MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 51


__ADS_3

"Kalau memang kau ingin Adira jadi pengasuh Elvis terus, mau sampai kapan memangnya? Sampai Adira tua atau sampai anakmu lulus kuliah supaya tidak merengek lagi ketika Adira pergi?" Sindir Arian supaya Eza berpikir lebih jauh, bukan hanya tentang Elvis saja, tetapi kehidupan Adira pun perlu dipikirkan matang-matang.


"Benar apa kata papah mu, seorang ibu memang akan melakukan apapun demi anaknya, tetapi bukan berarti kita bisa membeli masa depan Adira hanya untuk fokus kepada Elvis, dia juga punya rencana membangun keluarga kecilnya nanti, atau siapa tau Adira sudah memiliki kekasih disana makanya dia tidak bisa meninggalkan Malang begitu saja. Mungkin dia dilema saat ini, di satu sisi ada yang menunggunya di Malang, tetapi disisi lain ia tertahan disini karena Elvis" Tari berucap panjang lebar, menyadarkan Eza kalau Adira juga punya kehidupan sendiri, rencana yang telah ia siapkan mungkin saja hancur berantakan karena kehadiran keluarga Gibson yang membawa Elvis pergi darinya.


Eza mengusap wajahnya kasar hingga ke rambut belakang yang terasa berdenyut nyeri. Semua menyudutkan dirinya, sedangkan ia sendiri juga bingung harus melakukan apa, harus bagaimana, Eza hanya mengutarakan apa yang ada di kepalanya.


"Lantas aku harus bagaimana?! Aku tak bisa mengambil hati Elvis dalam waktu dekat ini, dan sekarang wanita itu marah padaku. Aku semakin frustasi, bisa-bisa aku stress kalau begini terus!" Memejamkan mata menahan sesuatu yang meledak di kepala.


Eza sadar kalau ia memang bodoh dalam urusan wanita, nol dalam bertutur kata dengan betina, Eza lebih suka memaksa dari pada harus merayu dalam jangka waktu lama.


Kini ia harus menanggung semua akibat yang telah ia buat.


"Nikahilah Adira...."


Duarrrr!


Eza langsung mendongak menatap Arian, berjuta-juta tanya dilontarkan hanya dengan sorot mata hitam miliknya, Eza mencoba memperbaiki pendengarannya kali ini, pasti ada yang salah dari ucapan sang Ayah.


"Apa aku salah dengar?" Ujar Eza memastikan.


"Nikahi Adira...." Ulang Arian.


Eza menggeleng tak percaya, bagaimana mungkin Arian dengan mudahnya berkata demikian? Padahal dia tau sepertinya apa hubungan Eza dan Adira, tidak mungkin bisa bersatu dalam ikatan janji suci.


"Apa maksud papah? Aku? Menikahi wanita itu?"


"Tidak! Aku tidak mau....!" Tolaknya mentah-mentah.


"Lantas apa yang akan kau lakukan? Kau mau menyerah? Membiarkan Elvis menderita lagi dengan kepergian Adira?!" Arian tak habis pikir.


"Pasti ada cara lain!" Eza bersikeras.


"Kau bilang Adira tidak mau menetap disini sebagai pengasuh bayaran Elvis, kan? Kalau begitu jadikan dia istrimu, jadikan dia ibu sambung Elvis yang sesungguhnya!" Sambung Arian dengan tegas.


"Apa???"


"Lebih baik dia pergi saja dari pada harus menjadi istriku, kalian pikir siapa dia menolak untuk menjadi pengasuh anak hanya karena merasa dirinya ibu dari Elvis!"


"Za, jangan buat dia lelah menghadapi tingkahmu" menghentikan emosi putranya yang berapi-api, mereka sendiri saja sudah pusing menyikapi sikap Eza, apalagi orang lain yang notabenenya baru dikenal.


"Aku tetap tidak mau!" Eza pun bangkit dari sofa, membuat Tari menahan kepergiannya.

__ADS_1


"Za, diam dulu sebentar. Kita harus mencari jalan keluar bersama-sama"


"Terserah kalian mau melakukan apa lagi, yang pasti aku tidak akan sudi dengan rencana kalian yang satu ini" tanpa bisa dicegah Eza pun keluar dari sana meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa mendesah pasrah.


***


Pagi itu suasana terasa sangat canggung, bukan hanya Adira dan Eza, tetapi juga Tari dan Arian yang ikut merasakan karena kejadian semalam.


Elvis kini diantar oleh supir ke sekolah, tak lupa Adira selalu mendampingi bocah kecil itu.


Eza menatap kepergian mereka dari teras rumah, begitupun dengan orang tuanya.


Selepas Elvis pergi kini giliran Eza yang akan berangkat ke kantor, lelaki itu mengendarai mobilnya sendiri tanpa didampingi oleh seorang supir, namun ada kalanya ia juga membutuhkan pengemudi.


"Kamu berangkat sekarang, Za?" Tanya Tari ketika berbalik.


"Hmm... Aku berangkat sekarang"


"Jangan pulang larut lagi..." Tari memberi wejangan, dan hanya dianggukki oleh Eza.


Tari pun membiarkan Eza berlalu dari sana tanpa mengungkit pembicaraan semalam, biarlah waktu yang menentukan bagaimana baiknya, toh mereka sudah memberikan saran yang terbaik versi mereka sendiri.


***


Di kantor, Eza sama sekali tidak bisa konsentrasi pada tumpukan dokumen di meja kerjanya.


Pikirannya melanglang buana pada satu hal yang bersarang di otak, siapa lagi kalau bukan Adira. Wanita itu masih belum bisa keluar dari isi kepala Eza.


Tiga hari lagi!


Ya, Adira akan pergi ke kota tempat tinggalnya.


Melepas Elvis yang entah bagaimana nasibnya ketika ditinggal lagi oleh Adira, padahal semua sudah jauh lebih baik, tetapi permasalahan tak akan pernah bisa terelakkan.


Bagaimana cara agar ia bisa menahan Adira pergi? Apakah kalau Eza berbicara baik-baik semua masalah akan terselesaikan? Mungkinkah Adira mau tetap bersama Elvis setelah semua yang Eza lakukan padanya???


Tapi bagaimana kalau tidak bisa?!! Perkataan ibunya semalam juga terlintas di benak Eza.


Adira bisa saja memang tengah mempunyai kekasih yang menunggunya di Malang, dan mungkin mereka akan segera menikah setelah ketiadaan sosok Elvis. Dan Elvis akan semakin terpuruk karena Adira beralih fokus pada keluarga kecilnya yang baru.


Kalau sudah begitu Eza tak akan bisa mengambil hati Elvis selamanya, Elvis hanya akan menyalahi Eza sepenuhnya sebagai dalang dari semua yang terjadi.

__ADS_1


"ARRRGHHHHHHHHH......!!!" Teriaknya frustasi.


Sang asisten yang tengah mengerjakan laporan di sofa pun terlonjak kaget, buru-buru ia menutup laptopnya guna melihat apa yang baru saja dialami oleh sang atasan.


"Tuan ada apa? Apa ada masalah?" Ujarnya panik.


Eza tak menyahuti pertanyaan asistennya, ia hanya menggeram kesal sembari memangku kepalanya yang terasa pening.


"Mau saya ambilkan teh, Tuan?"


"Rafa....."


"Ya, Tuan?" Dengan sigap pria tersebut berdiri.


"Kau tau ibu angkat Elvis, bukan?"


"Maksud anda... Nona Adira? Tentu, apa terjadi sesuatu padanya?" Tebak Rafa menduga.


Eza menghela nafas pelan.


"Dia akan pergi tiga hari lagi...." Lirih Eza.


Rafa mengerjap tak mengerti, ia harus menanggapi apa? Kalau ia banyak tanya Rafa khawatir Eza malah akan kesal padanya.


"Menurutmu.... Aku harus bagaimana untuk menahannya?" Dan kebingungan Rafa pun terjawab sudah.


Lelaki muda itu berpikir sejenak, mencari saran terbaik untuk bos nya yang satu ini.


"Aku sempat menawarinya upah tinggi, namun dia menolak..." Eza berceloteh sebab sang asisten tak kunjung berucap.


"Dia menolak? Padahal saya hendak menyusulkan itu juga" Rafa sedikit tak menyangka.


"Kau tau...."


"Orang tua ku menyuruhku menikahinya...." Lanjut Eza menggalau.


"Menikah???" Kali ini Rafa benar-benar dibuat terkejut.


"Hmm...." Bergumam.


"Apa kau......... Juga setuju?"

__ADS_1


__ADS_2