MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 60


__ADS_3

Hari yang menjadi saksi bisu bersatunya dua insan yang berbeda itu pun akhirnya tiba.


Di hadapan penghulu dan para keluarga terdekat, Adira dan Eza duduk saling bersisian, sebentar lagi mereka akan melaksanakan ijab kabul yang akan menjadikan keduanya sepasang suami dan istri yang sah secara agama maupun negara.


Adira begitu cantik dengan kebaya yang melekat ditubuh rampingnya, riasan yang dibuat senatural mungkin semakin menambah kecantikan paripurna nya.


Sedangkan Eza memakai tuksedo berwarna hitam pekat, tak ada yang berbeda dari penampilannya, yang mencuri perhatian justru sang putra yang juga memakai setelan yang dibuat menyerupai dengan Ayahnya.


Bocah kecil itu terlihat sangat menggemaskan dan menyita hampir seluruh penjuru mata memandang, siapa yang tidak dibuat penasaran dengan putra pewaris yang selama ini dikabarkan menghilang.


Elvis duduk diantara Tari dan juga Arumi, ia dengan sabar menunggu acara pelangsungan akad nikah kedua orang tuanya.


Senyum tak pernah luput dari bibir mungil itu, sejak awal ia sangat senang mendengar kabar jika ibunya akan menikah dengan sang Ayah, Adira bilang dia tak akan pergi lagi setelah menikah, mereka akan hidup berkeluarga sampai seterusnya, dan itu membuat Elvis amat bahagia.


"Mempelai pria sudah siap?"


"Siap, pak penghulu!" Balas Eza dengan keyakinan penuh.


"Baik, kita langsung mulai saja"


Penghulu mengulurkan tangannya pada sang mempelai pria, Eza pun menyambutnya tanpa ragu.


Dengan sekali tarikan nafas Eza berhasil mengucapkan ijab kabul, dan otomatis telah merubah statusnya menjadi seorang suami dari Adira.


Seharusnya Adira lega Eza mengucapkannya dengan lancar, namun detik itu justru menjadi awal mulanya kehidupan Adira yang baru, kehidupan yang entah seperti apa kedepannya, hidup dengan laki-laki yang tidak Adira cintai, apakah bisa membuat hidupnya aman, damai dan tentram?


Semua mengucap syukur dan disusul oleh doa.


"Silahkan mempelai wanita untuk mencium tangan suaminya" pak penghulu mempersilahkan.


Kini keduanya saling berhadapan, sesaat Adira menatap wajah suaminya, Eza lebih dulu mengangkat tangan kanannya dan disambut oleh Adira, bibir lembut itu menempel tepat di punggung tangan Eza, membuat desiran aneh muncul sampai ke atas kepala.


Kameramen segera memotret momen tersebut.

__ADS_1


Adira buru-buru melepasnya, ia kembali duduk dengan tegak, tak kuasa berlama-lama menempelkan kulit tangannya dengan kulit tangan pria yang kini sudah resmi sebagai suaminya.


Acara pun dilanjut dengan salam-salaman, para tamu dipersilahkan untuk memberi ucapan selamat kepada raja dan ratu mereka hari ini.


"Adira, Selamatttttttt........" Qia yang menghampiri paling awal, dia memeluk sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu, tiba-tiba saja membawa kabar jika dia akan menikah.


"Terimakasih, Qia. Maaf ya sudah membuat kamu datang jauh-jauh kesini"


"Tidak perlu minta maaf, meski awalnya aku terkejut, tapi aku ikut senang dengan kabar ini. Akhirnya kamu jadi istri orang juga, sekaligus menjadi ibu sambung Elvis" ujar Qia bungah.


"Iya, doakan supaya kami bahagia selalu"


"Tentu saja! Walaupun sekarang kamu sudah tidak bekerja di toko ku, tapi kesedihan itu tidak berlangsung lama setelah melihat kamu berdiri disini dengan gaun putih yang cantik. Sekali lagi selamat ya, Ra....."


"Terimakasih, Qia. Sukses selalu juga untuk kamu" Adira kembali memeluk sahabatnya sembari melepas kerinduan.


Tak lupa Qia bersalaman dengan Eza, tak banyak bicara hanya mengucapkan selamat padanya.


Selanjutnya, Arumi. Wanita yang sekaligus menjadi wali Adira itu menghampiri Adira dengan senyum hangat yang selalu melekat di kedua sudut bibirnya.


"Tante, Adira mau mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada Tante dan keluarga. Tante sudah banyak memberi Adira bantuan dari yang kecil sampai yang besar sekalipun. Terimakasih sudah selalu ada di sisi Adira, Adira minta maaf karena Adira banyak salah pada Tante" Adira terisak di pelukan Arumi, mengingat semua jasa wanita ini padanya semenjak orang tua Adira meninggal dunia.


"Kamu sudah Tante anggap sebagai anak Tante sendiri, Tante merasa senang direpotkan oleh kamu, teruslah jadi anak Tante, bahkan setelah kamu menikah sekalipun"


Adira mengangguk disela-sela tangisannya.


Arumi mengurai pelukan mereka lalu menghapus air mata Adira yang berjatuhan dengan hati-hati, tak ingin riasan di wajah cantik putrinya luntur.


"Sudah nangis-nangisnya, sekarang adalah momen bahagiamu, bersenang-senanglah...."


Adira mengukir senyum manis, membuat kedua wanita itu terkekeh bersamaan.


Berbeda dengan Eza yang malah mendapat jeweran dari kakak sepupunya, Elen datang dan langsung menarik telinga pengantin laki-laki.

__ADS_1


"Dasar pembohong ya! Sudah ku duga dari waktu itu kalau Adira adalah calon istrimu...!"


"Aaaaaa lepaskan.... Lepaskan telinga ku!! Aaaaa sakit...." Eza mengaduh meminta Elen menghentikan aksinya.


Elen pun melepaskan tangannya dari telinga adik sepupunya ini, namun masih memasang wajah kesal dengan bibir mencebik ke depan.


"Aku tidak berbohong! Saat itu memang kami tidak ada hubungan apa-apa" bantah Eza mengusap-usap telinganya yang memerah.


"Halahhh kau tidak bisa membohongi ku lagi!" Balas Elen tak percaya, ia lebih memilih beralih pada Adira dan mengucapkan selamat.


Acara di lanjut dengan makan-makan di area taman belakang, para chef sudah menyediakan beragam hidangan yang menggugah selera, semuanya tersusun dan tersaji dengan rapi.


Elvis sedari tadi sibuk dikelilingi oleh para tamu, tak jarang para tamu wanita mencubit pipinya gemas, Elvis hanya membalas dengan senyum paksaan, ia sudah lelah ditanya-tanya dengan pertanyaan yang sama.


"Ih gemas sekali ya...."


"Benar-benar duplikat Tuan Eza, sangat mirip!"


"Tidak diragukan lagi, dia benar-benar pewaris keluarga Gibson"


Elvis berusaha kabur dan mencari keberadaan orang tuanya, banyaknya orang membuat bocah kecil itu pusing sendiri.


Sedangkan Adira dan Eza masih terus menyambut para tamu undangan mereka yang sebagian besar dari kalangan pengusaha.


Adira lebih banyak diam, ia sebenarnya kurang percaya diri jika harus berinteraksi dengan para petinggi perusahaan, meski semuanya baik namun Adira tetap merasa insecure.


"Berdiri di sampingku, Adira. Jangan bersembunyi dibelakang punggung ku, kita pengantin sekarang, jadi berdampingan lah" titah Eza yang seakan sadar dengan gerak-gerik istrinya.


Adira mau tak mau maju untuk mensejajarkan langkahnya dengan Eza, berusaha untuk terlihat seperti pengantin yang berbahagia, meski sangat sulit untuk sekedar bersandiwara.


Adira merasa jari-jemarinya bergerak ditambah rasa hangat disekitar telapak tangan, ketika Adira menunduk tangannya digenggam oleh seseorang, membuat Adira mendongak menatap si pemilik tangan besar itu.


"Jangan buat yang lain curiga" lirih Eza tanpa memandang lawan bicaranya.

__ADS_1


Adira mengerti, tetapi jantungnya tidak bisa dikondisikan, ia selalu berdegup manakala menyentuh kulit Eza, mungkin karena Adira tak pernah dekat dengan lelaki, jadi ia tak terbiasa dengan yang namanya sentuhan.


__ADS_2