
Masih di dalam kamar.
Seorang pria tengah asyik menyesap kedua bongkahan kembar yang di genggam dengan kedua tangannya, sesekali menggigit pucuk merah muda yang membuat si empu menjerit kecil akibat ulahnya.
Namun si pria seolah menulikan pendengaran, dia sibuk melepas dahaga melalui dua benda yang sangat pas di kedua telapak tangan.
Adira menggigit jari manakala ia tak kuasa untuk tidak menddesah merasakan apa yang sedang suaminya lakukan.
Eza seakan tak bisa dihalangi oleh apapun, jiwa kelelakiannya sudah membuncah dan tak bisa ditunda untuk waktu yang lama, sedangkan mangsanya sudah ada di depan mata.
Eza berpindah pada sisi satunya, memainkan gundukan Adira sesuka hati, membelai dengan lidahnya yang lihai dan berpengalaman.
"Emmhh.... M-mas...!"
Rasa geli menyerbu wanita berusia tiga puluh tahun itu, namun ia juga menikmati sensasi tersebut sampai-sampai tak bisa menolak sentuhan sang suami.
Tok Tok Tok!
"MAMA BUKA PINTUNYA....!!" Suara Elvis terdengar jelas ketika menggedor pintu kamar mereka.
Adira jelas terkejut, tetapi berbeda dengan Eza yang masih asyik dengan dunianya sendiri, ia mengabaikan teriakan putranya tersebut.
"M-mas sudah dulu, ada Elvis...." Titah Adira.
"MAMA BUKAAA!! EL MAU MASUK..." Elvis tak berhenti berteriak sambil memanggil manggil sang ibu, dia yakin Adira pasti sudah bangun, tak mungkin terlalu lama tidur sampai menjelang siang.
"Mas buka pintunya, ada Elvis...." Desak Adira.
Eza pun menghentikan aktivitas tersebut, lalu mencium bibir Adira sekilas barulah Eza bangkit dari ranjang.
Eza yang masih memakai pakaian lengkap langsung membuka sedikit pintu kamar, benar saja Elvis tengah berdiri sambil menekuk wajahnya.
"Mana Mama?!" Ketusnya berkacak pinggang.
"Ada, kenapa?" Yang malah mengajukan pertanyaan.
"El mau liat, buka pintunya!"
Eza menoleh ke belakang, memastikan Adira sudah memakai pakaian.
Seusai memakai pakaian kembali Adira lantas berseru.
"Masuk saja, Mama disini"
Eza pun melebarkan pintu untuk sang putra, Elvis langsung berlari ke arah Adira yang tidak ia lihat sejak tadi malam.
Karena hari ini ada rapat para guru maka sekolah pun diliburkan secara mendadak, bocah kecil itu tak pergi ke sekolah dan hanya berdiam diri di rumah.
"El tidak sekolah?" Begitu memangku Elvis di pahanya.
"El libur, soalnya ada rapat semua guru" jelas Elvis.
"Oh ya? Jadi El bisa seharian di rumah bareng Mama"
"Iya" ujar El senang.
Eza ikut duduk di tepi ranjang, lelaki itu malah berdecak sebab kegiatan panasnya telah diganggu oleh makhluk kecil ini, yang biasanya Adira dan Eza yang berebut Elvis, kini Eza dan Elvis yang jadi berebut Adira.
__ADS_1
"Mama kok masih pakai baju tidur?" Elvis terheran.
"O-oh ini, mama kan baru bangun tidur El" ungkap Adira berdusta.
"Mama pasti capek soalnya semalem jagain om Eza!" Sindir Elvis memanas-manasi.
"Enggak kok, mama emang susah tidur semalem" elak Adira cepat.
"Kalau gitu ayo kita mandi bareng!" Ujar El pada sang ibu.
Mata Eza seketika melotot mendengar ajakan Elvis, bagaimana bisa bocah tujuh tahun itu masih tidak sungkan mandi bersama dengan ibunya?!
"Tidak boleh!" Sela Eza tiba-tiba.
"Kenapa? El juga belum mandi kok" merasa kesal pada sang ayah yang ikut campur.
"El kan sudah besar, mana boleh mandi bersama dengan orang dewasa. Lebih baik mandi sendiri atau kalau mau dimandikan saja, jangan mandi bersama" tuturnya panjang lebar.
"Gak apa-apa kan, Ma?" Elvis pada Adira.
Adira tersenyum lalu mengangguk, "Boleh, kalau cuma sesekali"
"Apa?!! Mana bisa seperti itu, kenapa kau mengizinkannya!" Eza tak habis pikir.
"Memang kenapa mas? Tidak masalah, kok"
Eza langsung cemberut, dirinya merasa tak terima setelah apa yang baru saja menimpanya, kini Adira dan Elvis malah bersenang-senang tanpa dia.
***
Sampai keluar pun Adira maupun Elvis masih tertawa ceria bahkan tak mempedulikan keberadaan Eza.
"Hahaha.... Nanti kita mandi bareng lagi ya Ma!" Seru Elvis dengan handuk besar yang melilit tubuh mungilnya.
"Hahaha... Boleh, sekarang El pakai baju dulu ya. Tunggu mama sebentar"
"El pake baju sendiri aja, Mama gak usah anter El, nanti El kesini lagi"
"Ya benar? Mama cuma pakai baju sebentar kok"
"Beneran, Ma. El keluar dulu" akhirnya Elvis pun pergi dari kamar orang tuanya.
Eza berdiri dari sofa dan buru-buru mengunci pintu kamar, kemudian berjalan menghampiri Adira yang tengah memilih pakaian di lemari.
Tanpa aba-aba, Eza membalikkan tubuh Adira membuat wanita itu berada dalam dekapannya.
Hap!
"Mas!"
"Sudah bersenang-senang nya?" Melempar pertanyaan yang seakan menyindir Adira karena telah berbuat sesuatu yang buruk.
"Lepas mas, aku mau pakai baju"
"Kau pikir aku akan melepas mu setelah kalian bersenang-senang tanpa aku?"
"L-lalu mas mau apa?" Mulai berpikiran negatif, pasti Eza menuntut sesuatu darinya.
__ADS_1
Eza menatap lekat Adira, kalimat di ujung lidahnya membuat Eza tiba-tiba ragu, namun terlanjur nanggung Adira sudah ada dalam genggamannya.
"Ayo mandi bersama!"
"Hah?!!" Adira ternganga, benarkah ini Eza? Lelaki dewasa yang tengah merajuk menuntut keadilan yang sama untuknya.
"Mas bercanda?"
"Tidak! Aku serius"
"Aku bahkan sudah mandi"
"Mandi dua kali tidak akan membuatmu sakit" ujar Eza tak menerima penolakan.
Adira tak bisa membayangkan apa saja yang akan mereka lakukan di dalam sana, mandi berdua? Baru pertama kali dirasakan keduanya.
"Ayo, mumpung Elvis belum kembali lagi kesini"
Tangan Eza juga menyangkut pada tali bathrobe yang dikenakan Adira, hanya tinggal menunggu untuk membukanya saja.
"B-baiklah... Tapi jangan lama-lama"
Eza tersenyum penuh kemenangan, "Tentu!"
Pada akhirnya mereka kembali berciuman di bawah guyuran shower yang membasahi sepasang suami istri tersebut.
Sama-sama dalam keadaan polos, tak ada seutas benang pun yang menempel, mereka menikmati sentuhan kulit yang saling beradu.
Namun ada yang membuat Adira kurang nyaman, yaitu sesuatu milik Eza yang mengacung sedari tadi, menempel tepat di atas perut Adira.
"Emmhh.... Jangan mundur terus" gumam Eza ditengah-tengah ciuman itu.
Tak lupa memainkan benda kesukaannya, sedangkan Adira tak tahu harus melakukan apa selain mengalungkan kedua lengan di leher sang suami.
"Tolong dipercepat mas, Ini sudah lebih dari lima belas menit" keluh Adira.
"Sebentar lagi" balas Eza yang tentu saja hanya sekedar omongan belaka.
Ia tak melewati sejengkal pun bagian tubuh atas Adira, dengan sangat tergesa-gesa Eza menyesap terus ke bagian bawah sampai dimana ia berjongkok di hadapan Adira.
Membuka kedua paha sang istri lebih lebar.
"Tidak, mas. Jangan disitu!" Cegah Adira panik.
"Nikmati sayang, aku janji ini yang terakhir" Eza menyeringai, kemudian menenggelamkan wajahnya disana dan membuat Adira menjerit-jerit dengan keras.
"Akhhhhhh..... !!"
Adira bisa merasakan bagaimana lidah Eza bermain di bagian intinya, membelai dengan lembut kacang kecil yang membuat Adira terlonjak setiap saat.
"Aku mau pi pis" rintih Adira setelah Eza bermain cukup lama disana.
"Keluarkan saja, jangan ditahan" memainkan milik Adira dengan jari tangannya.
"Eemmhh..... Emmhh .... Akhhhhhh!!"
Adira pun mendapat pelepasan untuk yang pertama kali, tubuhnya langsung lunglai setelah mencapai puncak, untunglah Eza sigap menahan Adira.
__ADS_1