MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 74


__ADS_3

Eza terbangun setelah merasa badannya fit kembali, ditambah ia sudah kenyang tidur seharian dari kemarin hingga pagi ini.


Ia menunduk kala menyadari jika tubuh bagian atasnya tak dibaluti apapun, dan yang lebih terkejut lagi ketika melihat Adira yang juga ikut setengah ttelanjang sambil memeluk dirinya.


"Ada apa ini? Mungkinkah aku melewatkan sesuatu?" Gumam Eza bermonolog, mengingat-ingat lagi kejadian tadi malam yang tak terselip di otaknya, bisa jadi sebuah adegan tertentu terbentuk ketika Eza sedang tidak sadar.


Adira masih nyenyak menyelami alam mimpi, wajah cantik yang biasanya lebih dulu membuka mata kini nampak lelah seakan baru tertidur beberapa menit lalu.


"Aku yakin aku tak melakukan apapun, pasti Adira yang sengaja melepas baju kami" Eza menduga, tak mungkin ada orang selain mereka berdua, tapi yang jadi pertanyaan untuk apa Adira melakukan hal tersebut?


Tatapan Eza tak bisa lepas dari Adira semenjak terjaga, lebih tepatnya bola mata Eza terus terpaku pada tubuh Adira yang indah permai, nampak indah dan segar, apalagi kulit putih nan mulus seolah menjadi magnet yang membuat siapa saja terpikat.


Pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan luar biasa, siapa yang tidak tergoda? Ditambah setiap saat menahan sesuatu yang bergejolak ketika memeluknya, kini malah sengaja diperlihatkan kemolekan tubuh indah itu.


Jakun Eza naik turun setiap bola mata hitam itu menangkap sesuatu yang memanjakan penglihatan, dua buah aset kembar Adira yang menyembul seolah menantang Eza untuk mencicipinya.


Bolehkah ia? Hanya memegang saja tidak lebih, pasti akan sangat pas di genggamannya! Apalagi Eza seorang pria dewasa yang pernah menikah.


Eza menggeleng mengusir pikiran mesum yang menggerogoti otak para pria, ia segera turun dari kasur dan memakai kembali pakaian, membiarkan Adira tidur dan bangun dengan sendirinya.


Eza keluar menuju lantai bawah, disana orang tuanya serta Elvis baru saja selesai melakukan sarapan, mereka cukup kaget melihat Eza datang.


"Kamu sudah sembuh, Za?" Tanya Arian.


"Iya, pah. Aku sudah baikan" ucap Eza sembari duduk di sebelah Elvis.


"Syukurlah... Kami pikir butuh beberapa untuk kamu pulih"


"Mana Mama?" Seru bocah kecil tersebut.


"Masih tidur" jawab Eza jujur.


"Dia pasti kelelahan, seharian penuh dia menjaga dan merawat kamu. Bahkan Adira menitipkan Elvis pada Mama untuk mengantarnya ke sekolah karena tidak mau meninggalkan kamu, sekhawatir itu Adira padamu" jelas Tari pada sang putra.

__ADS_1


Eza tercenung, benarkah demikian? Ia tak ingat apa-apa kemarin, bahkan ketika pakaian mereka terlepas pun Eza tak ingat. Jika benar demikian pantas saja Adira masih tertidur pulas sampai sekarang.


"Huh... Kasihan Mama, harusnya Mama tidur aja di kamar El biar gak bergadang" ketus El melirik tajam pada ayahnya.


"Itu kemauan Mama mu sendiri El, dia tidak mau meninggalkan Papah mu sama sekali kemarin, apalagi waktu malam hari" Tari meluruskan.


Mendengar itu Elvis makin sebal, rasa cemburu terhadap Eza bertambah hingga menggunung, perhatian Adira benar-benar sudah terbagi karena manusia dewasa di sampingnya tersebut.


Eza diam bergelut dengan pikirannya sendiri, seharusnya ia melihat reaksi Adira ketika merawatnya, Eza sungguh ingin tahu seperti apa wajah khawatir Adira sebagaimana yang diceritakan orang-orang.


"Kamu makanlah dulu, kami sengaja makan duluan karena kami yakin kalian belum bangun tadi" lanjut Tari.


"Iya, Ma" Eza pun lantas mengambil makanan dan tetap sarapan ditemani oleh yang lain.


***


Sekembalinya Eza ke kamar, ia melihat Adira sudah terbangun dan tengah mencarinya di kamar mandi sambil memanggil nama Eza.


"Mas? M-mas dari mana?" Adira mendekat, wajah cemas masih sangat melekat, hal itu dibuktikan lagi dengan Adira yang menempelkan punggung tangan di kening Eza.


"Sudah tidak panas.... Mas sudah merasa baikan?"


Eza tak langsung menanggapi, ia justru menggenggam pergelangan tangan Adira sehingga lengan wanita itu terlepas dari jidatnya, ia melangkah maju mengikis jarak diantara mereka.


"Kau mengkhawatirkan ku?" Tanya Eza.


"Tentu saja, jam berapa mas bangun? Kenapa tidak membangunkan ku? Mas sebaiknya jangan banyak bergerak dulu, minta bantuan ku saja kalau butuh sesuatu" celoteh Adira terus menyemburkan kalimat-kalimat kekhawatiran yang membuat Eza semakin menatap lekat penuh arti.


"Mas sudah sarapan? Kalau begitu ayo minum obat..." Adira hendak melangkah ke arah nakas untuk mengambil obat milik Eza, tetapi belum sempat Adira berbalik Eza lebih dulu menarik lengannya membuat Adira kembali berhadap-hadapan.


"Sepertinya kau memang sengaja menggoda ku" desis Eza, mengkode dengan bola mata yang mengarah ke bawah.


Adira langsung mengikuti kemana arah mata Eza tertuju, dan kemudian Adira pun terbelalak ketika menyadari penampilannya saat ini.

__ADS_1


"A-aku.... Aku bisa jelaskan" Adira tergagap.


"Jelaskan!" Titah Eza.


"T-tadi malam demam mas makin tinggi, jadi aku melakukan metode skin to skin untuk meredakan demamnya, aku... Aku tidak berniat menggoda mas, aku bersumpah!" Sembari mengacungkan jari telunjuk serta jari tengah bersamaan.


"Aku akan pakai baju dulu, tolong lepaskan tanganku" pinta Adira.


Namun tak segampang itu Eza melepaskan mangsanya.


"Apa sebelumnya kau tidak berpikir dulu kalau seandainya aku tergoda? Apa kau akan bertanggung jawab dengan itu?"


"Aku tidak sengaja mas...." Lirih Adira, yang ada di otaknya hanyalah bagaimana Eza bisa sembuh dengan cepat, selebihnya tak ada maksud apapun.


"Aku menginginkan mu sekarang juga!" Mulai memegangi salah satu pipi Adira, serta menunduk guna mendekatkan kedua wajah mereka.


Adira panik, Eza sepertinya nekat untuk melakukan hubungan tubuh detik itu juga.


"Mas.... T-tunggu dulu... J-jangan se..."


Cup!


Eza benar-benar membuang jarak dengan mencium bibir Adira detik itu juga, melepaskan semua dahaga yang ia tampung selama berdekatan dengan istrinya, mencari kepuasan melalui bibir empuk yang terasa lembut ketika beradu.


Adira merasa tersengat listrik beribu-ribu volt, ia membeku tanpa bisa bereaksi apa-apa, ciuman pertamanya kini telah resmi diambil oleh Eza, mungkin kali ini Adira lengah mengawasi gerak-gerik sang suami, kini ia telah tertangkap dan tak bisa lepas.


Lidah Eza terus berupaya masuk untuk mencicipi seluruh rongga mulut Adira, ia terus menggoda bibir sang istri supaya terbuka.


Adira sekuat tenaga menahan serangan pria yang sedang diselimuti gairah tersebut, tapi ia tak mampu ketika Eza menggigit bibir bawahnya.


Saat Adira mendesis disitulah Eza mengambil kesempatan, ia menerobos dan mempertemukan lidahnya dengan milik Adira, membelit kedua benda tak bertulang itu.


"Hmmphh..... Hmmphh.....!" Adira memukul dada bidang Eza sekuat tenaga, tetapi pukulan itu seolah menjadi rayuan yang membuat Eza justru gencar meelumat bibir Adira.

__ADS_1


__ADS_2