibu akan pergi ke Bogor dengan ayahnya sempat ingin ikut dan meminta untuk cuti sekolah, tetapi Adira melarang dan menyuruh Elvis agar tetap bersekolah.
Elvis tak bisa mewujudkan keinginannya tersebut, Adira mengatakan jika acara ini hanya dihadiri orang dewasa saja, karena itulah Elvis pun tak lagi protes.
Mereka menyelesaikan sarapan bersama, Adira dan Eza akan lebih dulu mengantar putranya ke sekolah, selepas itu barulah mereka akan berangkat ke Bogor.
"Sudah siap, El?"
"Hmm...." Gumam Elvis cemberut.
Adira mengusap kepala Elvis saat melihat raut masam yang ditimbulkan, ia sebenarnya ingin mengajak Elvis juga, pasti akan lebih seru, tetapi Adira tak ingin Elvis izin sekolah hanya karena acara pernikahan teman orang tua.
"Kita berangkat sekarang?" Ujar Eza sudah mengambil kunci mobil.
"Iya mas, kita be....."
"Permisi, Nona. Ada yang mencari anda di luar" tiba-tiba seorang pelayan menghampiri dan memberitahu majikannya jika ada orang yang sedang mencari Adira.
Adira mengernyit. Siapa? Tak mungkin Arumi atau Qia, mereka tak memberi kabar apapun melalui ponselnya.
"Siapa, bi?"
"Saya tidak tau namanya, tapi beliau laki-laki"
Adira langsung menatap sang suami, Eza juga memandang bingung pada Adira.
"Beliau menunggu di luar, Nona"
"Baik, saya akan keluar sekarang"
"Siapa, Ma?" Seru Elvis penasaran.
"Mama juga tidak tau" sahut Adira, ia pun menyeret kakinya ke pintu utama untuk menemui lelaki yang katanya ingin bertemu Adira.
Baru saja Adira menginjak ubin teras, ia langsung mengerem kedua kaki setelah melihat siapa tamu yang datang.
Deg!
"M-mas Rendy.....!"
Adira begitu tercengang melihat sosok yang sangat ia kenali, pria yang kini datang sebagai tamunya memandang Adira dengan tatapan kekecewaan, tetapi tak bisa menutupi rasa rindu yang teramat besar.
Adira tak sendiri, seorang lelaki dengan paras tampan dan gagah keluar menyusulnya, Rendy tak tau siapa dia, akan tetapi firasatnya tak pernah salah.
"Bisa bicara sebentar?" Rendy dengan wajah datar.
"A-aku....." Ditengah-tengah kebingungan yang melanda Adira, Elvis datang guna melihat siapa orang yang ingin bertemu sang ibu, seketika mata bulat itu bersorak gembira.
"Om Rendy!!!" Teriak bocah itu antusias.
Elvis berlari untuk memeluk pria tersebut, Rendy pun sudah merentangkan tangannya untuk menyambut anak dari wanita yang ia cintai.
"Om Rendy El kangen...." Begitu berada dalam gendongan.
"Om juga sangat rindu pada El"
"Kapan Om pulang dari kerjaan?"
"Tiga hari yang lalu, El gimana kabarnya?"
"Baik, Om. El sehat"
Eza cukup tercegung melihat kedekatan sang putra dengan pria itu, belum jelas siapa dia, tetapi Eza tak bisa berpikir positif.
__ADS_1
"El sudah rapi, mau sekolah?"
"Iya, Om. El mau berangkat sekolah"
"Ya sudah, berangkat gih takut terlambat nanti" Rendy menurunkan Elvis.
"Om mau ngobrol sama Mama, ya?"
Rendy tersenyum simpul sambil mengacak-acak rambut Elvis, "Iya, El"
"Kalau gitu Mama disini aja, gak usah anterin El ke sekolah" imbuh Elvis pada kedua orang tuanya.
Adira menoleh ke arah Eza, pria itu tak berekspresi sama sekali, membuat hawa dingin menyeruak di sekitar.
"Mas..."
"Aku akan mengantarkan Elvis, kau selesaikan urusan mu" ucap Eza memotong.
Sepertinya memang pria yang datang untuk menemui istrinya bukanlah saudara jauh ataupun teman dekat semata, pasti ada sesuatu yang spesial diantara mereka berdua.
Eza pun memilih masuk ke dalam mobil mengatarkan Elvis berangkat ke sekolah.
"Dah Om Rendy....." Melambaikan tangan sebelum ikut masuk.
Rendy pun melakukan hal yang sama, ia menunggu sampai mobil hitam itu pergi dari pekarangan rumah.
Kini hanya tinggal mereka berdua, suasana jadi canggung, entah kenapa Adira tak berani menatap wajah Rendy, ia seperti sudah melakukan kesalahan terhadap pria tersebut.
Akhirnya kedua manusia itu duduk di kursi teras, dan hanya di pisahkan oleh satu meja kecil.
"Kenapa tak memberitahu ku, Ra?" Seru Rendy memulai.
Glek!
Rendy menoleh, menatap wanita cantik dari jarak yang lebih dekat, sangat ingin dia memeluk Adira, tapi apalah daya... Kini wanita itu telah berstatus suami orang, lelaki kaya raya yang mempunyai kuasa jauh dibanding dirinya.
"D-dari mana mas Rendy tau alamat ini?" Cicit Adira mengalihkan topik.
"Dari sahabatmu, Qia" jawab Rendy jujur.
Qia?
"Tiga hari lalu aku pulang ke Malang, aku lebih dulu mampir ke rumah mu sebelum pulang ke rumah ku sendiri. Aku dapat kabar dari tetangga mu kalau kau sudah menikah, aku langsung datang ke toko Qia untuk mendengar lebih jelas ceritanya" tutur Rendy pada intinya.
Adira mendengar dengan seksama, ia memejamkan mata membayangkan bagaimana perasaan Rendy saat itu. Sesak rasanya bila melihat secara langsung.
"Kenapa, Ra? Aku sudah serius dengan mu selama tiga tahun terakhir, menunggu kamu sampai kamu benar-benar siap, aku lakukan..." Lirih Rendy tak ada semangat sama sekali.
"Maaf mas....." Adira bergetar, tenggorokannya tercekat untuk membalas.
"Aku siap menjadi Ayah dari Elvis, bahkan aku menyayanginya tanpa kamu suruh. Apa yang kamu ragukan dariku, Ra?" Masih dengan nada kekecewaan, merasa dikhianati selama ini.
"Aku sangat menyayangi Elvis, mas.... Maaf jika aku tak bisa memilih mas Rendy, jika kita bersatu... Aku tetap akan kehilangan Elvis, kecuali jika aku menikah dengan ayah kandungnya" sekuat hati Adira mengeluarkan suara, diiringi air mata yang lolos bercucuran.
"Kau mencintainya?" Rendy bertanya menahan nyeri di lubuk hati.
Adira menggeleng lemah seraya menjawab, "Tidak...."
Tatapan Rendy langsung berubah, seperti ada secercah harapan yang muncul ketika mendengar pernyataan Adira.
"Kalau begitu, apakah aku masih punya kesempatan?"
"Aku tak bisa menjamin, mungkin.... butuh waktu yang lama..." Ucap Adira, bukannya ingin memberi harapan palsu, tapi Adira teringat lagi ucapan Eza di kantor, dimana suatu saat nanti pria itu akan menceraikannya ketika keadaan sudah kembali normal, dan Adira akan menjadi seorang janda dan akan menikah untuk yang kedua kali.
__ADS_1
"Aku akan menunggu!"
Adira menatap terkejut pada Rendy setelah cukup lama ia menunduk.
"Berapa lama? Satu tahun? Dua tahun? Aku akan tetap menunggu mu Ra, aku pastikan aku bisa!"
"Mas?!" Adira tak bisa menahan kesedihan, begitu besar cinta perwira itu terhadapnya bahkan ketika Adira sudah mengecewakan pria ini.
"Jangan larang aku, Ra. Hanya menunggu saja kan? Aku tak apa, asal kau bisa menjadi milikku selamanya"
"Mas mau menerima seorang janda?" Kata Adira memancing.
"Kau pikir aku siapa? Aku hanya seorang duda tanpa anak yang ditinggal mati istrinya" ujar Rendy merendah.
"Tapi aku tak bisa berjanji mas, lebih baik mas mencari yang lain"
"Tak ada yang lain, Ra. Aku akan tetap menunggu kamu, kecuali...." Ucapan Rendy terhenti ketika ia melihat mobil Eza yang sudah kembali, pria berjas itu keluar sambil memandang datar ke arah mereka.
"Kecuali jika kau mencintainya" lanjut Rendy menatap Eza disana.
Adira mengikuti arah pandangan Rendy, seketika ia diam dan bergelut kebimbangan.
Percuma, dia tak akan mencintai ku.
Adira bergumam dalam hati.
"Kita harus bersiap-siap, aku tunggu sepuluh menit lagi" ucap Eza sebelum masuk ke dalam rumah.
Tak ada yang menyahut, Rendy mengeluarkan sebuah kotak cincin yang di perlihatkannya pada Adira.
"Tadinya aku ingin menyematkan cincin ini di jari manis mu, tapi sepertinya hanya akan menjadi sampah semata. Tapi tak akan aku buang sekarang, karena kau baru saja memberi harapan sebagai pemilik satu-satunya"
Adira kini benar-benar merasa menjadi penjahat yang telah melakukan dosa besar.
Rendy menutup kembali kotak cincin itu, kemudian memasukan ke dalam saku celana seperti sebelumnya.
"Kau mau pergi? Kemana?"
"Bogor"
"Liburan?"
"Tidak, ada acara pernikahan"
Rendy manggut-manggut mengerti.
"Baiklah, semoga perjalanannya lancar. Aku juga akan pulang sekarang"
"Langsung ke Malang?" Adira berimbuh.
"Ya, memang kemana lagi?" Rendy terkekeh, mencairkan suasana yang tadinya menegang.
"Aku pamit, terimakasih sudah meluangkan waktu mu untukku" Rendy berdiri, Adira pun sama halnya.
Rendy mendekat, tanpa meminta izin lebih dulu Rendy memeluk Adira beberapa detik membuat wanita itu terbelalak tetapi tak lama Adira merasakan kesedihan.
Rendy melepaskan pelukan itu, ia berjalan menjauh ke arah gerbang tanpa berkata apa-apa lagi.
"Mas Rendy!" Panggil Adira tiba-tiba, membuat Rendy berhenti dan menoleh ke belakang.
"Hati-hati...." Lirih Adira.
Rendy menyunggingkan senyum, lalu kembali melangkah menjauh sampai tak terlihat lagi batang hidungnya.
__ADS_1