
"I-itu....." Nyali Adira menciut, degup jantung bermaraton disertai saliva yang memproduksi lebih banyak.
Adira semakin merapatkan lengannya, mundur beberapa langkah menjaga jarak aman dari jangkauan Eza yang kini menatap seolah ingin menelanjanginya.
"Bukankah tadi Ayah ku bilang jika ia menginginkan cucu dari kita? Ini waktu yang pas untuk membuatnya" seloroh Eza, tanpa menyaring terlebih dahulu kalimat yang keluar.
"T-tapi mas bilang itu terlalu cepat!" Melempar pernyataan yang mungkin bisa melindungi Adira.
"Tadinya begitu, tapi kau juga bilang jika kau tidak akan menolak" serang Eza membalikkan.
"Itu hanya...."
"Kau mau membohongi orangtua ku?" Potong Eza mendekat, membuat Adira mundur ke belakang.
"Tidak mas, a-aku hanya tidak ingin kalian berdebat terus tadi" bantah Adira menggeleng.
"Tapi kau sudah terlanjur memberi harapan pada mereka, kau tega sekali kalau terus berdusta"
Tubuh Adira sampai menubruk meja rias sehingga kedua tangannya bertumpu di pinggiran meja.
Begitupula yang dilakukan oleh Eza, ia mengukung tubuh Adira membuat jarak diantara mereka sangat dekat, bahkan ujung hidung keduanya pun menempel sempurna.
"M-mas...."
"Aku tanya sekali lagi, kau mau memberikan sesuatu yang berharga itu untukku?" Menatap intens wajah sang istri.
Adira menahan nafas yang membuatnya kekurangan sebagian oksigen ke dalam otak, ia tak bisa berpikir dengan baik, ditambah hembusan nafas Eza yang menggelitik pori-pori kulit Adira.
"K-kenapa? B-bukankah mas tidak suka padaku?" Lirih Adira berbalik tanya, ia memohon pada Tuhan supaya Eza tidak benar-benar mengambil hak nya sekarang.
Eza tersenyum miring, ia senang melihat raut ketakutan yang Adira tampilkan. Eza semakin gencar menggoda sang istri.
"Kita bisa melakukannya tanpa harus memakai perasaan" tutur Eza.
Deg!
Adira makin kalut, mungkinkah ini detik-detik ia melepas mahkota yang telah ia jaga selama tiga puluh tahun hidupnya? Sanggupkah Adira memberikan itu pada lelaki yang tidak ia cintai dan tak mencintainya?
Adira memejamkan mata sesaat, mencoba untuk menetralisir detak jantung yang berpacu kencang dan berpikir jernih.
"M-mas..... Mau meminta itu sekarang?" Cicit Adira mengumpulkan keberanian, membuka kembali kelopak mata yang sempat ia tutup.
"Bagaimana kalau iya?"
Eza menggeser kepala sampai berhadapan dengan leher jenjang Adira, memberi kecupan kecil di bagian sana.
Adira mengedikkan bahu ketika merasakan sesuatu yang menggelitik di area yang Eza cium.
__ADS_1
Tidak hanya satu kali, Eza melakukan berulang sampai ke bagian leher depan. Membuat Adira mendongak sampai punggungnya membentuk lengkungan.
Eza kembali mengangkat kepala, melihat reaksi sang istri yang tampak pasrah tak melawan.
Kecupan terus diberikan Eza, kali ini bibirnya berkelana di tulang rahang Adira, mencicipi area wajah bagian bawah sebagai bentuk pemanasan.
Adira merasakan sesuatu yang baru pertama kali ia rasa, hawa panas mulai menjalari sekitaran tubuhnya, apalagi di bagian yang Eza sentuh, sesuatu yang aneh yang tak pernah Adira dapatkan sebelumnya.
Apa ini? Kenapa aku kesulitan untuk bergerak? Aku ingin melawan, tetapi tubuhku tidak sinkron dengan isi otakku.
"Kau menikmatinya?" Ujar Eza disela-sela kecupan yang sedang ia lakukan.
"T-tidak...." Adira terbata, mengelak semua perkiraan sang suami.
"Kau tidak pandai berbohong, Adira" tak percaya.
Kecupan Eza berpindah lagi, lidahnya menjulur kebawah dada, hampir mengenai dua aset berharga milik Adira.
Semerbak wangi wanita itu tercium oleh hidung Eza yang bersentuhan, masuk seolah sengaja menggodanya untuk terus melakukan aktivitas tersebut.
Mungkin niat awal memang bercanda, namun disitulah letak kesalahannya.
Pertahanan Eza mulai mengikis, tubuhnya perlahan memanas, tangannya tak diam seperti tadi, berpindah untuk menjepit pinggang Adira di kedua sisi.
Mungkin sedikit berlebihan tak apa, pikir Eza.
Adira menangis!
Wanita itu terisak dalam diam, air mata mengalir deras tapi mulutnya tertutup rapat, menyembunyikan Isak yang ingin keluar.
Eza tertegun, seketika ia mematung, rasa bersalah menguasai jiwa pria satu anak itu.
Apa yang baru saja ia lakukan?
Ia pasti sudah keterlaluan!
Lengan Eza terangkat, menangkup pipi Adira lalu menyingkirkan buliran bening yang membanjiri wajah istrinya.
"M-maaf....." Kata yang sangat sulit untuk Eza ucapkan mencuat begitu saja, meruntuhkan tembok kokoh di ujung hati yang keras itu.
"Jangan menangis......" Lirih Eza, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meredakan tangisan perempuan didepannya ini.
Adira justru malah menangis kencang, mengeluarkan semua kekhawatiran yang sempat ia pendam, rasanya sangat lega manakala Eza menghentikan aksinya, ketakutan Adira luruh saat kata maaf itu terbit dari mulut seorang Eza.
Eza buru-buru mendekap Adira, Adira menumpahkan air mata di bajunya, tangan Eza bergerak mengelus lembut punggung sang istri.
"Ssttt..Ssttt..Ssttt ...... Aku tidak akan melanjutkannya lagi" bisik Eza.
__ADS_1
"A-aku b-belum siap mas....." Isak Adira.
"Tidak apa-apa, aku mengerti...." Entah setan apa yang merasuki, Eza berubah menjadi sosok lembut yang rendah hati, mengalah disaat hasrat membara tepat di situasi yang pas sebab tak ada yang mengganggu momen mereka .
Adira membalas pelukan Eza, menjadikan dada bidang itu tempatnya mengeluhkan segala sesak, padahal beberapa menit yang lalu ia begitu ketakutan menempel padanya.
Cukup lama Adira menangis, ia pun mengurai pelukan tersebut. Menghapus sisa-sisa cairan yang masih tersemat di pipi.
"Maaf.... Aku jadi mengotori baju mas"
"Jangan pikirkan itu, sudah merasa lebih baik?"
Adira mengangguk, ia jadi malu karena sudah bersikap kekanak-kanakan.
"Mau tidur sekarang?" Seru Eza.
"Iya" dengan suara yang terdengar serak.
"Ayo, kita tidur" Eza menggenggam tangan Adira, membawanya ke ranjang besar tempat mereka melepas lelah.
Adira menurut saja seperti anak itik yang mengekori induknya.
Mereka naik ke atas ranjang berukuran king size dan berbaring disana, menarik selimut sampai sebatas perut.
"Tidurlah.... Kau pasti lelah"
Adira menutup mata yang terasa berat, tetapi seperti ada yang berbeda, dan itu membuat Adira kembali membuka mata.
Ia menoleh ke samping, Eza tengah terlentang memandang langit-langit kamar, kini Adira tau alasannya.
"Mas tidak bisa tidur?"
Eza memutar kepala, tenyata Adira bangun kembali.
"Aku akan tidur, tapi nanti. Agak sulit untukku" ungkapnya.
Adira mengerti, Eza tidak akan bisa tidur pulas kalau tidak dipeluk, haruskah Adira menawarkan? Mungkin bisa menjadi obat untuk menggantikan hak Eza yang tidak Adira beri malam ini.
"Tidak mau dipeluk lagi? Mas bilang aku bisa mengusir mimpi buruk mas" tawar Adira.
"Tidurlah, aku janji tidak akan menganggu mu"
"Mas yakin? Mumpung aku belum berubah pikiran" Adira memastikan.
Eza menatap lama Adira, jujur ia tidak mau membuat Adira merasa tak nyaman setelah kejadian tadi, tapi Eza juga tak bisa mengelak kalau sebenarnya ia sangat membutuhkan Adira.
Akhirnya Eza bergeser, menenggelamkan dirinya di tubuh Adira, dan mereka tidur dengan posisi persis seperti kemarin.
__ADS_1