
Tiga hari dilewatkan Adira dan Eza di Malang, mereka menghabiskan waktu mengelilingi kota dengan dipandu oleh Adira, dan sisanya mereka habiskan di dalam kamar yang kali ini dipimpin oleh Eza.
Besok pagi mereka akan ke bandara untuk pulang ke Jakarta, tetapi sampai saat ini Adira belum juga bertemu dengan Rendy, ia bingung bagaimana meminta izin pada sang suami.
Tetapi kalau tidak mencobanya Adira akan lebih menyesal, karena telah membuang-buang waktu Rendy yang berharga.
Dan malam ini, setelah selesai makan malam Adira bersiap meminta izin pada Eza.
"Mas, ada yang ingin aku katakan" Adira berseru.
"Katakan saja, sayang" titahnya sebelum meminum air mineral.
"Aku ingin meminta izin untuk bertemu mas Rendy besok"
Byurrrr!!!
Eza seketika menyemburkan air yang tengah ia teguk, untung saja bukan menyemprot ke arah Adira, sontak Eza melotot mendengar permintaan sang istri.
"Apa??? Untuk apa?!!" Merenggut kesal.
"Untuk menyelesaikan urusan kami, mas tau kan aku sempat memberinya harapan. Maka dari itu aku ingin bertemu besok untuk mengakhiri semuanya" ujar Adira dengan jelas.
"Memangnya tidak bisa apa lewat telpon saja?!" Merajuk tak terima.
"Hufttt.... Tidak bisa mas ku sayang, mungkin kali ini akan jadi pertemuan terakhir kami, jadi harus dibicarakan secara empat mata" memelas agar Eza mengerti.
Eza melipat tangannya di atas dada, menimang-nimang permintaan Adira, memang berat dan sebenarnya Eza tidak rela, tetapi Adira mengatakan jika ini yang terakhir. Eza pun dengan terpaksa mesti mengizinkan, karena kalau tidak Eza khawatir pria itu akan menjadi masa lalu Adira yang belum usai.
"Baiklah, aku izinkan"
"Yang benar? Terimakasih mas, besok sebelum kita naik pesawat aku pastikan semuanya sudah selesai"
"Kalian bertemu di bandara?"
"Sepertinya begitu, karena aku takut nantinya kita bisa ketinggalan jadwal penerbangan"
"Ya, terserah kau saja" sambil bangkit dan membawa piring bekas makan mereka.
Eza berdiri di depan wastafel sambil memegang busa cuci piring.
"Mas mau apa?" Bingung melihat Eza.
"Cuci piring" jawabnya singkat, padat, dan jelas.
"Biar aku saja, mas"
"Sudah kau diam saja, tadi kan kau yang memasak, sekarang giliran ku yang mencuci piring"
"Memang mas bisa melakukannya?" Meremehkan kemampuan sang suami.
"Hey... Hey... Hey... Jangan salah, dulu aku bahkan pernah mencuci baju saat berkemah di pantai gara-gara bajuku robek saat ditarik monyet liar, jadi beberapa hari aku cuma memakai satu baju yang sama"
"Hahaha..... Mas sudah berpetualang?" Adira tertarik dengan pengalaman suaminya dulu.
"Ya, namanya juga anak laki-laki. Tapi semua itu berhenti ketika aku mulai disuruh belajar tentang perusahaan papah" ujar Eza.
__ADS_1
"Tapi kan mas bisa melakukan kali-kali" tutur Adira berpikir.
"Benar, tapi saat aku ingin melakukannya lagi justru teman-teman ku yang tidak bisa. Mereka semua tinggal di negara yang berbeda karena tuntutan pendidikan dan pekerjaan"
"Hahhh..... Memang semua masa ada orangnya, dan semua orang ada masanya. Tidak akan selalu berjalan terus-menerus" Adira menghela.
"Tapi setelah dipikir-pikir mungkin sekarang aku bisa berpetualang lagi, tapi dengan kau dan juga Elvis"
"Kemana?" Adira antusias.
"Ke segala tempat yang kita inginkan, tapi tidak ke hutan juga sih"
"Kita bisa ke puncak kalau kalian mau"
"Berlibur?"
"Iya, kita belum pernah kan berlibur bertiga?" Eza membenarkan.
"Aku mau! Kapan mas mau mengajak kami?" Adira bersemangat, tak sabar ingin segera pergi kesana.
"Mungkin saat Elvis libur panjang" pikir Eza.
"Baiklah, aku akan mempersiapkan semuanya"
***
"Hallo, mas. Sudah dimana?" Adira menelpon.
"Masih di jalan, lima menit lagi aku sampai" jawab orang di seberang sana.
"Baik, aku tunggu"
"Bagaimana? Dia akan kesini?"
"Iya, mas. Katanya lima menit lagi"
"Ck! Dasar lambat" umpat Eza sebal.
Dan hampir lima menit kemudian Rendy benar-benar datang, pria itu berlari tergesa-gesa menemui Adira.
"Adiraaaaa.....!" Teriak Rendy dari jauh, melambaikan tangan dengan senyum ceria.
"Cih!" Eza berdecih melihat itu.
Rendy tersenyum simpul pada Eza, sedangkan pada Adira ia tersenyum lebar sungguh seperti bertemu dengan orang yang ia cintai.
"Aku tunggu disana, jangan terlalu lama" Eza sebelum berlalu dari hadapan istri beserta teman lelakinya.
Adira mengangguk, ia juga lega karena dengan begitu Adira tak akan gugup berbicara dengan Rendy.
"Ra, ternyata kamu sudah dari kemarin ada di Malang. Kenapa baru memberitahu saat kamu hendak pulang? Padahal kita bisa bertemu kalau kamu memberitahu ku kemarin"
"Maaf, mas. Aku juga bingung bagaimana memberitahu mas Rendy"
"Kenapa? Suamimu melarang kau bertemu dengan ku?" Tebaknya, namun dijawab gelengan oleh Adira.
__ADS_1
"Tidak, mas. Kemarin aku hanya belum siap" ungkap Adira.
"Mas Rendy, ada yang ingin aku bicarakan penting dengan mas" lanjutnya.
"Apa? Tentang hubungan kita?" Kali ini Adira mengangguk.
"Apa itu?" Antusias, karena Rendy pikir akan ada kabar baik mengenai hubungan mereka ke depannya.
"Mas Rendy, sebelumnya aku sungguh minta maaf yang sebesar-besarnya...."
"Lagi-lagi, aku melukai hati mas Rendy untuk yang kesekian kali...." Cicit Adira tak tega, meski kebaikan Rendy selama tiga tahun ini tak bisa dengan mudah digantikan oleh kata maaf darinya.
"Ada apa, Ra? Kenapa kamu terlihat sedih begini? Kamu mau bicara apa sebenarnya?" Rendy tak mengerti.
Adira menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk menatap wajah pria yang sangat mencintainya tersebut.
"Mas Rendy, aku tak bisa meneruskan kesempatan kedua yang aku beri pada mas..."
"Aku... Aku tak bisa menjadi milik mas Rendy"
"Kini, bahkan selamanya...." Ungkap Adira penuh kejujuran.
Deg!
Senyum Rendy perlahan luntur setelah mendengar ucapan Adira, seketika ketakutan menyertai Rendy.
"A-apa maksudnya, Ra? Kesempatan itu... Kamu..."
"Mas sekali lagi aku minta maaf, kemarin aku masih bimbang dengan perasaan ku... Hatiku juga dipenuhi rasa tak enak pada mas Rendy"
"Tapi kini aku mulai yakin... Jika...."
"Sepertinya mencintai suamiku" Adira menunduk, sekelebat wajah Eza menghiasi isi kepalanya.
Rendy mematung, kali ini lebih sakit dibanding mendengar kabar kalau Adira telah menikah. Harapan yang kemarin mulai tumbuh, harus gugur saat mulut Adira mengucapkan kata-kata Kramat itu.
"Mas Rendy......" Berseru ketika tak ada tanggapan apapun dari lawan bicaranya.
Sekuat hati Rendy menampilkan senyum yang dipaksa, menatap Adira dengan tegar.
"K-kau mencintainya? Y-ya.... Baiklah" Rendy manggut-manggut seperti orang bodoh.
"Aku... Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi jika kau sendiri yang sudah berbicara"
Mata Adira berlinang, bagaimana pun Rendy selalu berusaha ada untuknya dan Elvis.
"Semoga... Pernikahan kalian lancar, aku mendoakan yang terbaik untukmu"
Rendy sesekali mengembuskan nafas panjang, sesak di dadanya membuat ia kesulitan menimba oksigen.
"Pesawatnya sebentar lagi take off, segeralah masuk. Tak ada yang mau kau bicarakan lagi kan?"
Adira menggeleng tanpa mampu membuka suara.
"Baik, k-kalau begitu aku pamit. H... hati-hati, jaga diri, salam pada Elvis juga"
__ADS_1
"Aku.... Aku pulang" Rendy tersenyum seolah dirinya baik-baik saja, ia pun lantas berbalik dan berjalan menjauh dari Adira.
Melangkah sambil mengubur cintanya sedalam lautan. Untuk yang kedua kali, ia kehilangan cinta yang sesungguhnya.