MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 55


__ADS_3

Semenjak peristiwa menegangkan tadi, Elvis sama sekali tak mau lepas dari Adira, ketika Adira hendak buang air pun Elvis menunggunya di depan pintu toilet.


Sangking takutnya, bocah itu mengekori Adira kemana pun meski hanya satu langkah jarak diantara mereka.


Dan lagi, Elvis terus mendesak Adira untuk berjanji tak akan meninggalkannya. Kalau tidak Elvis mengancam mau mogok makan biar dia sakit sekalian.


Terbukti sampai malam ini tak ada sedikitpun makanan yang masuk ke perutnya, membuat Adira khawatir El bakal tetap nekat dengan aksinya.


"El, makan sayang. Tidak boleh menunda, apalagi El tidak makan siang tadi" bujuk Adira, padahal ia sendiri sudah makan malam bersama yang lain.


"Tapi mama janji dulu gak akan pergi ninggalin El!" Tetap bersikukuh.


Adira menghela nafas, ujung-ujungnya Adira harus berbohong lagi demi kebaikan Elvis.


"Iya, mama janji. Tapi El makan ya"


"Mama serius?"


"Hmm.... Iya"


"Janji?" Menyodorkan jari kelingking sebagai pertanda kesepakatan.


Adira pun mengaitkan jari kelingkingnya dengan Elvis.


Barulah Elvis mau membuka mulutnya untuk dimasukkan sesuap nasi, Adira menyuapi Elvis sampai piring itu benar-benar bersih dari sisa-sisa makanan.


Seperti belum percaya, malam pun Elvis bergadang, takut Adira akan pergi ketika ia tertidur, kalau bisa ia tidak akan memejamkan matanya sampai besok pagi.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh, padahal sudah pukul sepuluh malam, siapa yang mengetuknya?


"Mama buka pintu dulu" Adira bangkit dari ranjang, belum sempat ia membuka pintu, Tari menyembulkan kepalanya.


"Nyonya?"


"El belum tidur?" Gumam Tari dengan suara pelan, melihat cucunya masih terjaga sembari berbaring di kasur besar.

__ADS_1


Adira menengok Elvis yang tak mengalihkan pandangan.


"Belum, Nyonya. Dia bilang tidak akan tidur malam ini" ujarnya.


Tari tersenyum teduh, sebegitunya Elvis mengkhawatirkan Adira.


"Nanti kalau dia sudah tidur, kami mau bicara dengan kamu di ruang kerja suami saya, langsung masuk saja, kami tunggu ya" bisiknya pada Adira.


"Baik, nanti saya kesana" cicit Adira mengiyakan.


Tari lantas kembali menutup pintu kamar.


Adira naik lagi ke atas kasur menidurkan Elvis yang sepertinya sudah mulai mengantuk, Adira menepuk-nepuk bookong putranya agar lebih cepat tertidur.


Setengah jam kemudian Elvis benar-benar memejamkan mata, dengkuran halus menandai seberapa pulasnya Elvis.


Adira bangun perlahan-lahan agar tak mengusik malaikat kecilnya, setelah memastikan Elvis tidak akan terbangun Adira pun keluar dari kamar itu.


Adira berjalan tegang menuju ruangan Arian, Adira sudah bisa menebak kenapa dia disuruh pergi ke sana, tak lain dan tak bukan pasti soal permasalahan tadi, Adira paham hal tersebut tak bisa dibiarkan.


Adira mengetuk pintu sekali, langsung terdengar sahutan dari dalam, setelah mendapat jawaban masuk ia pun membuka pintu dengan hati-hati.


Adira masuk, tak lupa menutup pintu kembali.


Tari menepuk sofa di pinggirnya, mengkode Adira untuk ikut duduk. Adira yang paham pun berjalan mendekat, bergabung dengan keluarga Gibson.


"Elvis sudah tidur?" Tanya Tari memastikan.


Adira mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Baiklah, kita mulai saja. Maaf sebelumnya menganggu waktu tidurmu, kamu pasti lelah seharian menghadapi Elvis" seru Arian membuka sesi pembicaraan.


"Tidak, Tuan. Saya tidak apa-apa" elak Adira.


"Oke kalau begitu, kami harap diskusi kita kali ini bisa berjalan dengan damai dan tidak ada yang terpancing emosi seperti sebelumnya" tutur Arian menyindir lelaki di sebelahnya yang hanya mendelik mendengar sindiran tersebut.


"Sebelumnya kami ingin bertanya lebih dulu pada kamu"

__ADS_1


"Apa yang membuat kamu berat untuk tetap disini bersama Elvis? Apa mungkin karena kamu tidak nyaman dengan kami, atau mungkin kamu tidak suka dengan Eza yang selalu bersikap tidak sopan dan seenaknya? Kami ingin jawaban jujur darimu, siapa tau kami bisa memperbaiki salah satunya"


"Tidak apa-apa, jangan takut kalau memang itu benar" tambah Arian.


Adira terus menurunkan pandangan ke bawah, ia memang tidak nyaman dengan Eza, tetapi itu masih jauh dari alasan kenapa ia harus pulang ke rumahnya meski merelakan Elvis yang memohon agar ia tetap disini.


"Saya harus melanjutkan hidup saya disana, Tuan. Saya tidak bisa terus berada dalam keluarga orang lain, sedang saya sendiri harus membangun kembali masa depan dari nol lagi setelah apa yang saya rencanakan harus terhenti tanpa adanya kesiapan terlebih dahulu"


"Tadinya saya sudah lega karena telah melihat langsung dimana dan seperti apa kehidupan Elvis yang baru"


"Elvis sudah memiliki keluarga yang layak dan menyayanginya, tetapi tidak dengan saya, saya kehilangan dunia saya, maka dari itu saya harus kembali demi menyusun kehidupan untuk kedepannya"


Jelas Adira tak ada yang ia lewatkan, berharap semua orang mengerti dan tak menganggapnya egois karena telah mengambil langkah ini.


"Kamu akan menikah?"


"Tidak untuk sekarang, karena saya juga tak memiliki calon ataupun kekasih. Namun saat ini, saya sudah mulai memikirkan hal tersebut" lirih Adira penuh keteguhan, sesuatu yang dulunya selalu ia singkirkan dan lupakan, lama-lama menjadi sesuatu yang mendesak batinnya.


"Berarti kamu sudah sangat siap berpisah dari Elvis?"


"Saya tak akan pernah siap untuk itu, tetapi saya tak mau menutup mata, Elvis akan beranjak dewasa dan memiliki keluarga kecilnya sendiri, begitupun dengan saya yang ingin hidup berdampingan dengan orang-orang yang saya cintai. Usia saya sudah sangat matang, saya harus kembali untuk melanjutkan rencana hidup saya selanjutnya" ungkap Adira.


Mungkin sudah waktunya Adira memikirkan tawaran dari pria-pria yang serius padanya, Adira masih perawan dan ia tak mau kesuciannya hilang jika terlalu lama menyendiri, jika hal itu terjadi hanya akan ada hal buruk yang selalu mendekatinya.


Adira akan tetap menyayangi Elvis, tak akan pernah kurang sedikitpun meski suatu saat ia memiliki anak dari rahimnya sendiri, Elvis akan tetap menjadi anak pertamanya.


"Saya tau Elvis tak ingin lepas dari saya, tapi saya tidak bisa terus-menerus disini, ini bukan rumah saya, akan selalu ada keinginan untuk pulang. Kalian sangat baik dan saya nyaman dengan itu, tapi beribu maaf saya tetap pada pendirian saya"


Tari terlihat sangat keberatan dengan pilihan Adira, bukannya tidak menghargai, tapi ia sendiri sudah dibuat nyaman dengan keberadaan Adira.


"Apa tak ada cara lain, Ra? Jujur kami belum siap kamu pergi"


"Andaikan saja ada, tapi sayangnya saya belum menemukan cara itu" balas Adira.


Disela-sela kesedihan yang melanda, Eza yang sedari tak mengeluarkan suara, mendadak berdiri dan menatap nyalang wanita didepannya.


Arian dan Tari langsung dibuat gusar, mereka mengambil ancang-ancang barangkali Eza terbawa emosi.

__ADS_1


Tetapi sesuatu yang tak pernah mereka duga justru keluar dari mulut seorang Eza.


"Ayo kita menikah!"


__ADS_2