MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 46


__ADS_3

Orang kayak memang berbeda, tidak perlu melihat harga kalau memang suka dan cocok langsung ambil dan gesek saja.


Barang yang dibeli juga diluar nalar, bayangkan saja satu dress yang dibelikan untuk Adira harganya mencapai 20 juta. Kalau dihitung bisa beli berapa gram emas dengan uang sebanyak itu.


Belum lagi pakaian yang Tari belikan ada sepuluh macam, belum termasuk dalaman, makeup, dan lainnya. Wanita tua itu sangat aktif dan lihai dalam memilih-milih barang, sedangkan Adira lebih banyak diam karena masih sungkan jika harus memilih barang ia suka.


"Totalnya jadi 170.000.000 rupiah, Nyonya" sebut kasir setelah menghitung keseluruhan barang belanjaan.


Adira melongo disana, ratusan juta hanya untuk pakaian saja?!! Astaga, kenapa tidak beli di toko yang satuannya seratus ribu saja? Itupun masih kemahalan bagi Adira.


Tari mengeluarkan black card dan mengasongkannya pada kasir.


"Adira, kamu kenapa?" Seru Tari kala melihat Adira yang mematung disampingnya.


Lamunan Adira buyar saat itu juga, buru-buru ia menggelengkan kepala.


"Tidak, Nyonya. Saya tidak kenapa-napa" sangkal Adira, mencoba bersikap biasa, tak mau mempermalukan Tari di tempat para kaum sosialita ini.


"Pembayarannya sudah selesai, ini barangnya Nyonya. Terimakasih sudah berbelanja di toko kami, sampai jumpa di lain waktu" ujar staff tersebut dengan ramah sambil menangkupkan kedua tangan.


"Sama-sama, terimakasih juga" dan mereka pun keluar dari sana.


Belum selesai sampai disitu, mereka memasuki store lain, seperti tempat khusus pakaian dalam, sepatu, dan yang terakhir tempat makeup yang jadi sasaran selanjutnya.


"Nah Adira, merk apa yang biasanya kamu pakai?" Imbuh Tari begitu masuk ke dalam store.


Adira nampak celingak-celinguk melihat koleksi makeup yang berjejer disana, ada merk dalam negeri hingga luar negeri pun lengkap tersedia.


Saat Adira melihat harga yang tercantum ia langsung terperangah, dikira mahal ternyata sangat mahal!


"Emm.... Saya biasanya pesan online, sepertinya tidak ada di store ini" ungkap Adira, mending ia tidak usah beli saja, Adira tidak bisa membayangkan berapa total harga kalau membeli satu set makeup lengkap.


"Merk apa itu? Siapa tau ada yang agak mirip dengan merk lain disini"


"Saya biasanya pakai Mr.Gie" jawab Adira.


"Kita tanya dulu ke staffnya ya, barangkali memang ada"


Ternyata orang kaya juga ada polosnya, mereka tidak tau kalau merk tersebut bukan dari kalangan brand ternama, mana mungkin disediakan di store mewah ini. Tapi Tari tetap bertanya pada salah satu SPG disana.


"Permisi mbak, saya mau cari brand Mr.Gie. apa disini ada?"


"Mr. Gie?" Tiba-tiba raut wajah perempuan itu langsung menatap rendah seolah mengejek Tari dan wanita dibelakangnya karena telah mencari produk pasaran tersebut.


"Maaf Nyonya, disini tidak ada" ujarnya singkat, seketika ia malas meladeni pelanggan yang satu ini.


Mungkin itulah salah satu ciri khas pelayanan yang ada di negeri ini, mereka hanya menyanjung orang-orang yang hanya nampak dari luarnya saja, padahal seharusnya mereka bekerja dengan hati dan tidak pilah-pilih dalam menarik konsumen.

__ADS_1


"Oh tidak ada ya, ya sudah terima kasih infonya" Tari serta Adira akhirnya mencoba memilih produk dari brand lain yang tidak kalah bagus, atau lebih tepatnya jauh lebih bagus dari produk yang dicari.


"Bagaimana dengan yang ini Adira, ini bagus loh. Saya juga punya merk ini"


Adira pun mencoba mereview dari mulai lipstik sampai eyeshadow yang tersedia hingga berbagai warna.


"Langsung coba saja di bibir kamu" titah Tari.


"Hah? Memangnya boleh, Nyonya?"


"Tentu, sini saya bantu"


Setelah lipstik itu menempel di bibir Adira, perempuan tersebut langsung dibuat jatuh cinta, warnanya sangat cocok dengan tipe dan warna kulit Adira. Tidak terasa kering pula saat diaplikasikan, memang ada harga ada kualitas.


"Bagaimana? Kamu suka?"


Adira pun mengangguk mengiyakan, ia tidak bisa bohong untuk merk satu ini.


"Benarkah? Kalau begitu beli yang lainnya juga"


Hampir tiga puluh menit perempuan berbeda generasi itu berada di dalam sana, sampai akhirnya urusan makeup telah selesai, mereka lantas keluar setelah melakukan payment.


"Ada yang mau kamu beli lagi, Ra?"


"Saya rasa sudah cukup, Nyonya. Saya ingin menghampiri Elvis saja" ungkapnya.


"Benar sudah tidak ada barang yang mau dibeli lagi? Kita masih punya waktu, kenapa buru-buru?"


"Benar, Nyonya. Ini sudah lebih dari cukup, saya rasa tidak perlu membeli semua keperluan lagipula tinggal enam hari lagi saya disini" cicitnya yang mana malah menciptakan suasana sendu kala itu.


Tari dalam sekejap langsung terdiam, wajahnya murung seakan belum siap jika Adira harus pulang ke kampung halamannya. Ia sendiri sudah mulai akrab dan dekat dengan Adira, layaknya ibu dan anak. Tapi seketika ia harus disadarkan oleh ucapan Adira.


"Kamu benar, tapi tidak ada salahnya kan kalau kamu bersenang-senang terlebih dahulu sebelum pulang ke Malang?"


Adira mengangguk pelan, tapi kemudian dia berkata.


"Betul, tapi saya tidak membutuhkan barang-barang yang lain. Saya hanya butuh Elvis sekarang" lirihnya menampilkan senyum pahit.


***


"El......!!!"


Mendengar namanya dipanggil, anak lelaki yang tengah asyik melempar basket itu langsung berlari ke arah sang ibu.


"Mamaaaa....!!!"


Brukkk

__ADS_1


Elvis langsung memeluk Adira dan mengajaknya bermain basket bersama.


"Ayo ma, kita main itu"


"Boleh..." Adira setuju dan ikut bermain game yang baru saja Elvis lakukan.


Tari memilih duduk untuk mengistirahatkan kakinya yang terasa lumayan pegal, tak lupa membuat status WhatsApp layaknya ibu-ibu gaul.


"Kita main yang lain yu, ma"


"Ayo!!"


Dengan penuh semangat Elvis mengajak Adira mencoba satu-persatu mainan yang ada disana, meski sudah mencoba sebelumnya tetapi Elvis ingin melakukannya lagi dengan Adira.


Kegiatan yang berlangsung ini sangat seru sampai ketika Elvis hendak menggosok kartu permainan saldo di dalamnya habis dan harus diisi ulang.


"Yahhh habis, El mau isi lagi deh" tetapi Adira lebih dulu menahannya.


"El kita udah dulu mainnya, ya. Gimana kalau kita lanjut beli es krim?"


"Es krim?? Ayo Ma ayo kita beli es krim.....!" Karena keasyikan bermain Elvis sampai lupa kalau ia juga berniat membeli cemilan kesukaannya. Ketika Adira mengajaknya Elvis pun langsung menarik lengan perempuan tersebut.


Melihat Adira dan Elvis yang berjalan ke arahnya, Tari langsung memasukkan ponsel ke dalam tas.


"Sudah selesai?"


"Udah, Oma! Sekarang El mau beli es krim dulu"


"Ya sudah kita kesana sekarang ya" mereka lantas beranjak menuju toko es krim kesukaan Elvis.


Saat sudah sampai, toko es krim itu dipenuhi oleh para pembeli yang mengantri, memang sudah menjadi hal lumrah kalau mau beli di tempat yang satu ini.


"Ayo kita langsung duduk saja" ujar Tari.


"Nyonya dan Elvis duduk saja duluan, biar saya yang mengantri"


"Loh tidak usah, Ra. Kamu juga ikut duduk"


"Tapi...."


"Sudah, ayo..." Tari memaksa Adira untuk mengikuti langkahnya, mau tidak mau Adira pun bergabung di salah satu meja yang kosong.


Jika orang lain harus susah payah berbaris demi memesan satu es krim saja, mereka justru didatangi oleh salah satu pegawai toko.


"Selamat siang, bisa saya tulis pesanannya?" Ujar pelayan lelaki dengan sopan.


"Loh?? Memang metode pemesannya sudah berbeda ya?" Gumam Adira dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2