
Ting Tong!
Ting Tong!
"Raaaa....... Adiraaaaaaa......!"
"Buka gerbangnya Raaaaa....."
Ting Tong!
"Raaaa...... Ini aku....."
"Keluar dulu Raaaaaa......"
Suara teriakan lelaki yang terus-menerus tak berhenti menarik perhatian para warga di sekitarnya.
Salah seorang tetangga keluar dan menghampiri pria berseragam polisi tersebut.
"Cari siapa mas?" Ujar wanita setengah baya itu.
"Maaf Bu saya sedang mencari Adira, ibu tau kemana orangnya?" Balasnya bertanya, karena pemilik rumah tak kunjung keluar.
"Lho sudah dua bulan mbak Adira tidak pulang, memangnya mas tidak tahu?"
"Apa? Tidak pulang? Dua bulan?!!" Berbalik terkejut.
"Iya, mas. Coba telpon saja mbak Adira nya"
"Nomornya tidak aktif, emm... Boleh saya tanya kemana Adira sekarang? Dia pergi kemana sampai dua bulan tidak pulang?" Ucapnya penasaran, tak ada informasi apapun dari Adira padanya, ia pikir semua baik-baik saja, perasaannya jadi tidak enak begini.
"Saya dengar mbak Adira ke Jakarta, dia ikut suaminya disana"
DUAR!!!
"S-SUAMI???" Bagai tersambar petir di siang bolong, pernyataan wanita di depannya itu sontak mengejutkan pria berseragam tersebut.
Pandangannya langsung kosong seperti benar-benar habis tersambar, hanya kilauan putih yang perlahan memudar bak kabut di pagi hari.
"Sepertinya mas belum tau kalau mbak Adira sudah menikah, boleh saya tau mas ini siapanya mbak Adira?" Ibu-ibu tersebut mengajukan pertanyaan.
"S-saya.... Saya temannya"
"Ohh.... Maaf ya mas saya tidak bisa bantu banyak, coba nanti telpon lagi saja mbak Adira siapa tau diangkat, kalau begitu saya permisi dulu"
"I-iya, terimakasih Bu" balas si pria masih dengan seribu tanda tanya di kepalanya, menatap bangunan yang ditinggal pergi oleh si pemilik, entah sampai kapan akan kembali.
***
"Kenapa diam terus dari tadi?" Tanya Eza melihat Adira berbaring lesu di atas sofa sambil menonton acara televisi.
"Tidak, hanya lelah" jawab Adira.
Eza menyeringai, ia sangat ingin tertawa namun Eza tahan.
__ADS_1
Eza duduk di sofa yang sama, membiarkan Adira tetap berbaring dengan kaki yang menghadap ke arahnya.
"Segitu saja sudah lelah, bagaimana nanti" cibirnya mengejek sang istri.
Adira hanya melirik sekilas, ia terlalu capek untuk meladeni.
"Untung saja Elvis diberi tugas sekolah dadakan" lanjut Eza.
"Memangnya kenapa?" Sahut Adira heran.
"Jadi dia tidak akan mengganggu mu"
"Aku tidak masalah di ganggu oleh Elvis, tadi pun aku ingin menemaninya belajar tapi karena anak itu ingin belajar sendiri jadi aku tidak bisa memaksa"
Eza menarik nafas sampai bahunya terangkat, seharusnya Adira peka kalau perempuan itu jadi bisa fokus padanya.
Eza merangkak lalu tengkurap di atas tubuh Adira, menjadikan perut Adira sebagai bantalan kepalanya.
Seakan sudah terbiasa, Adira tak protes dengan posisi sang suami, justru tangan Adira refleks mengelus rambut hitam milik Eza.
"Mas tidak bekerja?"
"Aku kan baru sembuh, aku tidak kuat kalau pergi ke kantor"
"Maksudku... Bekerja di rumah"
"Nanti saja, aku sedang malas" ungkapnya.
Adira tak bertanya lagi, ia melanjutkan menonton televisi yang menyiarkan berita selebriti.
Adira dan Eza menyaksikan dengan seksama, berita yang baru saja ditayangkan sontak menyita perhatian pria berkepala tiga itu.
"Ck, seperti tidak ada negara lain saja! Kenapa orang-orang kebanyakan berbulan madu disana? Ketika aku ke Paris rasanya biasa-biasa saja" Eza berkomentar.
"Tapi menurutku sangat wajar orang-orang yang sudah menikah memilih berbulan madu kesana, kota Paris disebut juga kota cinta, banyak sekali bangunan bersejarah yang menonjolkan sisi keromantisan tersendiri, meski aku belum pernah menjajakan kaki di sana tapi sedikit banyak aku tau alasannya" Adira panjang lebar.
Eza termenung mendengar penuturan Adira, entah karena hatinya sudah kebal, Eza tak bisa merasakan sisi hangat dari perjalanan-perjalanan yang pernah ia lalui. Semua terasa hampa, tak ada tempat yang mau ia kunjungi, dan itupun Eza lakukan untuk melakukan bisnis semata.
"Jadi kau punya keinginan untuk berbulan madu di Paris?" Seru Eza melempar pertanyaan dengan pernyataan.
Ya, tapi tentu bukan dengan pernikahan kita. Dan itu tidak mungkin terjadi, ujar Adira dalam hati.
"Aku tidak terlalu memikirkan hal itu, apalagi sekarang ada Elvis, aku hanya ingin fokus membesarkannya" Adira berdusta, mengubur dalam-dalam impian yang pernah ia harapkan.
Eza mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah sang istri.
"Kenapa? Elvis bisa dititipkan pada orang tuaku. Lagipula dia sudah besar" balas Eza.
Adira membalas tatapan sang suami dengan ekspresi datar, "Memang apa yang akan kita hasilkan dari sana?" Pancingnya.
"Tentu saja keinginan Papah selama ini"
"Anak?" Adira memperjelas.
__ADS_1
"Hemm...."
"Mas mau punya anak dariku?"
"Kenapa tidak?" Balik bertanya.
Adira merasa tak percaya, apa mungkin Eza berubah pikiran untuk mengakhiri pernikahan mereka nanti? Dan menjalani rumah tangga untuk selamanya? Adira meneguk Saliva kuat-kuat, jantungnya berdebar tak karuan.
"M-mas yakin.... P-pernikahan kita akan berjalan seterusnya?"
"M-maksud.... Aku tak ingin anak kita menjadi korban kalau-kalau suatu saat kita mempunyai masalah rumah tangga"
"Mas.... Akan tetap bertahan dengan pernikahan ini?" Takut-takut Adira berbicara.
Hening...
Hening...
Hening...
Apa yang Adira tanyakan seperti sesuatu yang sulit untuk dipecahkan, bak rumus matematika yang harus dihitung tanpa boleh melihat mesin angka.
Bukannya menjawab, Eza malah bangkit seolah menghindari pertanyaan tersebut.
"Aku lupa ada pekerjaan kantor yang harus diserahkan malam ini, kita lanjut lagi mengobrol nanti, sekarang aku mau ke ruang kerja ku"
Adira tersenyum kecut, ia seperti diterbangkan ke atas awan lalu dihempaskan ke jurang yang paling dalam. Apa yang dirinya harapkan dari Eza? Tentu saja pria itu tak akan mengubah rencananya.
"Tentu, silahkan mas" Adira membiarkan Eza keluar dari kamar.
***
"Permisi.... Boleh saya bertemu dengan pemilik toko ini?"
Seorang pegawai dengan rambut di kuncir itu menatap pria di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala, menelisik seorang polisi yang tiba-tiba datang dan meminta untuk dipertemukan dengan bos nya.
"Maaf jika saya lancang, pak polisi ini ada urusan apa ya dengan bos saya?"
"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan, tolong beritahu dia jika saya ingin bertemu" pintanya memohon.
Masih muda, tampan, polisi, apa jangan-jangan pacar mbak Qia?! Tidak mungkin kan kalau mbak Qia habis melakukan tindak kejahatan.
Tak mau menebak-nebak, perempuan tersebut pun lantas mengangguk mengiyakan.
"Tunggu sebentar, biar saya panggilkan dulu"
"Baik, terimakasih banyak"
Lima menit kemudian Qia datang setelah mendengar dari salah satu pegawainya jika ada seorang pria berseragam polisi ingin menemuinya.
Dan benar saja pria berbadan tegak itu berdiri membelakangi Qia, sontak ia berdehem.
"Ekhem...! Permisi, ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
Pria itu pun lantas berbalik, dan seketika membuat Qia terkejut bukan main.
"Mas Rendy?!!"